Oh, Maret Berisik!

15 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

Oh, Maret BerisikDalam mimpi seorang kawan LIDAHIBU, tersua sebuah cerita tidak lucu, yang mungkin membosankan. Ia bercerita bahwa, di dalam mimpinya, ia telah berhasil menciptakan sebuah alat yang dapat menghitung jumlah kata-kata yang diucapkan dan ditulis oleh para manusia di muka bumi ini. Singkatnya, semacam alat penghitung kata. Kawan tersebut juga menjelaskan bahwa alat ini bisa diatur untuk mengetahui aktivitas kata-kata di suatu daerah, di suatu masa. Hebatnya lagi, alat itu sanggup menembus waktu sampai ke masa purba. Suatu temuan yang menarik! Sayangnya, waktu kawan tersebut diwawancarai oleh LIDAHIBU, ia berkata bahwa alatnya tiba-tiba meledak, rusak, dan mengeluarkan bau-bauan, yang menurutnya belum pernah terendus hidungnya. Sayang tulisan ini tak berbau, padahal ia rela berbagi dengan para pembaca. Selidik punya selidik, ternyata ia tak sengaja mengatur alatnya menujuk ‘Maret 2009′; dan penanda tempat menunjukkan ‘Indonesia’. Pantas! Bukankah bulan Maret ini aktivitas kata-kata meningkat? Inikah gejala obral kata-kata? Ataukah, obral yang lain? Kalau obral yang lain, apa maksudnya pula hal lain itu?

(Maaf menyela. Saya hendak ganti gaya penulisan.)

Maret ini, khayalak ramai bermulut-mulutan tentang hal yang hampir seragam: Pemilu, kekuasaan, janji, si ini-itu caleg tersayang yang mau maju Pemilu, rakyat (yang konon bersuara Tuhan), tentang Indonesia, tentang bunga-bunga kata, tentang kebosanan. Semua berharap-harap cemas menantikan 9 April.

Soal Pemilu pun sudah jadi bahasan empuk untuk LIDAHIBU, bahkan LIDAHIBU kerap memajang foto yang berhubungan dengan Pemilu (misalnya dari Panwaslu DIY); atau mengulasnya, seperti di edisi percobaan 10: Slogan Tuna-Nalar. Rasanya-rasanya, laporan yang lalu juga akan menghantui laporan ini. Tidak masalah. Tidak masalah, bukan?

Sebagai awalan yang benar-benar serius, perlu menjadi perhatian bahwa laporan kali ini adalah sebuah gado-gado, yang sayangnya tak memegang satu keutuhan, dan hampir dipastikan kedodoran sana-sini. Namun, ayo, kita nikmati saja!

Obral Barang

Dari penelusuran selama beberapa hari di daerah Yogyakarta, dibulan Maret ini banyak toko-toko mengadakan obral. Dalam keadaan seperti sekarang ini, siapa yang tidak tertarik pada obral? Coba kalau pembaca peduli dengan sekeliling, ada banyak wajah yang menua seketika, muram, takut di PHK, takut hidup, dan takut mati. Semua terlihat dihantui sebuah permasalahan besar bernama krisis keuangan dunia. Orang-orang mulai berpikir seribu kali seribu untuk membelanjakan uangnya. Dan kalau daya beli khayalak menurun, akibatnya perputaran uang menjadi terhambat dan dampaknya ini dan itu. Begitupun, narasi kesuraman ini tak akan LIDAHIBU perpanjang, para pembaca pasti sudah tahu kondisi ini.

Entah berkenaan dengan peristiwa khusus apa, namun terlihat ada kesepakatan yang tak tertulis untuk mengadakan obral pada bulan Maret ini. Apakah ini semacam upaya meningkatkan gairah beli di masyarakat? Bisa jadi.

Awal bulan maret sudah dibuka dengan obral buku di pameran buku. Tengah Maret ini banyak produk sandang dan sepatu yang terkena potongan harga. Menyusul pula obral buku lagi. Berapa persen? Tergantung masing-masing penyelenggara obral. Terlihat ada yang berani menawarkan diskon sampai dengan 70%. Tentu ini sangat menarik. Di zaman krisis seperti ini, kalau pembaca memang menganggapnya sebagai sebuah krisis, tentu hal seperti itu menjadi oase di tengah padang gurun. Apalagi, bagi mereka yang berpredikat ‘penggila belanja’, saatnyalah bagi mereka untuk menampakkan batang hidungnya dalam dunia penuh kortingan ini.

Sekilas tak ada yang aneh dengan hal ini. Namun, bila dicermati, mengapa bulan Maret ini menjadi seragam penuh diskon? Bukankah para peramal yakin bahwa 2009 tak akan lebih baik dari 2008, tahun penuh kerja keras? Dari segi fitur makna, kata obral pun sebenarnya tidak memiliki nalar ‘batasan penyelenggaraan’. Tetapi, biasanya obral akan diadakan pada akhir tahun atau awal tahun, atau pada saat hari raya dan peristiwa-peristiwa khusus lainnya. Tak heran, saat ini, jika pembaca berkeliling, pembaca pasti akan menemukan tampilan angka-angka, maupun tulisan yang berarti ‘potongan harga’.

Dominasi bahasa Inggris memang kuat, sekalipun ini Indonesia. Lema seperti sale, off, up to, dan discount hadir mengakrabi mata pengunjung. Strategi tipografi, berkaitan dengan pencetakan besar-kecilnya huruf atau tampilan, juga menjadi senjata utama. Contohnya, penulisan nilai nominal diskon yang sengaja diperbesar: tulisan ‘40%’ (ditulis besar sekali) dalam papan sebesar 30×30 cm. Juga, penulisan up to, hingga, atau sampai dengan yang sengaja diperkecil agar tak terlihat. Dan perhatian pengunjung akan tetap terpukau pada penulisan angka ‘40%’ tersebut. Warna juga tak kalah penting. Warna yang mencolok mata dipakai sebagai pemikat minat pengun jung. Warna merah, putih, hitam biasanya menjadi petugas tetap untuk urusan yang satu ini. Dengan ini semua, orang pasti tergiur untuk membeli, secara sadar atau tak sadar, dan pulang dengan senyum kemenangan. Mendapat rabat memang menguntungkan. Dalam obral tersebut, para penjual lebih giat menyuruh anak buahnya untuk ‘mencuci gudang’.

Jika pembaca perhatikan, LIDAHIBU menebar kata-kata yang terlihat tidak panggah (padanan: konsisten) dipakai: obral, diskon, potongan harga, korting, rabat, dan cuci gudang. Mari kita amati lebih dekat dan dengan lebih bersahabat!

Obral sudah menggejala, lajunya tak terbendung di bulan Maret ini. Obral menjadi sebuah tren, sebuah kerinduan, sebuah gaya hidup, dan pola pikir. Kata ini secara umum sangat akrab di telinga masyarakat, bahkan menembus pembatas khayali antar kelas, yang ditegaskan dengan adanya status kepemilikan. Tanya saja kepada rakyat paria, sampai kepada para satriya, juga para waisya negeri ini. Mereka mengenalnya dengan baik. ‘Menjual barang dengan harga murah (dengan maksud menghabiskan barang, mengosongkan gudang)’ memang suatu hal yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Kata obral sebenarnya lema salah kaprah dari penerjemahan kata bahasa Belanda overall, yang berarti ’semua tempat, dimana-mana, seluruhnya’. Padahal, dalam bahasa Belanda, yang dimaksudkan dengan obral adalah uitverkoop. Menyoal pelaksanaan obral, ternyata, obral bisa terjadi kapan saja asalkan si pihak penjual mau melakukannya, dengan syarat: barang yang dijual lebih murah dengan harga biasa, tujuannya untuk menghabiskan persediaan barang yang berlebih, dan punya barang berlebih untuk dihabiskan. Sederhana, bukan?

