Olah-lidah dan Rekayasa Citra
15 April, 2009 | | Kategori: Berita Gejala
Ini adalah tajuk dari program berita stasiun TV FOX yang dikhususkan untuk meliput berita perang AS-Irak. Gambar diambil dari sebuah film dokumenter, Weapon of Mass Deception, garapan Danny Schechter, seorang pengkritik mediamassa arusutama AS. Diceritakan, sebelum bertajuk Operation Iraqi Freedom, tajuk awal yang ditawarkan adalah Operation Iraqi Liberation. Tapi tak lulus sensor karena dapat disingkat OIL (’minyak’). (LI/27/02/09)
Apa yang membuat frase Lumpur Lapindo berbeda dengan Lumpur Sidoarjo? Apa yang tertangkap benak pembaca ketika melafalkan lirik lagu nasional: Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita…? Atau, mengapa pula stasiun televisi FOX di AS mengganti tajuk program berita peliputan perang Irak garapannya dari Operation Iraqi Liberation menjadi Operation Iraqi Freedom? Sekilas kesemua frase tersebut tampak adem-ayem dan tuna-masalah. Namun, sebenarnya, ada tersimpan nalar-makna mematikan yang dikandungnya. Nalar-makna yang menentukan makna-dampak macam apa yang akan terpancar (baca: tercitra) ke dan tertangkap oleh para pembaca teks. Di seputar utak-atik lema, penggunaan gaya, rekayasa pencitraan, dan penyebarluasan lema-lah LIDAHIBU akan mengajak pembaca berolah-nalar pada kesempatan kali ini.
AADC (Ada Apa dengan Citra?)
Ada apa dengan citra? Mengapa ia menjadi begitu penting sehingga LIDAHIBU tertarik membahasnya? Mungkin pertanyaan itu muncul di benak pembaca. Nah, mari sama-sama telusuri ada apa dengannya.
Menurut KBBI, citra adalah lema berpangkat nomina yang bermakna: [1] ‘rupa; gambar; gambaran’, [2] ‘Man. gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi, atau produk, [3] ‘Sas. kesan mental yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frase, atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa dan puisi.’ Dari ketiga makna yang tersebut barusan, jelaslah bahwa citra memiliki ciri-makna ‘gambar(an) tentang sesuatu yang memancarkan kesan batin bagi yang melihat atau membaca.’
Lebih jauh, KBBI juga mencatat dua makna tambahan yang berakar dari ragam lema citra: citra politik dan citraan. Citra politik berarti ‘gambaran diri yang ingin diciptakan oleh seorang tokoh masyarakat’; citraan berarti ‘cara membentuk citra mental pribadi, atau gambaran sesuatu.’ Sebagai sebuah gambaran ‘diri’ atau ‘mental pribadi’, citra menuai makna ‘kesan’, yang mungkin ‘tak nyata’. Namun, ‘kesan’ menjadi begitu penting, terutama dalam menokohkan sebuah karakter tertentu pada diri seseorang. Banyak orang berusaha menciptakan kesan tertentu dengan tujuan khusus pula. Contohnya, seorang caleg, yang ikut berjibaku dalam medan persaingan Pemilu, berusaha agar dapat terkesan ‘cendikia’,'religius’, ‘peduli masyarakat’, tersohor’, dst. dsb., dengan merangkai bermacam kata atau gambar yang mencitrakan nalar-makna tersebut. Maka, tak usahlah heran kalau poster atau baliho kampanye Pemilu sekarang begitu sesak dan sibuk. Itu semua karena para caleg tersebut begitu getol dan rakusnya pada pencitraan-diri - semua kesan ingin dilahap dan dipancarkan.
Campur-kode pun tak terelakkan: ada caleg yang, demi memunculkan kesan cendikia, menjadikan gambar Einstein sebagai latar posternya; ada caleg yang, demi memunculkan kesan kesohoran, menjadikan gambar David Beckham sebagai ikon balihonya (sembari dengan ‘terlalu pintar’ menghubung-hubungkan nomor punggung seragam sepakbola doi dengan nomor urut partai atau calegnya); ada juga caleg yang, demi memunculkan kesan peduli masyarakat, menyarankan para orang-tua menemani anak-anak mereka saat menonton televisi, seraya membuat poster dengan gambar TV yang di layarnya hanya tergambar logo partainya saja (kalau tayangannya macam itu sih penonton memang harus hati-hati - red). Jagad Pramudita! Begitu mendewa-dewikah citra sehingga sampai-sampai kekonyolan banyak terjadi dalam usaha meminangnya.
Bagaimanapun, (pen)citra(an) adalah alat untuk mengada. Dan mengada ialah salah satu syarat bertahan hidup secara batin di masyarakat. Pantas saja citra menjadi begitu dipuja. Tentu saja, sebagai alat penyampai maksud, lidah (baca: bahasa) menjadi kebutuhan mutlak bagi pencitraan diri sesuatu/seseorang. Di sini, bahasa menjadi sangat penting perannya. Lewat olah-lidah alias olah-kata, bahasa (dalam hal ini, kata) dapat secara hampir niscaya dan ajaib berubah-wujud menjadi alat ampuh yang mampu memancarkan kesan yang diinginkan.
Lomba Olah-lidah Merebut Citra
Kata adalah kekuatan yang secara tak terduga mampu menciptakan dampak-kejut yang membahana. Para pakar rekayasa-citra tentu menganggap kata (bahasa) terlalu berharga untuk diabaikan karena kata adalah sesuatu yang tak tersangkal dalam kehidupan manusia. Namun, kata saja tidaklah cukup untuk meramu-terapkan citra. Harus ada yang diolah. LIDAHIBU menyebut olah ini sebagai olah-lidah. Lalu apa jodoh antara olah-lidah dan rekayasa-citra?
Kita kembali sejenak ke beberapa frase yang LIDAHIBU tampilkan di paragraf awal tadi: Lumpur Lapindo - Lumpur Sidoarjo, Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa…, dan Operation Iraqi Liberation - Operation Iraqi Freedom. Perlu LIDAHIBU tegaskan bahwa ketiga kasus yang diangkat ini bukanlah kasus khayali. Ketiga kasus itu nyata terjadi.
Sekarang, mari lihat apa beda Lumpur Lapindo dengan Lumpur Sidoarjo. Frase yang pertama jelas-jelas mengasosiasikan bencana lumpur, yang terjadi di Sidoarjo sejak tahun 2006 silam, dengan perusahaan milik Bakrie Bersaudara: Lapindo. Citra yang terkesan dari frase Lumpur Lapindo adalah bahwa perusahaan tambang itu erat kaitannya, maka berat pula tanggung-jawabnya, terhadap bencana Lumpur. Citra ini dimasyarakatkan, umumnya, lewat mediamassa cetak maupun elektronik. Lalu coba bayangkan kalau seluruh alat sosialisasi tadi mengganti frase tersebut ke Lumpur Sidoarjo. Maka, dampak-kejut yang akan terjadi adalah bahwa kesan ‘keterkaitan dan tanggung-jawab’ Lapindo akan tergerus pudar. Citra yang tertinggal dari frase Lumpur Sidoarjo hanyalah sebuah bencana alam berupa letupan lumpur yang terjadi di Porong, Sidoarjo. Sidoarjo cuma menjadi penanda geografis saja. Tidak lebih. Dengan demikian, Lapindo akan terlindungi citra (nama) ‘baik’nya.
Kita beranjak ke kasus kedua. Lirik lagu satu nusa, satu bangsa, satu bahasa… ini pernah digugat oleh Ajip Rosidi sebagai sebuah lirik yang menyesatkan, khususnya pada konteks bahasa. Lirik tersebut gencar dihubungkan dengan semangat nasionalisme yang bergaung lewat Sumpah Pemuda. Bahkan, lirik lagu tersebut sering dianggap sebagai isi dari sumpah itu sendiri. Mari perhatikan frase satu bahasa, yang menjadi sumber masalah. Pertama, satu bahasa bukanlah isi dari Sumpah Pemuda 1928. Yang sebenarnya termaktub adalah ‘menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia’. Menarik untuk diperhatikan betapa berhati-hatinya para pemoeda waktu itu ketika merumuskan kalimat dibya yang menjadi isi sumpah mereka. Nusa dan bangsa dianggap satu. Namun, begitu sampai pada perihal bahasa, yang tertuang adalah menjunjung tinggi dan bukan satu bahasa. Hal ini menjadi salah satu alasan yang membuat Indonesia tidak mengalami sengkarut konflik bahasa seperti yang dialami oleh Pakistan-Bangladesh pada 21 Februari, 1952, (cerita tentang tragedi ini akan LIDAHIBU ulas pada edisi percobaan #10). Indonesia adalah negara-bangsa dengan ratusan bahasa daerah. Nah, ketika lagu satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita… itu dinyanyikan terus menerus saat upacara bendera dan dilombakan dalam lomba paduan suara, maka secara sadar atau tidak nalar satu bahasa, bahasa Indonesia akan mengakar pada benak orang Indonesia. Apa akibatnya? Tentu saja pudarnya jumlah penutur bahasa daerah karena, sebagai warga negara Indonesia yang baik dan benar, mereka cuma berbahasa satu, bahasa Indonesia. Di sini, bahasa Indonesia berubah wajah, dari bahasa pemersatu menjadi bahasa pemusnah bahasa daerah. Sebenarnya, yang salah bukan bahasanya, sih. Tapi, pihak yang menyesatkan sumpah itu. Wah, kalau begitu, bisa-bisa kita malah disumpahi pemoeda.
Kemudian, kasus yang terjadi di negeri Si Sam. Dalam usahanya meliput perang Irak yang paling mutakhir, yang berkobar sejak tahun 2003, stasiun televisi FOX membuat suatu program berita bertajuk Operation Iraqi Liberation. Frase ini sebenarnya berkesan sangat heroik, karena mungkin yang ingin ditonjolkan adalah citra kepahlawanan AS dalam membebaskan Irak (dari cengkraman rezim Saddam Hussein yang dianggapnya paling berbahaya di dunia). Kesan tersebut tercitra lewat lema liberation. Tapi, alih-alih berhasil mensukseskan kesan heroik, tajuk ini malah ‘tak lulus sensor’. Lalu, frase Operation Iraqi Freedom ditawarkan sebagai pengganti. Apa alasannya? Karena frase Operation Iraqi Liberation dapat bermakna taksa (ambigu) kalau disingkat. Operation Iraqi Liberation disingkat OIL, yang dapat juga berarti ‘minyak’. Irak adalah pemasok minyak mentah dunia. Irak adalah hadiah besar bagi AS, yang menjadi rumah bagi bejibun perusahaan minyak trans-nasional. Nah, pemerintah AS takut kalau khalayak AS ’salah paham’ dengan singkatan tajuk program berita tersebut. Bisa jadi citra yang tercipta adalah bahwa perang di Irak adalah perang untuk merebut sumber daya minyak. Hal ini akan membuat citra kepahlawanan, membasmi si Jahat a la pangeran berkuda putih dan putri yang terkurung di menara, serta narasi pembebasan Irak dari rezim Saddam akan lantak tak bermuka. Makanya, frase tersebut diganti menjadi Operation Iraqi Freedom, sebuah tajuk yang bermakna sama tapi kalah taksa. FOX pun takluk. Lagipula, FOX juga dikenal sebagai mediamassa arusutama AS yang sangat pro pada pemerintah berkuasa. Jadi, ya, wajar saja.
***
Baru kita saksikan betapa olah-lidah alias utak-atik kata dapat berujung pada sebuah rekayasa citra yang tak terduga kemunculannya. Olah-lidah ini sebenarnya penuh tipu-daya dan penuh jeratan makna. Mediamassa cetak, elektronik, termasuk LIDAHIBU (ya, maap - red) adalah alat penyebar produk olah-lidah tadi. Mediamassa kerap dijadikan arena lomba olah-lidah dan rekayasa citra. Tapi, yang perlu diingat adalah bahwa selalu ada pihak-politis yang punya kepentingan terhadap rekayasa-citra - sekali lagi, karena citra, seperti bahasa, adalah alat pengukuh eksistensi manusia (sebuah kebutuhan batin yang mutlak dimiliki manusia dalam kehidupan bermasyarakatnya).
Apalagi, di saat-saat menjelang PEMILU sekarang. Banyak sekali tipu-kata yang menjebak pembaca kalau tak ada-mata-pada-kata. Gampang sekali kita akan terjebak pada propaganda ‘prestasi’ pemerintah BBM turun 3x (pertama dalam sejarah) kalau tak gesit mengelak dari jurus olah-lidah dan rekayasa citra tadi. Nah, pembaca LIDAHIBU, sudah tahu, kan, Ada Apa Dengan Citra?
