Idul Fitri (Arab), Lebaran (Sunda), Bakda (Jawa), Open House (Inggris)

15 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

Umat Islam Negara Bahasa Indonesia, pada tanggal 1 Oktober 1930 Saka kemarin, merayakan hari raya Idulfitri, atau Lebaran, sebagai pertanda berakhirnya satu bulan penuh masa ibadah puasa. Gema Takbir berkumandang di banyak tempat. Pesta kembang api kecil-kecilan menjamur di mana-mana. Arak-arakan manusia yang berkeliling kampung dan kota menghiasi jalan raya. Dari pengamatan pewarta LIDAHIBU, pada 30 September 1930 Saka malam, beberapa truk, yang baknya diisi berpuluh anak remaja yang dengan semangat gembira meneriakkan takbir, melintas di Jalan Affandi, Yogyakarta, ikut meramaikan suasana jalan yang memang sudah padat itu. Gegap-gempita Lebaran tanggal 1 Oktober 1930 Saka kemarin benar-benar telah membuat lupa warga Negara Bahasa Indonesia bahwa hari itu, sebetulnya, juga merupakan Hari Kesaktian Pancasila. Waaw!

Para pewarta LIDAHIBU, atau yang lebih keren disebut anaknongkrong LIDAHIBU, dengan semangat Lebaran dan Hari Kesaktian Pancasila, bergiat dengan ligat meliput beberapa gejala pemakaian bahasa Indonesia dihari yang fitri itu. Salah satu kegiatannya adalah mencoba menggali asal-muasal beberapa lema yang menjadi istilah yang lumrah dipakai pada masa-masa hari raya Lebaran. Wartawan LIDAHIBU berkunjung ke kediaman warga Negara Bahasa Indonesia yang namanya dipakai penutur bahasa Indonesia menjadi kosakata beken khusus di hari raya ini. Para warga tersebut, yang menjadi narasumber pada liputan khusus kita kali ini, adalah Tuan Idulfitri, Ibu Lebaran, Mas Bakda, Nona Maaf, Sdr. Puasa, dan, pendatang baru, Mr. Open House.

Dengan hati yang bersih, salah seorang pewarta LIDAHIBU diutus untuk berangkat ke Perkampungan Bahasa Arab di bilangan Jakarta Utara untuk bercakap-cakap dengan Tuan Idulfitri. Di rumah sederhana beliau, ditemani teh hangat, kurma, dan rokok sisha, pewarta LIDAHIBU berhasil mengorek beberapa berita perihal asal-muasal dipakainya nama Idulfitri untuk menyebut hari raya pasca bulan puasa.

“Ana termaktub dalam khazanah kosakata Arab. Islam agama dari tanah ana. Bukan ajaib bila nama ana dipakai untuk menyebut hari raya setelah bulan suci Romadhon karena nama ana juga dipakai untuk menyebut hari raya yang sama di tanah suci Arab. Alhamdullilah!” begitu ujar beliau.

Dari keterangan beliau, dapat diketahui bahwa ada dua hari raya besar di Arab: (1) ‘id al-qurban (idulkurban) alias ‘id al-adha (iduladha) alias ‘id al-kabir (idulkabir); dan (2) ‘id al-fitr (idulfitri) alias ‘id al-saghir (idulsagir). Idulkabir bermakna “hari raya besar” sementara idulsagir bermakna “hari raya kecil”. Meski demikian, di Indonesia dan di kebanyakan negara lainnya, “hari raya kecil” dirayakan dengan besar. Tidak jelas mengapa demikian. Mungkin karena “hari raya kecil” alias idulfitri dikaitkan dengan tradisi penduduk setempat: mudik, misalnya. Ini agak mirip dengan hari raya Natal di Inggris, Amerika, atau bahkan Jepang. Hari raya ini selalu bertautan dengan budaya ramah-tamah masyarakat yang merayakannya (bukan lagi mutlak hari raya agama saja).

Lanjut beliau, “Asal ente mahfum, ‘id dalam bahasa Arab berarti ‘hari raya” atau ‘pesta’. Ente bisa tengok beberapa kata Arab seperti ‘id al-istiqlal (hari raya kemerdekaan), ‘id al-umi (hari ibu), dan ‘id al-milad al-masihi (hari raya natal).”

Tuan Idulfitri juga menambahkan bahwa kata ‘al-fitr mengacu pada hal “penghentian puasa”. Kata ini berakar dari fatara (darinya dijabarkan bentuk iftar) yang berarti “hal berbuka puasa”. Mendengar keterangan beliau tentang kata ‘id, yang berarti “hari raya”, LIDAHIBU jadi berpikir bahwa mungkin bahasa Arabnya Valentine Day adalah ‘id al-habiebie, yang artinya “hari raya kekasih”.

Di tempat lain, tepatnya di seputaran BIP, Bandung, wartawan LIDAHIBU lainnya menemui Ibu Lebaran, dengan misi yang sama. Ibu cantik yang halus tutur bahasanya dan sangat “sunda” raut wajahnya ini mengatakan pada LIDAHIBU bahwa namanya memang sudah lama populer digunakan sebagai padanan bahasa Indonesia untuk menyebut hari raya Idulfitri.

“Saya kurang tahu kapan tepatnya, tapi nama saya, teh, memang digunakan secara umum untuk menyebut hari raya setelah puasa. Nama saya itu sendiri, ‘Lebaran’, memang artinya ‘bebas, lepas, selesai, sudah, berakhir’. Diambil dari bahasa Sunda lebar atau lubar. Jadi memang sangat cocok, euy, dipakai buat hari raya setelah puasa.”

Dari Jawa Barat, LIDAHIBU bertolak ke Surakarta, tempat narasumber berikutnya, Mas Bakda, bermukim. Di rumah joglo miliknya, dengan ramah Mas Bakda menceritakan asal-muasal namanya dipakai oleh orang Jawa untuk menyebut hari raya Lebaran, atau Idulfitri. Dengan bahasa ngoko dia menjabarkan pada LIDAHIBU, “Aku ‘ki sakjane dudu wong Jowo, mas. Asliku ‘ki seko Arab.”

Dari pengakuannya dapat disimpulkan bahwa sebenarnya bakda adalah kosakata Arab yang artinya “sesudah” dan kemudian berkembang menjadi “hari raya”. Kosakata ini diserap ke dalam bahasa Jawa, namun pelafalannya agak berbeda dengan tulisan harfiahnya. Bunyi konsonan kantia [k] hampir tidak pernah terlafalkan. Jadi orang Jawa umumnya melafalkan bakda menjadi badha (bodho). (Ket: “kantia” berasal dari bahasa kawi kanta, yang artinya ‘kerongkongan’ alias “glottal” dalam bahasa Inggris. Bunyi [k] dalam bakda berbeda dengan bunyi [k] dalam bakery. [k] dalam bakery merupakan konsonan talawia, alias tekak, alias velum atau velar).

Kunjungan berikutnya diarahkan ke rumah Nona Maaf, yang bertempat di propinsi Lampung, Sumatera Selatan. Di daerah yang dulu diyakini sebagai wilayah kekuasaan kerajaan Samudera Pasai ini, wartawan LIDAHIBU berkesempatan untuk mencari tahu perihal asal-muasal kata maaf.

“Saya paham bahwa hari raya Lebaran digunakan orang untuk saling bermaaf-maafan. Setelah sebulan berpuasa, di hari yang fitri, memang selayaknya umat manusia mengampuni kesalahan sesamanya. Agar semuanya menjadi baru lagi. Dimulai dari angka nol, kata iklan di teve,” ungkap Nona Maaf dengan bersemangat. Dari pengakuan Nona Maaf, dapat dikenali bahwa kata “maaf” sebenarnya berasal dari perbendaharaan kosakata, lagi-lagi, Arab. Ma’fuw adalah bentuk asli kata tersebut. Kata ini memiliki makna “dibebaskan dari dosa; diampuni”.

Bertempat di Tuban, Jawa Tengah, wartawan LIDAHIBU berusaha meliput kisah asal-muasal Sdr. Puasa. Di rumahnya yang cukup sederhana, Sdr. Puasa menyambut LIDAHIBU dengan tangan terbuka. “Dirgahayu!” begitu beliau menyapa LIDAHIBU.

Berikut keterangan beliau: “Nama saya Puasa. Kata “puasa” berasal dari bahasa Sanskerta upavasa. Kalau mau merunut secara kronologis perihal pemakaian konsep ini di Indonesia, em, maksud saya dalam konteks agama mapan, agama Hindulah yang pertama sekali memperkenalkannya. Dalam Hindu, upavasa berarti ‘berpantang dan bertarak’. Namun, tidak hanya dalam hal menahan lapar dan dahaga saja. ‘Berpantang dan bertarak’ di sini mempunyai arti yang luas: menahan diri dari pemuasan segala hawa nafsu. Bahkan, termasuk pada pemakaian perhiasan dan minyak wangi.”

Beliau juga menyatakan bahwa makna “puasa” itu dipersempit dan disesuaikan dengan ajaran umat agama lain. Misalnya, puasa untuk seorang Muslim akan berbeda dengan puasa bagi seorang Kristen. Kalau dalam bahasa Arab, padanan kata untuk upavasa alias puasa adalah saum dan siyam. Boleh diperiksa, kosakata Arab ini dipinjam oleh penutur bahasa Melayu, Sunda, dan Jawa.

Pada hari raya Lebaran tahun ini, sepertinya ada satu istilah beken lagi yang menyerobot masuk ke dalam tata-tutur pemakai bahasa Indonesia. Banyak sekali kita saksikan di siaran teve atau di koran-koran bahwa rata-rata pejabat pemerintahan kelas atas membuka pintu rumah mereka, mengundang siapa saja yang ingin datang dan beramah-tamah dengan mereka. Sebenarnya kegiatan macam ini lumrah dilakukan oleh siapa saja  tidak harus pejabat pemerintahan kelas atas. Dulu, kita sering menyebut kegiatan macam ini dengan nama anjang sana, tatap-muka, atau silaturahmi. Akan tetapi, agaknya ada istilah baru, yang diimpor langsung dari Inggris melalui pelabuhan Tanjung Periok, yang kerap kali digunakan untuk menyebut kegiatan “buka-rumah” ini. Pembaca tentunya sudah sangat akrab dengan istilah yang LIDAHIBU maksud. Dialah Mr. Open House.

Untuk melengkapi liputan hari raya Lebaran ini, LIDAHIBU sengaja mengutus seorang pewarta untuk mendatangi kediaman Mr. Open House di bilangan Jakarta Pusat, dekat dengan Kedubes Negara Bahasa Inggris. Tak seperti yang LIDAHIBU sangka, ternyata LIDAHIBU harus melewati beberapa gerbang penjagaan ketat sebelum dapat bertemu dengan Mr. Open House. Pintu rumah beliau pun tertutup rapat sekali, sebelum seorang penjaga keamanan membukakan pintu tersebut untuk LIDAHIBU. Akh, ternyata rumahnya tak seterbuka namanya.

Ditemani seorang penerjemah (Mr. Open House tidak bisa berbahasa Indonesia) LIDAHIBU melakukan wawancara singkat dengan beliau. Salah satu komentar pendek beliau mengenai menjadi populernya nama beliau pada Lebaran kali ini adalah: “I really appreciate that the Indonesian people borrow my name to refer to one of the traditional activities done in Lebaran. It really shows the Indonesians’ awareness of globalization. Globalization: isn’t it undeniable? Inevitable? And, so is the language interrelationship.” [Saya sangat menghargai bahwa orang Indonesia meminjam nama saya untuk menyebut salah satu kegiatan tradisional yang dilakukan saat Lebaran. Hal ini benar-benar menunjukkan kesadaran bangsa Indonesia terhadap globalisasi. Globalisasi: bukankah hal itu tak dapat disangkal? Tak dapat dielakkan? Begitu juga dengan hubungan antar bahasa.]

Ketika LIDAHIBU berucap lebih lanjut bahwa sesungguhnya bahasa Indonesia mempunyai istilah sendiri untuk menyebut kegiatan “buka-rumah” itu, Mr. Open House menanggapi: “That is of the phenomenon. Just like when you borrow the Arabian words, English is also contributing its entries to those of Bahasa. We, Englishmen, also took many words from this archipelago. “Paddy” is one of simple instances. Furthermore, there comes the matter of style, of trend.” [Itu gejalanya. Sama seperti ketika kalian meminjam kosakata bahasa Arab, bahasa Inggris juga memasukkan lemanya ke bahasa Indonesia. Kami, orang Inggris, juga mengambil banyak kata dari nusantara ini. Paddy adalah satu contoh sederhana. Lebih lanjut, hadir pula perihal gaya, perihal tren.]

Sepertinya bule Inggris ini kurang cermat dalam melihat gejala pemakaian bahasa Inggris pada penutur asli bahasa Indonesia. LIDAHIBU sendiri mengkaji bahwa kebanyakan penutur bahasa Indonesia memakai kosakata Inggris bukan karena tidak ada padanan nalar-makna dari kosakata Inggris tersebut dalam bahasa Indonesia. Namun, karena ada suasana keren nan beken jika bahasa Inggris diselipkan dalam kalimat bahasa Indonesia. Ini berbeda jauh dengan contoh yang diajukan Mr. Open House. Paddy diserap ke dalam bahasa Inggris bukan agar terlihat keren nan beken, melainkan orang Inggris hanya punya satu kosakata, yaitu rice, untuk menyebut “padi”, “gabah”, “beras”, dan “nasi”, yang kesemuanya memiliki kekhasan maknanya masing-masing. Lagipula, telah terjadi penyesuaian ejaan dan bunyi dalam kata paddy. Terdapat jurang perbedaan yang sangat luas dan dalam jika kita membandingkan kemunculan frasa open house dalam bahasa Indonesia dan kata paddy dalam bahasa Inggris. Open house sendiri dipakai oleh penutur bahasa Indonesia, lewat pewartaan luas yang dilakukan oleh media serupa televisi dan koran, bukan karena tidak ada padanan katanya. Namun, seperti yang dibilang Mr. Open House, karena itu adalah “perihal gaya, perihal tren.”

Open house memang memiliki nalar-makna yang mirip dengan anjang sana, tatap-muka, atau silaturahmi, meskipun tidak ada latar tempat semacam “rumah” yang mengikat makna frasa tersebut. Namun, apalah susahnya kalau kita indonesiakan saja open house menjadi “buka-rumah”, misalnya. Kalau terus-terusan begini, jangan-jangan ada nanti suatu masa ketika hari raya Lebaran malah kemudian disebut sebagai hari raya Open House. Bah!

***

Nah, pembaca yang budiman, demikian rangkuman liputan Lebaran LIDAHIBU kali ini. Semoga dapat menambah pengetahuan pembaca sekalian tentang gejala pemakaian bahasa di masa Lebaran tahun ini. Mungkin banyak kekurangannya. Contohnya, tidak hadirnya liputan tentang Bpk. Mudik. Hal itu dikarenakan wartawan LIDAHIBU belum menemukan tempat tinggal beliau, sehingga LIDAHIBU belum mampu meliputnya. Sampai berjumpa lagi di liputan Berita Gejala LIDAHIBU edisi percobaan #3. Merdeheka!!

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

2 komentar
Berikan komentar »

  1. He..He..lucu sekali. Saya suka cara menuliskan pengetahuan yang kadang terabaikan karena dinilai remeh dengan bahasa guyon, lucu seperti ini. Biar lucu tapi mengandung makna. Ternyata kita memang selalu terpesona, terpana dan terbata-bata meniru dan mengimpor bahasa asing. Mungkinkah meniru kosakata karena pengin terlihat keren-beken ini akibat mental kita yang terjajah bangsa asing sekian lama, hingga kita tidak pede dengan bahasa kita sendiri.

    Sophie did not rate this post.
  2. Sophie yang baik,

    Gaya bercerita semacam ini digunakan oleh LIDAHIBU di masa-masa awal penerbitannya. Saat itu, setiap edisi kami beri embel-embel “edisi percobaan”. Dalam perkembangannya, gaya bercerita ini pun berubah-ubah, berganti kulit, karena ternyata memang tidak mudah menyampaikan sesuatu “yang lebih serius” dengan gaya bercerita yang sama guyonnya seperti ini.

    Kepercayadirian dalam menggunakan bahasa sendiri mungkin memang tidak bisa diwariskan; maksudnya, tidak genetis. Tapi, bisa dipahat, ditempa, dan diperoleh. Bahasa yang akan bertahan dari kikisan waktu, tak bisa dimungkiri, adalah bahasa yang terbuka terhadap sumbangan kosakata dari bahasa-bahasa lain. Itu sudah hampir seperti aksioma; hampir mutlak syaratnya. Bahasa Indonesia sudah punya tabiat itu. Coba Sophie baca buku karangan Alif Danya Munsyi (alias Remy Sylado) yang berjudul “9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing” yang diterbitkan oleh KPG dan Pustaka Firdaus. Buku itu adalah satu lumbung pengetahuan etimologis yang berguna untuk mengenal lebih dekat asal-muasal kosakata bahasa Indonesia.

    Pun begitu, LIDAHIBU setuju dengan Sophie: bahwa keterpesonaan, keterpanaan, dan keterbata-bataan semata tidak cukup sebagai syarat bernas untuk “meminjam” kosakata dari bahasa asing. Peminjaman kosakata diperlukan bukan cuma untuk mendukung minat pribadi atas kekerenan diri dalam berbahasa. Kalau ketrampilan berbahasa hanya untuk “pethantang-pethenteng”, apalah gunanya; hanya seperti kehampaan yang dibungkus dengan meriah saja.

    Terima kasih, Sophie, atas komentarnya.

    Tabik!

    Lidahibu did not rate this post.

Berikan Komentar