Apa itu Bahasa?

15 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Kultukal

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

Pokok pembicaraan yang akan kita bahas di rubrik Kultukal ini adalah BAHASA. Nah, seperti judulnya, rubrik ini mengupas topik bahasan dalam sebuah kuliah, yang disajikan dalam tujuh kalimat saja. Kenapa tujuh kalimat? Karena judulnya Kultukal, kalau sembilan kalimat, entar judulnya Kulsemkal, dong. Nggak asyik, ah. Jangan bergidik ngeri mendengar kata “kuliah”, ya. Kuliah yang ini beda, menyenangkan pula. Dan yang paling yahud, nggak ada tugasnya. Hahaha… Jadilah pembaca yang baik, dan silahkan menyantap kuliah kali ini.

[1] Bahasa berbeda dengan bahasa (perhatikan penggunaan huruf kapital pada {b}).

[2] Bahasa adalah sebuah pola sambung-wicara manusia yang mempunyai sistem yang rumit dan lentur, sedangkan bahasa adalah pola sambung-wicara yang berada diluar lingkup definisi Bahasa (bahasa yang digunakan oleh binatang adalah salah satu contohnya).

[3] Kemampuan berbahasa, bagi manusia, tidak “diwarisi” secara genetik - yang diwarisi secara genetik adalah kemampuan berbicara dan memahami - melainkan secara budaya, artinya Bahasa itu dipelajari, bukan diwarisi.

[4] Yang dimaksud dengan budaya di sini adalah “budaya” dengan pengertian Bahasa sebagai “bagian dari keseluruhan lingkup kebiasaan yang dipelajari dan dialami.”

[5] Maka dari itu, tidak sepenuhnya benar kalau ada yang mengatakan bahwa budaya “sederhana” menetaskan Bahasa yang “sederhana”; dan budaya “maju” melahirkan Bahasa yang “maju” pula, karena kualitas kerumitan dari bahasa yang ada di Amazon atau di Alaska sekalipun setara dengan bahasa yang ada di Eropa (buktinya adalah bahwa tata bahasa dan sistem bunyi dari Bahasa dari budaya “sederhana” itu dapat berubah menjadi lebih rumit dibandingkan dengan Bahasa dari budaya “maju”; dan, bahkan, kosakatanya dapat diturunkan menjadi ribuan varian yang mempunyai kekhasan maknanya masing-masing, contohnya: orang Eskimo punya banyak kosakata untuk menyebut salju).

[6] Dalam Bahasa, ada dua unsur yang sangat penting - bunyi dan makna - tapi dua unsur ini hanyalah unsur kasatmata dari Bahasa; Bahasa bukanlah dua unsur ini, melainkan koneksi antara bunyi dan makna.

[7] Ada sebelas tahap yang dapat digunakan untuk memahami koneksi antara bunyi dan makna dalam Bahasa: tahap 1-3 adalah Pengkodean Semantik, Pengkodean gramatika, Pengkodean fonologi; tahap 4-8 adalah proses Pengiriman, Transmisi, dan Penerimaan; dan tahap 9-11 adalah proses Penerjemahan secara Fonologi, Tata Bahasa, dan Semantik.

Ini adalah akhir rubrik Kultukal suratkabar LidahIbu edisi percobaan #1. Di edisi selanjutnya akan kita bahas tentang sebelas tahap pemahaman koneksi bunyi dan makna. Sampai bertemu di Kultukal selanjutnya.

___________

Sumber Bacaan: Artikel The Nature and History of Linguistics, karangan William G. Moulton; termaktub dalam kumpulan artikel Linguistics (penyunting: Archibald A. Hill), Voice of America Forum Lectures, 1969.

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar