Nisbi, Panggah, Penad, Mangkus, Sangkil

15 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Khazanah Kata Bahasa Indonesia

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

Mejuah-juah! Kali ini suratkabar bahasa kesayangan kita, LIDAHIBU, dengan bangga memperkenalkan sebuah ruang baru: KHAZANAH LEMA BAHASA INDONESIA. Ruang ini dibuat khusus untuk menghadirkan padanan kosakata bahasa Indonesia (bahasa yang, seperti tertuang dalam Soempah Pemoeda 1928, menjadi bahasa pemersatu Nusantara) terhadap kosakata asing yang diserap oleh penutur bahasa Indonesia. Sederhananya, ruang ini berbentuk kamus mungil yang dapat pembaca jadikan acuan untuk mencari padanan kosakata asing dalam kosakata Bahasa Indonesia.

Sebelumnya, perlu LIDAHIBU kabarkan bahwa yang dimaksud dengan frase Bahasa Indonesia di sini adalah lema yang tersua dalam perbendaharaan kosakata Nusantara. Setelah melakukan banyak obrolan dengan cendikiawan bahasa, LIDAHIBU dapat menyimpulkan bahwa ada beberapa tahap yang harus ditempuh sebelum memasukkan kosakata asing ke dalam bahasa Indonesia: (1) menggali khazanah kosakata bahasa Indonesia, yang mempunyai nalar-makna sama dengan kosakata asing tersebut; (2) jika tidak ada, menggali khazanah kosakata nusantara (daerah) yang memiliki nalar-makna sama dengan kosakata asing tersebut; dan (3) jika tidak ada, menyerap kosakata asing tersebut dengan melakukan penyesuaian ejaan, yang diawali dengan penyesuaian bunyi.

Andre Moeler, seorang cerdik-pikir asing yang pernah menimba ilmu di Yogyakarta, dalam sebuah tulisan singkat yang dimuat dalam Kolom Bahasa Kompas terbitan 25 November, 2000, pernah menyatakan kekesalannya terhadap kecenderungan penutur Bahasa Indonesia yang senang sekali menyelipkan kosakata Inggris dalam tuturannya.

“Dulu saya berpendapat bahwa Bahasa Indonesia barangkali tidak mampu memenuhi semua kebutuhan berbahasa. Pendapat ini sering juga dikemukakan orang Indonesia sendiri. Bahasa Indonesia digambarkan sebagai bahasa yang agak sederhana, kurang lengkap, bahkan miskin akan kata dan cara-cara berbahasa. Setelah direnungkan lebih jauh, pendapat ini harus saya buang. Masalahnya bukan pada ketidakadaan alternatif dalam bahasa Indonesia, tetapi pada ketidaksediaan orang memakai kata-kata Indonesia,” begitu salah satu penggalan yang LIDAHIBU anggap penting dalam tulisannya.

Bah! Zadi ternyata orang Endonesia sendiri yang nggak mau menggali dalam-dalam harta karun kosakata dalam Bahasa Indonesia itu (dibaca dengan logat Batak Toba - red).

Maka dari itu, daripada berlarut-larut merenungi nasib menjadi “pengacara” alias pengangguran banyak acara, anaknongkrong LIDAHIBU bertekad untuk menjelajahi bumi-pustaka nusantara, mengambil sekop dan cangkul (kalau perlu bulldozer sekalian) untuk menggali harta karun kosakata Indonesia. Lebih lanjut, mengacu pada alinea kedua tulisan pengantar ini, tahap nomor tiga tidak akan LIDAHIBU jadikan acuan untuk menyusun kamus mungil yang sebentar lagi akan pembaca simak.

Untuk edisi Percobaan #2 ini, LIDAHIBU akan menghadirkan lima kosakata asing yang selama ini banyak disangka orang tak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Lima dulu, ya. Kalau banyak-banyak, nanti habis sudah persediaan. Hehehe… Silahkan menikmati.

-          re.la.tive, (kt. sifat) (sering dituturkan sebagai relatif) >nisbi;  kenisbian (relativity [relativitas]); nisbian (relativistic [relativistik])

-          con.sist.ent, (kt. sifat) (sering dituturkan sebagai konsisten) > panggah; kepanggahan (consistency [konsistensi])

-          rel.e.vant, (kt. sifat) (sering dituturkan sebagai relefan atau dituliskan sebagai relevan) > penad

-          ef.fec.tive, (kt. sifat) (sering dituturkan sebagai efektif) > mangkus; kemangkusan (effectiveness [efektifitas])

-          ef.fi.cient, (kt. sifat) (sering dituturkan sebagai efisien) > sangkil; kesangkilan (efficiency [efisiensi])

Heya! Demikian sedikit pengantar dan tawaran padanan lima kosakata yang bisa LIDAHIBU sampaikan kepada pembaca yang budiman kali ini. Semoga ruang ini dapat menyemangati keloyoan penutur bahasa Indonesia kebanyakan dalam menggali khazanah lema bahasa Indonesia. Agar, seperti Remy Sylado bilang, syair lagu perjuangan Soempah Pemoeda 1928 tidak berubah menjadi “Satu Nusa, Satu Bangsa, Dua Languages.”

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar