“Dari Katabelece Sampai Kakus” dan “The Story of Language”

15 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Pustaka Gokil

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

Satu, dua, dan tiga, kumulai membaca…

–Surat Cinta, Vina Panduwinata–

Dirgahayu, pembaca suratkabar LIDAHIBU. Selamat datang di rubrik Pustaka Gokil. Ruang ini kami sediakan sebagai wadah informasi seputar pustaka-pustaka bahasa yang menarik, menantang, menggairahkan, mencuat, dan, tentu saja, gokil! Untuk edisi percobaan #1 kali ini, redaksi menghadirkan dua judul pustaka beserta ulasan singkat nan padat, yang dapat pembaca jadikan pengantar untuk mengenal pustaka tersebut lebih lanjut. Oh, ya, sebelum membaca, jangan lupa menyanyikan lirik Surat Cinta di atas, ya. Satu, dua, dan tiga, kumulai membaca…

Pustaka Pertama

Judul                                     : Dari Katabelece sampai Kakus (Kumpulan Kolom Bahasa Kompas)

Penyunting                         : Nuradji

Penerbit                              : Penerbit Buku Kompas

Tahun Terbit                      : 2003

Kota Terbit                          : Jakarta

Jumlah Halaman               : xxvi + 234 halaman

Ulasan

Buku ini berisi 47 (empat puluh tujuh) tulisan yang dulunya pernah dimuat di Kolom Bahasa Kompas. Motivasi penerbitan tulisan-tulisan tersebut dalam bentuk sebuah “kumpulan” didasari pada ramainya perbincangan mengenai bahasa jurnalistik di Indonesia: “[s]elama puluhan tahun, yang ramai dipersoalkan adalah bahasa pers dianggap sebagai bahasa yang tak terpelihara dan rusak.” Tak dapat disangkal bahwa media massa berperan besar dalam menyetir tata-tutur masyarakat. Contohnya saja kata seronok. Adalah berkat media massa bahwa satu kata tersebut mengalami tambahan (pergeseran) makna. Seronok, yang sedianya bermakna ‘menyenangkan hati’ dan ’sedap dilihat’ (lihat KBBI), kini digunakan dengan pemahaman makna ‘tidak senonoh, tidak sopan, tidak patut dalam berpakaian, bersifat merangsang emosi atau berahi.’ Bah!

Cara-ucap yang digunakan mereka-mereka yang berada di dunia politik, hiburan, bisnis, teknologi, dst. dsb., yang semuanya itu direkam setiap hari oleh pers, menjadi populer di mata masyarakat, dan parahnya lagi, bahasa pers dianggap sebagai bahasa yang ‘baik dan benar.’ Benarkah? Dari Katabelece sampai Kakus mengupas dengan asyik gejala-gejala bahasa ini.

Pusaka Kedua

Judul                                     : The Story of Language

Pengarang                          : C. L. Barber

Penerbit                              : Pan Books

Tahun Terbit                      : 1972 (edisi ke-5)

Kota Terbit                          : London

Jumlah Halaman               : viii + 294 halaman

Ulasan

Buku The Story of Language yang LIDAHIBU ulas kali ini adalah edisi kelima, yang, seperti diakui oleh pengarang dan penerbitnya, telah mengalami revisi mendalam dari empat edisi sebelumnya. The Story of Language adalah sebuah buku yang mengungkap sejarah bahasa beserta proses perubahan yang tak henti terjadi terhadap bahasa (apapun itu). Buku ini sangat cocok untuk pembaca awam (bukan akademisi linguistik) karena dihadirkan dengan bahasa yang sangat renyah. Meskipun ditulis dalam bahasa Inggris, dan sampai sekarang redaksi belum bisa melacak terjemahan bahasa Indonesianya, namun, The Story of Language bertutur dengan bahasa Inggris yang “penuh pengertian.” Buku ini menjawab pertanyaan sekitar: apa itu bahasa?; asal-muasal bahasa serta penemuan tulisan; teori-teori tentang terjadinya bahasa; diskusi tentang rumpun bahasa, dan masih banyak lagi. Sepertiga isi buku membahas cerita tentang bahasa secara umum (tidak mengacu pada satu bahasa tertentu). Meski demikian, duapertiga sisanya mengupas habis tentang bahasa Inggris (dari bahasa Inggris Tua, masuknya pengaruh bangsa Viking, Norman, casciscus…sampai ramalan tentang bahasa Inggris di hari esok).

Memang ada sejumlah kosakata teknis linguistik yang dipakai dalam narasi buku ini. Akan tetapi, pembaca tak usah khawatir. Di halaman belakang buku sudah tersedia kamus kecil tentang istilah yang dipakai.

Meskipun sudah bisa dikatakan buku tua  mengingat 1964 adalah tahun pertama terbitnya, tapi The Story of Language tetap asyik dijadikan bacaan penghibur rasa ingin tahu tentang cerita masa lampau tentang bahasa.

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar