Hilangnya Satuan Ukur Bumiputera
15 April, 2009 | | Kategori: Berita GejalaBulan September tahun 2007 Masehi, Kepolisian Bahasa Indonesia dibuat geger oleh sebuah laporan yang berbentuk surat-kaleng: berita tentang tak diketahuinya rimba beberapa kosa-kata bahasa Indonesia dari nikayo satuan-ukur bumiputra. Berdasarkan keterangan Kepala Satuan Telik Sandi Kepolisian Bahasa Indonesia, PerLing. Dr. Kamus Besar Bahasa Indonesia M. Ling., beberapa di antara kosa-kata yang hilang tersebut adalah mereka-mereka yang bernama Depa, Hasta, Langkah (dari keluarga satuan-ukur jarak); Saga, Catak, Pikul, Koyang Garam, Takar Minyak (dari keluarga satuan-ukur berat); dan Saka (salah satu anggota keluarga satuan-ukur waktu).
Setelah agak pusing-tujuh-keliling, para telik sandi bahasa, yang bertugas langsung mencari jejak terakhir kosa-kata yang hilang tersebut, akhirnya menemui titik terang ketika salah seorang warga datang membawa sepucuk surat wasiat yang ditulis oleh sdr. Langkah. Isi surat itu menunjukkan bahwa hilangnya kosa-kata satuan-ukur bumiputra ini disebabkan oleh tidak ajegnya mereka dipakai oleh para penutur bahasa Indonesia.
“Inilah yang disebut Darwin dengan seleksi alam. Akhirnya, para penuturlah yang menentukan mana kosa-kata yang akan bertahan hidup dalam khazanah kosa-kata bahasa Indonesia. Kami menghimbau agar para seniman, sastrawan, munsyi, sarjana bahasa, dan, yang paling penting, penutur umum bahasa Indonesia, mau ikut prihatin akan lenyapnya satu per satu kosa-kata kita,” tutur PerLing. Dr. Kamus Besar Bahasa Indonesia M. Ling., ketika ditemui di kantornya usai upacara Hari Bahasa, Senin lalu.
Di sisi lain, salah seorang munsyi, yang tidak bersedia menyebutkan jati-dirinya, menyatakan duka-citanya pada wartawan LIDAHIBU. “Orang kini tidak lagi berhasrat untuk mempertahankan khazanah kosa-kata bumiputra. Entah sudah berapa ribu yang sudah lenyap,” ujarnya sendu. Munsyi yang satu ini juga menyatakan kegeramannya atas ketidakpercayadirian aneh dari penutur bahasa Indonesia, yang segan, bingung, dan bahkan malu menggunakan kosa-kata bahasanya sendiri.
“Ambil kisah sdr. Langkah sebagai contoh. Pasti orang sekarang akan merasa sangat wagu ketika menerima pertanyaan, ‘Berapa langkah jarak sekolah dari rumahmu?’. Perasaan wagu ini aku anggap sangat aneh. Mengapa kita harus merasa wagu memakai satuan-ukur langkah kalau orang di amrik sana pe-de memakai satuan-ukur kaki (feet), misalnya? Memang saat mendengar satuan-ukur langkah, pasti kita akan terheran dan bertanya-tanya: langkahnya siapa yang dijadikan acuan? Padahal, sebenarnya, bisa saja, kan, kita melontarkan pertanyaan bernada sama ke satuan-ukur amrik itu: kakinya siapa? Itu bukan masalah. Melalui pembacaan sejarah yang kuat, kita dapat menemukan lontar-lontar yang bisa dijadikan acuan untuk menyepakati ukuran jarak tertentu yang diwakili oleh satuan langkah,” demikian munsyi tersebut bersuara lantang pada LIDAHIBU. Kata-kata beliau panas bagaikan jilatan api yang menyala-nyala, sampai-sampai wartawan LIDAHIBU yang meliput basah kuyup oleh keringat.
Meskipun demikian, dari pengamatan jeli yang dilakukan LIDAHIBU di beberapa titik di lima pulau besar Indonesia, ternyata, hanya sedikit sekali pemakai bahasa Indonesia yang merasa kehilangan. Setelah melacak maklumat dari berbagai sumber terpercaya, wartawan LIDAHIBU berkesimpulan bahwa pemakai bahasa Indonesia tidak begitu merasa kehilangan atas lenyapnya kabar kosa-kata satuan-ukur bumiputra itu karena sudah ada satuan-ukur bule yang diimpor untuk menggantikan mereka.