Kiranya kata obral sudah tidak terlalu keren lagi diucapkan. Frase yang belum masuk dalam kamus bahasa kita dan mempunyai usia anak kemarin sore berhasil menggantikan kata obral, yaitu frase cuci gudang. Lema ini sebenarnya merupakan kreasi penerjemahan frase bahasa Inggris yang artinya setali tiga uang dengan lema obral di Indonesia, yaitu clearance sale. Sedangkan kata-kata: potongan harga, diskon, rabat, dan korting adalah saudara yang diikat oleh kesama-maknaan. Yang membedakan adalah bahwa lema korting masih berada dalam ragam cakapan. Rabat pun bukan termasuk lema yang tersohor.

Obral Janji

Ini bulan obral, Bung!

Intensitas kegiatan bahasa (kata-kata) meningkat di bulan Maret ini. Keran-keran kampanye dibuka. Berbulan-bulan bermain dengan bahasa tulis dalam slogan-slogan, saatnya beralih pada kemampuan wicara.

Ternyata obral yang dipakai disini menyangkut makna kiasan ‘mengeluarkan (memakai) secara banyak-banyak’. Tepat sekali apabila dihubungkan dengan masa kampanye ini. Banyak orang yang murah-senyum dalam foto-foto di jalan, banyak orang yang tiba-tiba terkenal, banyak orang yang tiba-tiba baik, banyak orang yang lain dan yang lain-lain. Kalau boleh, LIDAHIBU ingin sedikit mengasosiasikan keadaan tersebut dengan kiasan umbar, yang berarti ‘membiarkan berbuat sekehendak hatinya’. Pembaca menangkap kesan negatif pada asosiasi ini?

***

Kalau pembaca sempat membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, lema janji sangat bercabang artinya. Di samping arti yang lazim dipahami, janji juga bisa berarti ‘penundaan waktu, penangguhan’. Nah, sebenarnya arti janji yang mana yang diucapkan oleh para ‘pembela kepentingan rakyat’ ini? Ingat bahwa bahasa yang sudah menjadi sebuah dunia yang otonom adalah sebuah dunia dengan pemisahan-pemisahan radikal: antara penanda dan tertanda pun berlaku sifat sewenang-wenang. Kekacauan terjadi bila para pemberi janji itu mengubah petanda janji tersebut sesuai dengan irama hatinya. Mereka yang berkuasa akan sangat mudah melakukannya dan memaksakan tertanda kata tersebut: sebuah represi linguistik.

Masih ingat slogan-slogan dalam iklan kampanye? Laporan LIDAHIBU edisi percobaan 10 sudah mengulasnya. Sebagai tambahan, slogan tersebut, dari sudut pandang tertentu, bisa dikatakan mempunyai kesan pembatasan (menjadikan sesuatu lebih spesifik). Artinya, jika pembatasan itu tak terpenuhi, hasilnya adalah sebuah kekacauan. Contoh, si cantik Luna. Luna dibatasi oleh kata sifat cantik, yang kemudian membedakan Luna dengan Luna-Luna yang lain. Jika Luna cantik itu tidak cantik, bukankah itu adalah sebuah masalah? (Masalah kecantikan memiliki nalar sangat relatif, LIDAHIBU mencoba memaknainya dengan indikator kecantikan secara umum). Jika sebuah calon petinggi berslogan adil, namun dia tidak adil, bukankah itu sebuah masalah?

Waspadalah selalu pada janji-janji. Siapa tahu hanya janji gombal! Juga, jangan sampai mulut satu lidah bertopang (perkataan berbeda dengan hati).

***

Di tengah berisiknya bulan Maret, ada satu daerah yang pasti sepi: Bali, tanggal 26 Maret 2009. Di tengah berisiknya bulan Maret, ada baiknya kita menyepi sejenak: merenungkan kembali obral-kata-obral-janji yang merecoki telinga; memeriksa kepantasan diri; memeriksa kepantasan bahasa kita. Di tengah berisiknya bulan Maret:  Selamat Hari Raya Nyepi untuk saudara-saudara sekalian.

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar