bhs sms, bhs ank muda

15 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

Oleh Gideon Widyatmoko

Hoh..Meri meri kristmez..en hapi nu yah..tu tawsen en nain..den hapi hapi holidai

25 Desember 2008 pukul 02:18:56

0857295989xx

Salam Jilat!

Ada yang masih bingung dengan pesan singkat di atas? Hari gini masih bingung bahasa SMS? Please, dech!

Wati (bukan nama sebenarnya), seorang kerabat yang sedang pulang kampung, mengirimkan pesan singkat tersebut ke telepon genggam saya. Pada detik-detik awal, saya masih sedikit bingung dengan isi pesannya, terlebih pada bagian “tu tawsen en nain”. Untungnya, saya segera sadar. Jika saya jabarkan, bunyi pesan singkat tersebut seperti ini: Hai, Merry Christmas and Happy New Year 2009, and Happy Holiday. Nah, buat kamu-kamu yang masih merasa sedikit aneh membaca pesan singkat di atas, mari kita lihat satu pesan singkat lagi, yang juga dikirim ke telepon genggam saya.

Yuhuu..!Happy krismes n merry natal buat you yey!Pake topi sinterklas gih.He?Ga pny?Bli dulu dunk..G jg ga pny si pdhl!Haha..Wez,pokoe slamet natal yo!

25 Desember 2008 pukul 12:12:22

0812271277xx

Bagaimana? Pesan singkat yang kedua yang dikirim oleh Susi (bukan nama sebenarnya) itu menurut saya lebih menarik. Soalnya, pesan itu menggabungkan beberapa bahasa: ada Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Betawi, Bahasa Jawa dan bahasa ‘gak jelas’. Untuk Bahasa Indonesia ada ‘buat’ dan ‘topi’. Bahasa Inggris ada ‘you’, ‘happy’, ‘merry’. Bahasa Betawi ada ‘pake’, ‘ga’, ’slamet’ dan ‘G’ (maksudnya gue). Bahasa Jawanya ada ‘wez’ (maksudnya wis atau ’sudah’ dalam Bahasa Indonesia). Bahasa ‘gak jelas’-nya ada ‘yey’. Yang saya maksud dengan bahasa ‘gak jelas’ di sini adalah bahwa ada dua kemungkinan makna. Yang pertama, kata ‘yey’ diambil dari Bahasa Belanda je, yang artinya ‘kamu’. Sewaktu saya kecil dulu, saya sering bercanda dengan kakak saya dengan menggunakan ik, yang artinya ’saya’, dan je, yang artinya ‘kamu’. Jadi kalau kami ngobrol ya pakai bahasa campuran. Misalnya, “ye jangan ambil-ambil bakso éke gitu, dong”. Namun, sekarang éke dan ye lebih banyak digunakan untuk menonjolkan sisi ‘wanita’ seseorang; dan banyak digunakan di kalangan waria. Untuk kemungkinan kedua, yey di pesan singkat tersebut berarti ‘ya’, digunakan untuk penegasan: Selamat natal, ya.

Bagi saya, tidak terlalu sulit untuk memahami pesan singkat itu, tetapi ayah saya pasti sangat kesulitan membacanya. Selain karena tulisan di telepon genggam memang sangat kecil dan matanya mulai sedikit rabun, bahasanya juga tidak akrab bagi dia. Teman SMS-nya sebagian besar seumuran dia (50 ke atas); dan tidak pernah dia temui SMS yang seperti itu. Sebagian besar SMS yang dia terima pasti menggunakan bahasa yang lebih resmi. Kalau Susi ingin mengirimkan SMS itu kepada ayah saya, bentuknya akan seperti ini: “Selamat siang. Selamat Natal untuk Anda sekeluarga. Silahkan pakai topi sinterklas. Apa? Tidak punya? Belilah dahulu…saya juga tidak punya, kok! Tidak mengapa. Yang penting Selamat Natal, ya!” Kalau saya menerima SMS seperti itu, justru saya yang akan tambah bingung - maksudnya apa jugak suruh-suruh pakai topi sinterklas?!

Sepertinya bahasa SMS memang sedikit sulit untuk diterima oleh para orang tua (mungkin saja bahasa SMS adalah bahasanya anak muda). Dulu pernah saya dapat SMS dari ayah saya, saya sudah lupa persisnya tanggal berapa, sudah dihapus SMSnya. Begini kira-kira bunyinya:

Ayah: Ok, jangan pulang malam-malam, besok pagi bisa tidak antarkan bapak ke Gamping, bapak mau ke Jakarta.

Saya: Maap,pak, gak bisa angkat telpon, td lagi djalan ke PMI Kotagede. Iya, besok aku antar ke Gamping.

Oh, iya, sebelum ayah saya SMS, beliau sudah menelpon saya, tapi tidak saya angkat. Terus dia balas lagi SMS saya, begini:

Ayah: kamu bisa tidak sedikit sopan sama orangtua, bahasamu itu tidak sopan sekali. Ya udah, jangan malam-malam pulangnya.

Nah, loh! Seketika saya terkenyut, eh, maksud saya terkejut. Memang ada yang salah ya dengan cara saya ngebalas SMS? Saya balas lagi saja:

Saya: maaf pak, saya tidak punya maksud kasar sama sekali, saya sedang di jalan menuju PMI, saya mau donor, ada orang yang butuh darah saya, jadi saya tidak bisa menjawab telepon bapak. Besok pagi akan saya antar bapak ke Gamping. Terima kasih dan maaf kalau saya kasar, sama sekali tidak ada maksud begitu.

Itulah yang terjadi dengan saya dan ayah saya. Hwarakadah, saya pikir SMS saya pertama pada ayah saya itu sudah sopan dan tidak melanggar tata krama dan sopan santun, tapi ternyata tidak seperti itu. Jelas terlihat di sini kalau bahasa SMS ternyata tidak begitu akrab dan berkenan di hati ayah saya. Saya pun kemudian hari, ketika mengirimi ayah saya SMS, lebih memilih menggunakan bahasa tulis yang sangat hati-hati dan tidak disingkat-singkat. Ayah, Anda sudah tua.

Inilah yang marak terjadi di dunia layanan pesan singkat, atau yang lebih akrab disebut Short Message Service atau SMS (dasar, sok inggris!). Bahasa tulis SMS dan surat sangat jauh berbeda. Jika pada SMS lebih banyak kata yang disingkat, pada surat jarang sekali kita temukan penyingkatan kata seperti itu. Mungkin bahasa tulis SMS lebih mirip dengan bahasa tulis Telegram. Ada yang masih ingat dengan Telegram? Ya, Telegram adalah salah satu jasa layanan yang diberikan oleh sebuah perusahaan telepon untuk pelanggannya yang ingin mengirimkan pesan tulis secara singkat dan cepat kepada kerabatnya maupun bukan kerabatnya. Penggunaan kata-kata dalam Telegram banyak yang disingkat karena biaya pengirimannya dihitung per abjad. Saya tidak tahu berapa harga per abjad-nya, tapi jauh lebih mahal pastinya daripada mengirmkan SMS. Apalagi kalau yang dikirimi telegram berada ratusan ribu kilometer jauhnya…ckckck. Metode tarif Telegram ini sekarang digunakan juga oleh perusahaan telepon E**A, dengan tarif pengiriman pesan per abjad. Satu abjad harganya Rp 1. Jadi, semakin sedikit yang saya ketik, ya semakin murah saya membayar. Hal ini, saya pikir, semakin membuat banyak orang mengirimkan pesan lebih singkat lagi. Mari kita lihat contoh SMS lainnya yang dikirim kepada saya. Kali ini, oleh teman saya, Yoyok (nama sebenarnya).

ok,latny nt kan jm 6 dswa?

27 Desember 2008 pukul 17:10:37

0852285470xx

Hayooo, coba sederhanakan SMS dari Yoyok itu. Ada yang bisa? Jadi begini, pada hari itu saya dan Yoyok janjian untuk latihan di studio musik bernama Swa pada pukul 6 sore. Saya mahfum bahwa Yoyok lebih memilih untuk mengetik pesan-singkat dengan betul-betul singkat daripada jempolnya pegal dan boros waktu untuk mengetik: “Ok, latihannya nanti kan, jam 6 di studio Swa?

Kata ‘ok’ di atas maksudnya adalah nama panggilan saya. Bagaimana saya bisa tahu maksud SMSnya sementara ada pembaca yang tidak tahu? Nah, ini bisa disebut keintiman yang hadir melalui Layanan Pesan Singkat. Bahasanya sangat intim. Bahasa yang terdapat dalam pesan singkat itu seringkali hanya dapat dimengerti oleh si pengirim dan yang dikirimi. Coba saja, buat yang tidak tahu nama kecil saya, pasti mereka membaca kata ‘ok’ di awal pesan dengan makna berbeda dengan maksud yang ingin diutarakan Yoyok. Iya kan? Hayo, ngaku! Nah, jika saya melihat kembali apa yang sudah saya lalui bersama dosen saya dalam kuliah Pragmatik, SMS dari Yoyok ini melanggar yang namanya Maksim Cara (Maxim of Manner) karena kalimat ditulis taksa alias ambigu. Untuk menghindari pelanggaran Maksim Cara, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan: hindari ekspresi yang tidak jelas, hindari ketaksaan (ambiguitas), utarakan dengan singkat, jelas, dan padat.

Agar lebih seru lagi pembahasan kita, mari kita lihat contoh percakapan SMS yang berikutnya, antara saya dan Jodi (nama sebenarnya). Dalam pesan itu, saya memberikan pilihan pada Jodi agar dia dapat memberi saran pada saya barang mana yang akan saya beli. Begini percakapan lengkapnya,

Jod,ni pilihanya: VGN -CR353 intel core2duo T8100(2.1GHz,3MB L2C,800MHz) 2GB DDR2,250 GB HDD/ATI mobility Radeon  X2300

VGN-CR323/intel dual core T2390 (1.86 GHz,1MB L2C,533MHz)/1GB DDR2,200GB HDD/intel X3100

4 Januari 2009 pukul 23:38:24

0818027274xx

yg pertama kali ya,

4 Januari 2009 pukul 23:39:20

0859274624xx

maksudnya yang pertama kali ya?

4 Januari 2009 pukul 23:40:27

0818027274xx

yap

5 Januari 2009 pukul 00:04:39

0859274624xx

maksudnya yap tuh apa ya, kok cm yap doang.Yang pertama kedua atau ketiga?

5 Januari 2009 pukul 00:05:44

1

5 Januari 2009 pukul 00:06:11

0859274624xx

Setelah saya baca ulang, kok sepertinya ini percakapan SMS antara orang lemot dan orang ogah-ogahan, ya? Setidaknya ada dua maksim yang dilanggar dari percakapan SMS antara saya dan Jodi. Yang pertama adalah Maksim Relasi. Pelanggaran Maksim Relasi tampak ketika saya menanyakan maksud dari kalimat Jodi, ‘maksudnya yang pertama kali yak?’ Eh, tak dinyana, Jodi malah menjawab, ‘yap’. Sudah sangat jelas ketika saya bertanya maksud, maka yang saya ajak berkomunikasi akan memberikan penjabaran arti, bukan hanya sekedar tanggapan singkat ‘yap’, yang justru memberikan penegasan. Ada satu cara mudah untuk menghindari terjadinya pelanggaran Maksim Relasi, yaitu dengan menjaga tuturan agar tetap penad (relevan) dengan konteks yang sedang dibicarakan. He-he-he, terlalu mudah ya caranya? Ya, mau gimana lagi?

Selain pelanggaran Maksim Relasi, ternyata pada bagian itu juga ada pelanggaran Maksim Kuantitas karena Jodi tidak memberikan informasi yang cukup agar dapat saya mengerti, terbukti dengan SMS saya berikutnya yang menuntut penjelasan lagi. Tidak sulit untuk menjaga agar tidak melanggar Maksim Kuantitas: yang penting, berikan informasi tidak kurang dan tidak berlebihan.

Ada satu Maksim lagi, yaitu Maksim Kualitas. Mudah saja untuk menjaga agar tidak melanggar Maksim yang satu ini, yaitu dengan tidak mengatakan apa yang tidak benar, alias berbohong, dan juga dengan tidak mengatakan fakta yang tidak kita ketahui bukti-buktinya. Jadi, jangan ngawur dan asal ngasih jawaban. Harusnya, sertakan juga bukti yang kuat dan mendukung. Tapi, saya tidak bisa memberikan contoh SMS yang melanggar Maksim Kualitas. Maklumlah, saya kan tidak pernah bohong. Ha-ha-ha, padahal dari kalimat barusan saja sudah ketahuan kalau saya berbohong - berdusta!

Contoh mudahnya begini, Ayah saya bertanya lewat SMS, “posisi dimana, sudah malam nih, pulanglah, nak.” Saya pasti dengan mudah dan mutlak membalas SMSnya seperti ini, “Iya pak, setengah jam lagi pulang, ini sedang mengerjakan proyek dari kampus.” Sudah jelas saya lagi pacaran, tapi kok malah bilang kalau lagi mengerjakan proyek dari kampus? Ditambah lagi, saya juga mungkin baru pulang dua jam kemudian menunggu ayah saya tidur agar saya tidak diomelin sewaktu sampai di rumah. Kemudian, besoknya saya bangun siang dan menunggu ayah saya pergi, baru saya mandi dan pergi lagi, sampai malamnya beliau mengirimi saya SMS yang sama dan saya juga membalas dengan isi SMS yang sama juga. Hal ini berlanjut selama satu minggu penuh, dan saya baru bertatap muka dengan ayah saya pada hari minggu. Ha-ha-ha-ha.

Ya seperti itulah bahasa SMS yang tidak lain dan tidak bukan adalah bahasa lisan yang ditulis dan disingkat melalui media telepon genggam. Ketika sedang mengirimkan pesan singkat melalui telepon genggam, kita seringkali terganggu dengan tombolnya yang hanya ada 8 buah untuk 26 abjad - jadi satu tombol bisa untuk mengaktifkan 3 sampai 4 abjad sekaligus. Misalnya saya ingin menulis kata ‘begini’, maka saya akan mengalami jeda ketika ingin menulis huruf ‘g’ dan ‘i’ karena dua huruf tersebut berada dalam satu tombol yang sama. Harus menunggu sekian detik untuk dapat menekan fungsi tombol ‘i’. Saya dan beberapa orang cenderung melewatkan huruf ‘i’. Jadi, yang terketik hanya ‘begni’, dan saya yakin maksud saya sampai. Selain itu, operator telepon seluler biasanya mengenakan tarif SMS per lembar. Per lembarnya biasanya terdiri dari 160 karakter. Nah, agar saya tidak membayar harga ganda, saya akan berusaha mati-matian untuk mengirimkan pesan dalam satu lembar saja. Oleh karena itu, saya selalu berusaha menyingkat kata-kata di dalamnya. Biasanya yang menjadi korban adalah huruf vokal.

***

Roy Suryo, seorang yang konon pakar teknologi informasi, pernah berujar seperti ini, “Telepon seluler luar biasa merusak bahasa Indonesia. Begitu juga pengguna internet, juga banyak yang merusak bahasa,” (saya kutip dari blog Cabik Lunik yang dipasang oleh Udo Z Karzi pada tanggal 31 Oktober, 2008). Saya sedikit tergelitik membaca kutipan tersebut karena saya tidak menemukan bagian mana dari bahasa Indonesia yang luar biasa dirusak oleh telepon seluler. Toh, bahasa SMS juga menggunakan Bahasa Indonesia. Hanya saja ketika kita mengirimkan SMS, kita menggunakan kalimat Bahasa Indonesia yang disingkat. Hal ini untuk menghemat biaya pengiriman dan waktu. Kasus ini sama halnya ketika kita secara ostosmastis membedakan penggunaan Bahasa Indonesia dalam percakapan dan dalam surat menyurat. Jadi semua itu hanya masalah penggunaan bahasa yang berbeda dalam media yang berbeda, bukan berarti  merusak Bahasa Indonesia. Sepertinya sedikit berlebihan Roy Suryo ini menanggapi pelanggaran maksim pragmatik dalam bahasa SMS.

Roy Suryo, yang konon sebagai pakar Teknologi Informasi, pasti juga pemakai internet dan telepon seluler yang aktif, mengalahkan mahasiswa yang maksud-hati-mencari-bahan-skripsi-tapi-tergoda-untuk-chatting (curhat). Jangan-jangan, sebenarnya Roy Suryo sedang meratapi diri sendiri waktu ngomong itu karena perkataannya juga berarti bahwa dia juga termasuk orang yang merusak bahasa Indonesia. Mungkin maksud Roy Suryo seperti ini: “penggunaan telepon seluler, apalagi untuk SMS, tentu saja lebih banyak menggunakan bahasa yang tidak formal karena banyak singkatan dan melanggar maksim-maksim. Anak muda, sebagai penerus bangsa (harusnya pembaharu bangsa), yang kini justru semakin akrab dengan yang namanya SMS dan chatting lewat internet, semakin mengikis penggunaan Bahasa Indonesia yang baku. Jika keadaan seperti itu terus berlanjut, Bahasa Indonesia akan semakin kehilangan jati dirinya dan akan jarang digunakan dengan layak dan benar.” Saya kemudian membayangkan Roy Suryo kemudian menutup kalimatnya begini, “Skian dr q, kl da prtnyaan, slhkn dtnda mpe sesi tny-jwb ntar.” Gdubrak!!!!

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Satu komentar
Berikan komentar »

  1. ayo ciptakan kreativitasmu dalam berbahasa biar pada mumettt…

    anne did not rate this post.

Berikan Komentar