“Aduh, cape, deh. Hari gini masih sedih karena mbah Saga, mbah Langkah, dan mbah Saka hilang ditelan bumi? Ampyun, dijey! Kan, udah ada gantinya, tuch. Ada gram, meter, ama masehi. Langsung diimpor dari barat, lho,” cerewet salah seorang anak muda, yang mengaku gaul, saat ditanya oleh LIDAHIBU.
“Mbah Catak, mbah Depa, dan mbah Pikul? Wuaduh, akyu gak kenal ama mereka orang. Anyway, kalau mereka ilang, akyu rasa gak bakalan ngaruh. So pasti, dong. Secara gitu loh, mereka orang, kan, udah too old banget. Kuno, deh, pokoknya. Akyu sih lebih milih untuk up to date dengan mengenal satuan-ukur sejenis yard, pound, oz, feet, dsb. Gimana, ya, rasanya lebih catchy aja kalo didenger,” ungkap seorang mahasiswi ketika ditemui LIDAHIBU di sebuah kampus terkenal di ibukota.
Pendapat dua orang tadi sangat jauh berbeda dengan pendapat seorang mahasiswa sastra di Universitas Sana Tak Sadhar, Yogyakarta. Dengan bahasa jawanya yang khas, kepada LIDAHIBU dia berkata, “Lha, ‘ra iso nek ngono kuwi, dhab! Kosa-kata awak’e dhewe ‘ki kudu dilestarekke. Aku dhewe, nek ditakok wong bab piro adohe omahku seko sekolahan iki, jawabanku yo mung: ‘Alah, ‘ra adoh banget. Mung sak plinthengan.’ (sambil tertawa) Lha, heueh, toh? Nek aku njawab ‘500 yard’, yo, seng takok kuwi mesti bingung.”
Melihat gejala yang tampaknya semakin semarak ini, seorang pejabat tinggi di pemerintahan Indonesia pun angkat bicara: “Rakyat harus fair memandang polemik ini. Kita seyogyanya mampu adil untuk menghormati berbagai argumen yang muncul dari berbagai perspektif yang berbeda pula. Hendaknya perdebatan tentang masalah ini dilakukan dengan kepala dingin, dengan tata-cara dan tata-krama yang santun, serta dengan tetap berada pada jalur konstitusi. Di era modern yang sangat mengglobal ini, rakyat harusnya mampu memahami transformasi-transformasi yang ikut melakukan manuver improvisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Manajemen diri dan emosi penting untuk dilakukan agar kehangatan tukar opini ini tidak melenceng pada tindakan-tindakan anarkis. Kita harus ingat bahwa, meskipun negara kita memiliki kualitas diversitas yang sangat tebal, seharusnya kita mampu menciptakan sebuah atmosfir yang kondusif dalam bersosialisasi. Internalisasi intelektual perlu dilakukan oleh rakyat karena mengingat daripada bahwa roda media demokratisasi harus terus menggelinding. Begitu juga dengan bahasa. The show must go on,” begitu beliau menanggapi. Pidato beliau membuat LIDAHIBU hanya bisa mengangguk-angguk sambil tersenyam-senyum kebingungan.
Setahun telah berlalu. Dan pidato sang pejabat tinggi dan surat kaleng dan pendapat orang dan surat wasiat mbah Langkah dan lain-lain kini lalu bersama angin. LIDAHIBU sendiri, dengan semangat menjelang-bulan-Bahasa yang seadanya, membentuk regu pencari berita khusus untuk meliput kisah hilangnya satuan-ukur bumiputra ini secara tuntas. Dari hasil penyelidikan terperinci, regu pencari berita LIDAHIBU, yang dipimpin oleh Bpk. Keadaan Sedang Ginting S. Ling., menyatakan bahwa telah ditemukan beberapa pustaka lama yang sempat merekam kehadiran satuan-ukur bumiputra tersebut.
“Baru Langkah, Saga, Catak, Koyang Garam, Pikul, dan Tukar Minyak yang kami temukan catatan tentangnya. Langkah digunakan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam naskah sandiwara berjudul Mangir. Kata langkah hadir pada halaman 9. Sementara itu,” lanjut beliau, “untuk Saga, Catak, Koyang Garam, Pikul, dan Tukar Minyak, mereka tercatat pada novel Arok-Dedes, yang juga dikarang oleh Pram. Saga dan catak dapat ditemukan di halaman 32, sementara Koyang Garam, Pikul, dan Takar Minyak pada halaman 212.”
Sebelum mengakhiri pembicaraan, Bpk. Keadaan Sedang Ginting S. Ling. mengutarakan keyakinannya bahwa masih ada beberapa karya tulis lagi yang sempat merekam kehadiran satuan-ukur bumiputra tersebut. Bagaimanapun juga, kasus lenyapnya kosa-kata dari nikayo satuan-ukur bumiputra patut menjadi perhatian bersama. Untuk melestarikan khazanah kosa-kata bahasa Indonesia, kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melakukannya?
Catatan:
Untuk melengkapi pengetahuan pembaca LIDAHIBU tentang makna dari satuan-ukur bumiputra yang lenyap, redaksi berkenan menghadirkan mereka kembali.
Saga : ukuran berat untuk emas, kurang lebih 1 gram
Catak : ukuran berat untuk perak, kurang lebih 25 gram
Pikul : kurang lebih 67 liter
Tukar Minyak : kurang lebih 25 liter
Koyang Garam : setara dengan 30 pikul
Saka :satuan tahun. untuk sama dengan Masehi, tahun dalam hitungan Saka ditambahkan 78, mis. 1930 Saka sama dengan 2008 Masehi
Depa : kira-kira sepanjang ukuran lengan sampai bahu terjauh manusia dewasa
Hasta : kira-kira sepanjang ukuran rentangan dua tangan manusia dewasa
Langkah : kira-kira sepanjang ukuran langkah khaki manusia dewasa
Catatan Kaki:
Siapa tahu ada beberapa kosa-kata yang pembaca belum tahu pasti maknanya dari narasi liputan Hilangnya Satuan-ukur Bumiputra, maka redaksi berikan kamus kecilnya.
1. ni.ka.yo (kt. benda) (Asal. Sanskerta) sekte atau mashab
2. te.lik san.di (kt. benda) intelejen
3. per.ling (singkatan dari “Perwira Linguistik”) (jargon) pangkat dalam Kepolisian Bahasa Indonesia
4. a.jeg (kt. sifat) (Jawa) tetap
5. mun.syi (gelar) (diambil dari nama ahli bahasa Melayu Abdullah bin Abdulkadir Munsyi) pemerhati, penyuka bahasa (cenderung dipakai untuk mereka yang tidak punya gelar akademis)
6. kha.za.nah (kt. benda) (Asal. Arab [mungkin, lho.]) properti
7. wa.gu (kt. sifat) (jawa) tidak pas
8. mak.lu.mat (kt. benda) (Asal. Melayu) informasi
9. bu.mi.pu.tra. (kt. sifat, kt. benda) pribumi, orang pribumi
10. plin.theng. (kt. benda) (Jawa) ketapel
11. sak. (pembilang) (Jawa) se- (bermakna satu, contohnya: sepiring)
12. sak. plin.theng.an (ungkapan) (Jawa) jarak yang dicapai sebutir peluru ketapel ketika ditembakkan sekali. Sering ungkapan ini mengacu pada makna “jarak yang dekat”
Dan, bagi pembaca yang belum mengerti bahasa Jawa, redaksi berkenan menerjemahkan pendapat dari mahasiswa sastra Universitas Sana Tak Sadhar, Yogyakarta, tadi:
“Tidak bisa begitu, mas. Kosa-kata kita harus dilestarikan. Aku sendiri, kalau ditanya orang perihal seberapa jauh jarak rumahku dari sekolah ini, jawabanku ya cuma: ‘Ah, tidak jauh, kok. Cuma sak plinthengan. (sambil tertawa) Lha, iya, kan? Kalau aku jawab ‘500 yard,’ yang nanya tadi pasti bingung.”
