Spanduk Pemilu

15 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

p

Spanduk Pemilu yang digagas Panwaslu DIY ini diabadikan awak redaksi LIDAHIBU di perempatan Jalan Lingkar Utara - Affandi, Yogyakarta. Perhatikan spanduk secara menyeluruh: mengenaskan! Sekarang, tanpa diketahui alasannya, spanduk-aneh ini sudah diturunkan. (Dok: LIDAHIBU gtg, 10/1/09)

CLEAN: NO WAY MONEY POLITIC! Begitulah bunyi salah satu spanduk ‘menyambut PEMILU 2009′ yang terpampang di sisi selatan jalan perempatan Jalan Lingkar Utara - Affandi, Yogyakarta. Spanduk ini digagas oleh Panwaslu DIY. Wah, sepertinya sudah semakin banyak orang bule yang menjadi warga negara Indonesia, dan terdaftar sebagai pemilih di PEMILU kali ini. Maka, karena Bahasa Indonesia bule-bule itu belum fasih, lazimlah kalau harus ada spanduk bernafaskan Pemilu yang memuat pesan-pesan dalam bahasa Inggris.

Pemasyarakatan Peserta PEMILU

Sebagai perhelatan akbar lima-tahun-sekali, PEMILU tentunya mempunyai tempat khusus di nurani masyarakat Indonesia. PEMILU sering digembar-gemborkan sebagai ajang penentuan nasib bangsa: memilih partai, anggota perwakilan rakyat (yang kini sohor dengan akronim ‘caleg’), dan juga Presiden dan Wakil Presiden.

Seiring semakin banyaknya modal yang dimiliki oleh para peserta PEMILU, baik yang ‘caleg’ atau yang ‘capres’, dan seiring mereka semakin melek-iklan, maka pemasyarakatan citra para calon tadipun dilakukan dengan cara yang kian canggih dan ‘membabigila’. Baliho, poster, selebaran, spanduk, umbul-umbul, tempelan, kaos, topi, dan iklan di mediamassa (baik cetak atau elektronik) kini semakin menyesaki ruang hidup masyarakat Indonesia yang memang sudah sumpek. Uniknya, jarang ada diberitakan kampanye lewat usaha membantu korban bencana alam, banjir misalnya. Pergilah ke Jakarta atau Solo yang kini sedang dirudung basahnya banjir. Di antara genangan air yang kuning kecoklatan, lumpur yang mengendap, dan rumah dan buku Si Buyung yang terendam, tidaklah sulit menemukan gambar-gambar para calon perwakilan rakyat, yang selalu minta doa restu untuk dipilih.

Karena media kampanye semakin canggih dan ‘membabigila’, maka, ditinjau dari sudut pandang bahasa (sesuai semangat yang diusung LIDAHIBU), bermunculan pula berbagai gejala berolahbahasa yang turut meramaikan sumpeknya kampanye PEMILU kali ini. Mulai dari lema-lema berbau sesumbar, saling menjatuhkan, klise, sampai yang tak masuk akal dapat disua dengan mudah. Bayangkan saja, ada caleg di Yogyakarta yang menyertakan foto David Beckham, pesepakbola yang hendak dipinang AC Milan itu, di samping gambar wajahnya. Lawaknya lagi, di situ tertera tulisan ‘Beckham saja pilih nomor 7′! Rupanya caleg tadi juga bernomor urut 7. Anjuran LIDAHIBU: JANGAN PILIH CALEG MACAM ITU!  Di antara gejala penggunaan lema-lema ngawur-ngalor-ngidul dan berbau anyir itu, muncul pula gejala lain, yang bagi LIDAHIBU sudah menjadi sebuah gejala yang terlalu biasa dan sering membuat perut mual. Apalagi kalau bukan gejala sok ngingglis. Sejauh yang terpantau oleh LIDAHIBU, sudah ada satu contoh: spanduk bertuliskan CLEAN: NO WAY MONEY POLITIC! yang tertangkap mata dan kamera salah satu anaknongkorong LIDAHIBU. Tanpa menafikkan bertebarannya pokok-bahasan lain yang sama menariknya, LIDAHIBU kali ini akan membahas spanduk itu saja.

Untuk membahas gejala spanduk ‘aneh’ ini, LIDAHIBU menyiapkan beberapa rumusan pertanyaan. Rumusan pertanyaan tersebut akan LIDAHIBU bagi menjadi dua bagian: Dangkal dan Dalam. Pertanyaan-dangkalnya: Apakah tata bahasa, tanda baca, dan pilihan kata yang digunakan sudah tepat, sangkil, dan mangkus, jika ditilik dari sudut pandang bahasa Inggris? Pertanyaan-dalamnya: (1) Mengapa pakai bahasa Inggris? (2) Cocokkah penggunaan kalimat berbahasa Inggris tersebut dengan tampilan keseluruhan spanduk? (3) Siapakah pembaca yang dituju?

Dangkal

Mari perhatikan, secara kaidah, kefasihan kalimat bahasa Inggris yang tertera di spanduk CLEAN: NO WAY MONEY POLITIC!, yang, kalau diterjemahkan kata-per-kata, menjadi BERSIH: POLITIK UANG TIDAK SAMA SEKALI!. Sangat jelas bahwa spanduk ini berisi pesan yang mengingatkan bahwa ‘politik uang itu kotor’. Penggunaan tanda baca ‘:’ berfungsi sebagai pengganti kata-kerja-hubung semacam means atau is. Secara stilistika, kata-kerja-hubung yang digantikan oleh tanda baca ‘:’ berfungsi untuk mempersingkat kalimat, sekaligus membuatnya gampang diingat, dan juga menambah daya tohoknya - seperti yang sering ditemui di judul-judul berita suratkabar. Sampai disini tidak ada masalah.

Nah, di bagian setelahnya (NO WAY MONEY POLITIC!) baru muncul kegamangan dan kekagokan. Penggunaan ekspresi NO WAY terasa sangat janggal ketika dipadu dengan frasa MONEY POLITIC. Sedikit pemberitahuan, ekspresi no way! memang sempat beken di akhir tahun 90an, lewat pemeo reklame salah satu sampo anti-ketombe (ingat: “Ketombe? No way!”).

LIDAHIBU melakukan penyelidikan tentang ekspresi no way ini lewat kamus Longman Dictionary of American English. Di kamus ini, disua bahwa no way dikelompokkan pada frasa-ucap, yang punya dua ciri-guna: a) untuk mengatakan bahwa Anda (pembicara) sama sekali tidak akan melakukan atau mengizinkan sesuatu, seperti dalam kalimat “No way am I letting him know about this“; b) untuk menunjukkan ekspresi tidak percaya atau terkejut, seperti dalam kalimat “She’s 55? No way!“. Sebenarnya, no way (selalu disertai tanda seru) juga dapat digunakan untuk menunjukkan ‘ketidakmungkinan’ disertai ‘penolakan’, seperti dalam kalimat “Swimming across the sea? No way!“.

Kaidah penggunaan ekspresi no way seperti yang dipaparkan di atas sama sekali tidak terendus di spanduk. Alih-alih, bukankah akan terdengar lebih ngingglis kalau misalnya diganti menjadi, misalnya, “No Money Politic!” atau “Money Politic? No Way!”.

Permasalahan kedua ada di pengejaan kata politic. Berdasarkan kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary, lema politic berpangkat adjektiva, bermakna well-judged atau prudent, yang artinya, kira-kira, ‘bijak’, seperti dalam kalimat “When the chaos began, he thought it politic to leave,” terjemahannya: “Saat kerusuhan merebak, ia pikir, akan bijak kiranya kalau menghindar.” Nah, lho! Kok sama sekali tidak ada hubungannya dengan ‘politik’ atau ‘politik uang’, ya? Seperti itulah, yang namanya ngingglis memang ‘besar pongah dari nalar’, biar salah yang penting tenar! Harusnya, politic di spanduk itu dieja politics, lema berpangkat nomina, yang artinya ya ‘politik’. Wah, untuk yang ‘dangkal’ saja sudah menyalah, bagaimana yang ‘dalam’?

Dalam

Pastinya, LIDAHIBU bertanya-tanya apa perlunya spanduk berbahasa Inggris itu dibuat. Padahal, ada begitu banyak lagak-ucap asyik yang dapat didayagunakan untuk menyampaikan pesan yang sama, contohnya: (yang resmi dan agak imperatif) “MARI BERSIHKAN PEMILU DARI POLITIK UANG!”; (yang berbau fatwa) “POLITIK UANG? HARAM!”; (yang agak centil) “POLITIK UANG? IDIH…AMIT-AMIT!”; dan (tawaran LIDAHIBU) “POLITIK UANG DI PEMILU: POLITIK ORANG TAK KENAL MALU!”. Tuh, keren-keren, kan? Lebih akrab di telinga lagi. Lalu, mengapa tetap bahasa Inggris? Mungkin, karena frasa money politics (bukan money politic) lebih sering muncul, terutama di mediamassa-mediamassa, daripada ‘politik uang’. Mungkin juga, karena bahasa Inggris sudah kepalang dianggap sebagai lambang kecendikiaan, yang menjadi syarat mutlak seorang pemimpin di Indonesia. (Amin Rais dulu pernah mencibir Yuzril Izra Mahendra, yang dinilainya tak layak jadi presiden karena bahasa Inggrisnya kacau-beliau). Dan, mungkin lagi, alih-alih mencampur-campur money politic (bukan money politics) dengan Bahasa Indonesia, mendingan dibuat bahasa Inggrisnya sekalian saja, walau hasilnya ya begitu itu.

Satu hal yang parah, dan hampir membuat LIDAHIBU tertawa sembari menangis, adalah tampilan keseluruhan spanduk. Spanduk persegi-panjang yang terbuat dari kain itu dikerjakan dengan warna-latar merah-putih (ingat sesuatu tentang warna merah-putih?) dan di sebelah kanan spanduk tampak gambar Garuda Pancasila (ingat sesuatu tentang Garuda Pancasila?). Lalu, tulisan yang sok ngingglis itu menerobos masuk. Lengkap sudah penderitaan LIDAHIBU melihatnya. Sempat juga LIDAHIBU menghibur diri dengan menipu diri: mungkin ini tafsiran Panwaslu DIY atas falsafah kebhinnekaan Indonesia, ketika ditinjau dari sudut pandang bahasa. (Kehadiran bahasa Inggris juga salah satu pertanda keragaman Indonesia.) Sayangnya, Panwaslu DIY melakukannya secara salah-gelogok. Akh, menipu diri sendiri memang sulit dilakukan!

Siapa sebenarnya pembaca-sasaran yang dibidik oleh spanduk Panwaslu DIY ini? Apakah kaum muda-tua terdidik yang dipraduga pasti fasih berbahasa Inggris? Ataukah orang-orang Yogyakarta yang gemar berblablabla ria dengan bahasa Inggris njawani: (Welcham tu Yogyakarta, Serr. Dis is dhe ghlobal metrosity of kulturr en plesur. Enjoy yor stey, njeeh.)? Atau, seperti yang LIDAHIBU curigai sedari awal tadi: bule-bule yang sudah jadi warga Indonesia dan terdaftar juga sebagai pemilih di PEMILU kali ini?

LIDAHIBU sendiri juga tidak dapat memastikannya. Namun, setidaknya spanduk aneh itu telah menemukan satu pembacanya: LIDAHIBU! Gejala ini memang tidak dapat diangkat menjadi perlambang sebuah gejala berbahasa untuk konteks yang lebih luas karena sampelnya hanya satu. Dari petualangan yang LIDAHIBU lakukan di banyak ruas jalan di Yogyakarta, memang baru spanduk inilah satu-satunya yang memakai bahasa Inggris. Lainnya tidak. Begitupun, gejala kecil ini terlalu menarik untuk diabaikan. Ini menunjukkan betapa penerobosan bahasa Inggris sudah sedemikian jauh merasuk ke lingkungan berbahasa Indonesia. Kalau mau ditarik lebih panjang lagi, spanduk aneh dari Panwaslu DIY ini bukan satu-satunya contoh kegenitan berbahasa, dalam konteks PEMILU di Indonesia. Salah satu stasiun televisi swasta nasional menamai acara-khusus-PEMILU-nya dengan THE ELECTION CHANNEL.

Daripada channel-channelan, mending makan cenil saja. Selain manis dan murah, lidah tidak usah keseleo ketika mengunyahnya. Selamat memilih (untuk memilih dan tidak memilih).

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar