“Inul itu Diva?” dan “The Professor and The Madman”

15 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Pustaka Gokil

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan dan Wahyu Adi Putra Ginting

Kembali LIDAHIBU edisi percobaan #2 mempersembahkan ulasan singkat yang asoy nan geboy tentang pustaka-pustaka yang berkaitan dengan kajian bahasa. Ruang ini LIDAHIBU sediakan agar pembaca memiliki tambahan berita tentang buku-buku apa saja yang menarik dan menantang untuk disimak, untuk menambah pengetahuan pembaca sekalian perihal alat sambung-nalar manusia - BAHASA. Kali ini ada sepasang pustaka gokil yang akan kami ulas. Tidak usah berlama-lama bercasciscus, langsung saja kita sambut dua pustaka yang menjadi bintang tamu Pustaka Gokil kali ini!

Pustaka Pertama

Judul                                    :Inul itu Diva? Kumpulan Kolom Bahasa Kompas

Penyunting                        :Salomo Simanungkalit

Penerbit                              :Penerbit Buku Kompas

Tahun Terbit                     :2003

Kota Terbit                         :Jakarta

Jumlah Halaman               :xiv+210 halaman

Ulasan

Coba tebak ada berapa tulisan dalam kitab sakti ini? 99 atau 100, hayo. Atau, malah tidak ada tulisan? Yup, tepatnya ada 48 tulisan dalam kitab sakti ini, yang berasal dari kolom Bahasa Kompas. Pembukuan kumpulan kolom Bahasa ini memang dimaksudkan untuk menambah kepraktisan, agar dapat dibawa kemana-mana, mudah dibaca, kapan saja, dan dimana saja sehingga pembaca mulai dapat mengkilokan koran-korannya (lumayan untuk nambah uang saku). Tulisan-tulisan dalam buku ini sebagian besar menyoroti masalah sosiolinguistik. Para penulis berkeyakinan bahwa ada garis merah yang sangat tebal antara pekerti sosial dan perangai berbahasa di kalangan orang Indonesia saat ini, yang dicirikan dalam buku ini dengan Asal Keren, Asal-asalan, dan Asal Bentuk. Ada juga yang bersifat saran pada halaman-halaman Agar Tepat; yang informatif pada halaman Asal-Usul; sedang yang menggugat bahasa yang kadung dianggap baik dan benar ada di bagian Mengasalkan. Misalnya saja, di bagian Asal Keren ada tulisan tentang ‘aktor intelektual’ yang ternyata salah kaprah, yang dipakai wartawan yang samar-samar tahu tentang auctor intellectuallis sebagaimana dipakai dalam bahasa Belanda. Menyusul, ada asal-usul ‘kambing hitam’ dan ‘mata keranjang’ di bagian Asal-Usul, juga ‘pemimpin’ dan ‘pimpinan’ yang ternyata bermakna berbeda. Lalu, di manakah Inul?

Dari pengamatan secara seksama dalam tempo tidak singkat, ternyata Asal Keren bertengger di puncak singgasana dan secara langsung bebas dan terbuka menelanjangi tabiat berbahasa yang bersejajar dengan watak sosial orang-orang Indonesia yang hiruk pikuk di panggung publik: asal keren, asal gagah, keliru tak mau tahu. Sekali lagi, dimanakah Inul? Apakah Inul itu Diva? Apakah Inul peduli dengan diva-divaan? Jawabannya ada di kitab sakti ini.

Pustaka Kedua

Judul                                     : The Professor and The Madman

Pengarang                          : Simon Winchester

Penerjemah                       : Bern Hidayat

Penerbit                              : PT Serambi Ilmu Semesta

Tahun Terbit                      : 2007

Kota Terbit                          : Jakarta

Jumlah Halaman               : 334 halaman

Ulasan

Buku The Professor and The Madman yang diulas ini adalah sebuah karya terjemahan dari karya asli, dengan judul yang sama, yang diterbitkan oleh Harper Perennial, New York, 1999. Agak susah juga menentukan jenis buku ini: gaya penulisannya seperti esai, dengan rincian peristiwa yang melimpah-ruah, namun cara-tuturnya adalah sastra. Menurut pengakuan yang dapat ditemui di sampul depan buku, The Professor and The Madman adalah “sebuah dongeng tentang pembunuhan, kegilaan, dan pembuatan Oxford English Dictionary.” Ya! Buku ini bercerita tentang proses penulisan kamus Oxford yang termashyur otoritasnya itu. Percaya tak percaya, kamus Oxford yang sekarang dengan mudah bisa kita dapatkan di toko buku terdekat, baik kamus yang asli sampai yang dibajak, ternyata memakan waktu sekitar tujuh puluh tahun sebelum diterbitkan untuk pertama kali. Diceritakan di awal buku, Dr. James Murray, sang penyunting kamus, pada tahun 1896 melakukan kunjungan ke Desa Crowthorne, Kabupaten Berkshire, yang berjarak lima puluh mil dari Oxford, Inggris. Dr. Murray mengunjungi Dr. W.C. Minor. Kunjungannya itu bukan tanpa alasan. Dr. Minor adalah salah seorang penyumbang-sukarela yang paling aktif dalam proses pengayaan persediaan kosakata untuk penulisan kamus paling ambisius yang pernah ditulis, Oxford English Dictionary.

The Professor and The Madman menjabarkan peristiwa-peristiwa penting, secara kronologis, yang menentukan nasib proyek penulisan kamus besar bahasa Inggris ini. Hari Guy Fawkes, 5 November 1857, adalah hari ketika ide tentang pembuatan kamus Oxford dilontarkan. Orang yang dengan lantang mengajukan ide itu adalah Richard Chenevix Trench. Tak lama berselang, gagasan berani tersebut ditanggapi banyak orang. Namun, ada banyak aral melintang. Oxford sendiri pada awalnya menolak untuk menyokong penerbitan kitab kosakata itu. Namun, perjuangan untuk membujuk kampus pertama di Inggris itu membuahkan hasil. Selebaranpun ditebar, para penyumbang sukarelawan dicari, diberikan bahan untuk mengorek dengan teliti dan kemudian mendaftar kata-kata yang terdapat dalam pustaka-pustaka pilihan yang menjadi sumur lema, yang darinyalah barisan entri kamus Oxford itu diambil. Jumlah pustaka yang dipilih tidak tanggung-tanggung banyaknya. Kalau ditimbang, beratnya bisa dua ton lebih. Para penyunting kamuspun dibanjiri jutaan slip kertas berisi daftar kata-kata yang dipilih oleh para penyumbang. Tujuh puluh tahun kemudian, dengan berbagai lika-likunya, Kamus Bahasa Inggris Oxford resmi diterbitkan.

The Professor and The Madman dengan apik menyajikan informasi-informasi yang dapat pembaca jadikan semacam gambaran untuk membayangkan proses pembuatan sebuah kamus. Jangan lewatkan novel linguistik yang satu ini.

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar