Hari Raya Keagamaan dan Sumbangan Ungkapan bagi Bahasa Indonesia

15 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

Hampir seminggu sudah berlalu sejak umat Islam Negara Bahasa Indonesia merayakan Hari Raya Idul Adha, yang biasa dirayakan pada 10 Zulhijah - pada tahun ini secara nasional jatuh pada tanggal 8 Desember 2008, atau tahun 1429 H. Hari raya sudah berlalu. Kurban sudah disembelih dan dibagi-bagikan kepada mereka yang berhak menerimanya. Dari pantauan kacamata anaknongkrong LIDAHIBU, pada hari itu banyak warung sate tutup. Tapi, anehnya, bau sate tercium dimana-mana. Aneh, ya? Aneh, tak?

Selain hari raya Idul Adha, umat Islam juga akan merayakan tahun baru Hijriah, yang, dalam kalender Masehi, jatuh pada tanggal 29 Desember 2008. Artinya, umat Muslim akan menggunakan kalender baru, tahun 1430 H. (Dengan dipakainya kalender baru, berarti kalender lama tidak akan dipakai lagi. Betul begitu? Betul!). Lebih lanjut, selain umat Muslim, pada bulan Desember ini umat Kristen juga akan merayakan hari raya Natal, yang dirayakan pada tanggal 25 Desember (penjelasan mengapa memilih sebutan umat Kristen akan dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini).

Dalam LIDAHIBU edisi percobaan #2, Encik Ginting sudah menulis perihal Idul Fitri dalam Berita Gejala dengan artikelnya yang berjudul “Idul Fitri (Arab), Lebaran (Sunda), Bakda (Jawa), Open House (Inggris)”. Dalam artikel yang bergaya deskriptif yang investigatif itu, dipaparkan sumbangan bahasa Arab yang telah memperkaya kebudayaan dan bahasa Indonesia, misalnya ungkapan Idul Fitri, sedangkan kata dari bahasa Arab yang lain adalah ’silaturahmi’, ’selamat’, minaladin walfaidin (ungkapan ini hanya digunakan di negeri kita tercinta. Di Arab, orang menggunakan ucapan id sa’id yang artinya ‘Lebaran yang berbahagia’ atau taqaballa Allah minna wa minkum yang artinya ‘Semoga Allah menerima amal kita’), dll. Dalam Berita Gejala kali ini pun akan dibahas sumbangan ungkapan untuk bahasa Indonesia dari perayaan hari raya dan peristiwa di sekitar Idul Adha dan Natal dengan pendekatan yang mengasyikkan dan menyejukkan hati.

Hari Raya Idul Adha dan Tahun Baru Hijriah

Salah satu anaknongkrong LIDAHIBU, yang sengaja bermimpi merayakan Idul Adha di negara di luar Asia Tenggara, mengungkapakan bahwa hari raya yang jatuh pada 10 Zulhijah ini ternyata lebih meriah dirayakan orang. Inilah mengapa Idul Fitri disebut ‘perayaan kecil’, dan Idul Adha disebut ‘perayaan besar’. Di Indonesia, hari raya Idul Adha juga populer sebagai ‘Lebaran Haji’. Di Tanah Arab, waktu perayaan itu memang bertepatan dengan ibadah haji.

Hari Raya Kurban dalam bahasa Arab dinamai ‘id al-qurban, idulkurban, dan ‘id al-adha. Hari itu juga disebut ‘id al-kabir, ‘idulkabir, ‘hari raya yang besar’. Masyarakat bahasa di Indonesia juga mempunyai sebutan-sebutan tersendiri untuk Hari Raya Kurban. Masyarakat berumpun Melayu mengenalnya dengan nama Hari Raya Kurban, Hari Raya Haji, Hari Raya Agung, dan Lebaran Besar. Masyarakat berbahasa Jawa mengenal nama Bakda Besar, Lebaran Haji, dan Lebaran Kaji. Sementara itu, masyarakat berbahasa Sunda menamai peristiwa tersebut Lebaran Haji atau Lebaran Rayagung. Sempat terbidik mata pewarta LIDAHIBU, dalam perayaan ini, tradisi makan ketupat juga tetap ada, seperti yang ada di daerah Ambarawa dan Semarang. Juga ada tradisi mudik yang ikut mewarnai hari raya ini, meskipun tidak seheboh saat mudik Idul Fitri. Sedikit informasi, dalam KBBI, mudik berarti ‘(berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai); ragam cakapan (tak baku) pulang ke kampung halaman’.

***

Semua orang yang rindu hari libur pasti akan senang mendapati tanggal 29 Desember 2008. Apa pasal? Hari itu adalah Tahun Baru Hijriah. Penanggalan Islam memang menggunakan tarikh Hijriah. Maka itu, tak salah kalau, dalam kalender, Hari Raya Idul Adha kemarin tertulis Idul Adha 1429 H bukan Idul Adha 2008. Penanggalan Islam ini berasal dari kata hajara, yang berarti ‘mengungsi, meninggalkan’. Istilah ini digunakan untuk memperingati pengungsian Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah pada 622 Masehi. Tahun itu mempunyai 12 bulan, yaitu Muharram (Asyura), Safar, Rabiawal, Rabiulakhir, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rajab, Syaban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah. Di Yogyakarta, kalau ingin memeriksa apakah penanggalan ini masih dipakai, para pembaca yang budiman dan berbahagia bisa datang ke Kraton Ngayogyakarta pada bulan Ramadan, syukur-syukur sambil mengajak turis asing. Hasilnya, takkan ada pertunjukkan tari dan musik gamelan pada bulan itu.

Hari Raya Natal

Tak lengkap rasanya membicarakan bulan Desember tanpa bercakap tentang Hari Raya Natal. Umat Kristen di negeri tercinta ini sedang bersiap-siap menyambutnya dengan penuh sukacita. Dalam paragraf awal tulisan ini ada perihal yang harus dipaparkan dahulu sebelum masuk dalam bahasan inti, yaitu tentang kata ‘kristen’. Sebagaimana dijelaskan oleh Alif Danya Munsyi dalam bukunya Bahasa Menunjukkan Bangsa, dalam artikel yang berjudul ‘Kerygma Injili Sebagai Sumber Ilham”, kata ‘kristen’ sebagaimana termaktub dalam terjemahan Alkitab bahasa Indonesia oleh LAI, pada Kis 11:26, Kis 26:28, dan 1 Pet 4:16 diserap dari bahasa Belanda christen. Kata ini lebih dipilih untuk menghindari kata ‘kristiani’ yang menurut pandangan encik yang satu ini merupakan kata yang rancu. Pemakaian kata ‘kristen’ pun perlu pelurusan. Ada yang menganggap bahwa yang berhak menyandang sebutan ‘kristen’ hanya orang Protestan saja. Orang Katolik pun ada yang tidak menyebut dirinya ‘kristen’, dan menganggap Katolik bukan ‘kristen’. Mestinya yang disebut Kristen itu ya Protestan, ya Katolik. “Kristen itu kan semua orang yang mengaku percaya pada Kristus selaku jalan kebenaran-hidup dan dibaptiskan dalam gereja di bawah nama Bapa-Putra-Roh Kudus,” encik ini menambahkan.

Kembali ke topik Hari Raya Natal, kata ‘natal’ berasal dari kata Latin natus, artinya ‘lahir atau kelahiran’. ‘Natal’ berarti hari kelahiran Yesus Kristus. Hari Natal yang merupakan hari raya besar umat Kristen, selain hari raya Paskah, dirayakan pada tanggal 25 Desember. Penggunaan kata ‘dirayakan’ mengandung arti adanya sebuah kesepakatan dalam penetapan tanggal tersebut sebagai hari perayaan kelahiran Yesus Kristus. Hal ini terjadi pada abad ke-4, tepatnya tahun 336 M, ketika orang Kristen pertama kali merayakan Natal pada tanggal 25 Desember . Pada tradisi yang lain, tradisi Gereja Timur, Natal dirayakan pada tanggal 6 Januari, atau pada saat Epifani (Pesta Penampakan Tuhan), saat kanak-kanak Yesus dikunjungi orang Majus dari timur. Kelahiran Yesus, menurut perhitungan, terjadi pada sekitar 6 Masehi (tidak diketahui pasti kapan tanggal, bulan dan tahun kelahiran Yesus). Ini terjadi pada waktu Kaisar Agustus (63 SM-14 M) menjadi kaisar Roma; atau pada zaman Herodes Agung (73-4 SM) Sebagai persiapan Natal, orang Kristen menjalani minggu Adven. ‘Adven’ berasal dari bahasa Latin adventus, ‘kedatangan’. Dalam minggu-minggu tersebut, umat Kristen menantikan kedatangan Yesus Kristus. Dalam Gereja Katolik Roma, tradisi ini tidak dikenal pada awalnya. Tradisi ini menjadi lebih terlembaga pada saat Paus Gregorius Agung berkuasa (590 M-604 M). Beberapa sikap hidup yang harus diterapkan dalam minggu Adven adalah siap-siaga, pengharapan, bertobat, dan rendah hati.

Adakah ungkapan-ungkapan yang lain? Di sekitar perayaan Natal ada ungkapan-ungkapan ‘kandang dan gua Natal’, ‘pohon Natal’, dan ‘Sinterklas’. ‘Kandang dan gua Natal’, juga ‘pohon Natal’, menjadi pernak-pernik yang menghiasi gereja dan rumah-rumah umat Kristen. Istilah ‘kandang dan gua Natal’ dipopulerkan oleh Santo Fransiskus dari Asisi, Italia, sedangkan tradisi pohon Natal dimulai pada sekitar abad ke-8 di Jerman.

Ada lagi yang menarik. Yang ditunggu anak-anak kecil pada saat Natal tiba pastilah ‘Sinterklas’, sosok bapak tua yang datang dengan berbagai mainan di kantung untuk dibagi-bagikan pada anak-anak. Kata Sinterklas sudah masuk dalam KBBI yang berarti ‘(1) tokoh suci (dalam agama Kristen) yang konon sangat sayang dan selalu memberikan hadiah kepada anak-anak pada hari-hari penting (terutama pada hari ulang tahunnya, tanggal 6 Desember), (2) perayaan memperingati ulang tahun Sinterklas, tanggal 6 Desember’. Orang Indonesia mungkin mendengar kata ini dari bahasa Belanda, Sinter Klaas. Orang Amerika sendiri mengenal tradisi ini pada abad ke-18 ketika orang-orang Belanda yang merantau ke Amerika membawa kebaktian mereka untuk menghormati Santo Nikolaus. Orang Amerika menyebutnya Santa Claus, yang oleh orang Indonesia diindonesiakan menjadi Santa Klaus (tidak ada dalam KBBI). Pada tahun 1863, Thomas Nost, seorang kartunis Amerika, mengubah citra-raga Santo Nikolaus yang asli menjadi ilustrasi ‘orang tua yang berjenggot putih, bertopi, dengan tubuh tambun, dan berpakaian beludru merah’.

Sebagai penutup tulisan ini, LIDAHIBU ingin menawarkan kisah lain pada perayaan Natal. Coba simak kutipan lirik lagu O Holy Night di bawah ini:

When blossoms flowered amid the snow, up on a winter’s night was born the child, the Christmas Rose, the King of love and light.

Adakah sesuatu yang ‘hilang’ ketika lagu O Holy Night itu dinyanyikan di Indonesia? Ya, di Indonesia tidak ada musim dingin dan jarang melihat salju. Menarik untuk dibahas, siapa tahu ada pembaca yang mengalami sindroma salju Natal hingga berkata, “Wah, Natal tanpa salju nggak asyik, ya!” (Sama seperti yang dialami oleh salah satu anaknongkrong LIDAHIBU yang mengharapkan salju pada saat Natal - terlalu banyak nonton film barat mungkin). Tapi kata salju memang dahsyat. Orang Indonesia yang jarang melihat dan merasakan salju sudah mulai membuat spesifikasi untuk istilah-istilah salju. KBBI mengartikan salju sebagai ‘butiran uap air yang berwarna putih bagaikan kapas membeku di udara dan jatuh ke bumi akibat temperatur udara di daerah itu berada di bawah titik beku’. Lema salju, lebih rinci lagi, diturunkan menjadi salju embus, salju layang, dan salju tua. Salju embus adalah salju yang terangkat oleh angin dari permukaan bumi ke dalam udara sampai setinggi 6 kaki atau lebih sehingga mengurangi jarak pandang. Salju layang adalah partikel salju yang ditiup angin sampai mencapai ketinggian di atas permukaan bumi. Terakhir, salju tua adalah salju yang telah membutir dan padat karena berbagai proses pencairan dan pembekuan ulang serta sublimasi. Istilah-istilah spesifikasi salju ini menjadi satu solusi untuk mengatasi persoalan semantik dari ungkapan ilmiah - dulu, tidak ada spesifikasi yang jelas untuk salju (generalisasi kata salju untuk menyebut segala karakteristik salju). Kapan kata salju muncul di Indonesia? Dari sumber tertulis berbahasa Latin yang LIDAHIBU dapatkan, kata ini sudah muncul sejak abad ke-17, yaitu pada masa pertama diterjemahkannya Heilige Schrift, yang lazim disebut Bijbel, dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia untuk piranti syiar ajaran agama Nasrani di sini. (Lebih lengkapnya, silahkan baca artikel Remy Sylado [Salju di Indonesia dan Salju] dan artikel Munif Yusuf [Salju dan Kelapa] di Kumpulan Rubrik Bahasa Kompas ‘Inul itu Diva?’.)

Daripada kedinginan atau kecapekan saat merayakan Natal karena harus mendaki Puncak Cartenz, Gunung Jayawijaya, untuk melihat salju, mending di rumah bersih-bersih lingkungan supaya tidak kebanjiran.

Demikianlah, perpisahan harus tetap ada. Janganlah bersedih hati. Semoga tulisan ini berfaedah bagi para pembaca yang baik hati. Apabila ada salah tulis dan salah kata, LIDAHIBU minta maaf. Tak usah ragu untuk mengirim kritik dan saran yang mencerminkan kecendikiaan, sopan dalam bertutur, dan tidak tong kosong berbunyi nyaring, pada penghubung wicara LIDAHIBU. Sebagai penutup, LIDAHIBU secara resmi dan bangga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha, Selamat Tahun Baru Hijriah, dan Selamat hari Natal dan Tahun Baru.

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar