Pesan Diterjemahkan

8 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Kultukal

Mejuah-juah! Apa kalian punya kabar, kerabat-belajar bahasa LIDAHIBU? Baru satu edisi tidak hadir setelah edisi percobaan #6 lalu, encik dosen sudahlah merindu-dendam. Bahagia sekali rasanya dapat menyapa karib-karib penyuka bahasa di edisi percobaan #8 ini.
Encik dosen mendengar bahwa tatanan ruang dan wajah LIDAHIBU sudah berubah di edisi percobaan #7 kemarin, benar begitu? He-he-he. Baik juga perubahan itu. Biar encik dosen dan karib-karib sekalian tidak jemu dan semakin dapat menikmati sajian perkuliahan singkat ini.
Kalau di edisi percobaan #6 lalu encik dosen sudah memaparkan tujuh kalimat dibya yang menjelaskan perihal ‘pengiriman’, ‘pengoperan’, dan ‘penerimaan pesan’, sesuai janji encik, kali ini akan hadir tujuh kalimat baru yang memuat pengetahuan tentang bagaimana pesan yang sudah terbingkis itu diterjemahkan oleh pendengar. Dengan hadirnya tujuh kalimat baru di kesempatan kali ini, maka berakhir pula pokok bahasan tentang sebelas tahap penyandian dan penerjemahan pesan dalam berbahasa. Esok, encik akan sajikan pokok bahasan yang baru, dan pastinya tidak kalah merangsang rasa ingin tahu. Baiklah, langsung saja encik mulai. Inilah dia KULTUKAL edisi percobaan #8.
[1] Proses penerjemahan sandi (pesan) yang sudah dikirimkan oleh pewicara dapat dikelompokkan menjadi tiga: penerjemahan fonologis, gramatika, dan semantik.
[2] Hal ini hanya dapat dilakukan jikalau pendengar juga memiliki perangkat penyandian yang sama dengan pewicara – artinya, pendengar menguasai bahasa yang sama seperti yang digunakan oleh pewicara.
[3] Pada dasarnya, dalam proses penerjemahan sandi (pesan), yang dilakukan oleh pendengar adalah mencocokkan apa yang ia dengar dengan pengetahuan-bahasa yang ia miliki (kefasihan fonologis, gramatika, dan semantiknya).
[4] Ketika menerjemahkan sandi (pesan), alih-alih saklek berurutan (penerjemahan secara fonologis, gramatika, lalu semantik), pendengar melakukan proses penerjemahan secara ulang-alik, sembari memungut setiap tanda yang ia temukan.
[5] Hal ini dapat dimengerti lewat contoh kalimat yang memiliki dwi lingga salin suara (kata homofon): ketika pendengar mendengar lema ‘bisa’ (yang dalam Bahasa Indonesia memiliki dua makna), ia hanya dapat memastikan makna gugusan fonem /b-i-s-a/ lewat konteks semantik kalimatnya -> “Saya bisa melakukannya,” berbeda makna dengan “Anak itu tersengat bisa ular.”
[6] Dalam tataran tata-bahasa (gramatika), pendengar juga dapat menyerap beberapa pesan semantik yang terwakilkan oleh satu bentuk tata-bahasa saja.
[7] Contohnya: dari kalimat bertata-bahasa “Ibu itu cemas oleh berita tentang anaknya yang hilang di gunung,” seorang pendengar mampu mengerti beberapa informasi, seperti “Ibu itu cemas”; “Ada sesuatu berita tentang anaknya”; dan “Anak ibu itu hilang di gunung.”
Ini adalah akhir dari Kuliah Tujuh Kalimat LIDAHIBU edisi percobaan #8. Semoga berfaedah bagi karib-karib semua, meskipun kurang menghibur cara penyampaiannya. Sampai berjumpa di KULTUKAL berikutnya, dengan pokok bahasan baru yang dijamin terjaga kualitas faedahnya. Salam Jilat! (gtg)

Sumber Bacaan: Artikel The Nature and History of Linguistics, karangan William G. Moulton; maktub dalam kumpulan artikel Linguistics (penyunting: Archibald A. Hill), Voice of America Forum Lectures, 1969.

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar