Taksa, Muktamar, Keterkaitan, Khazanah, dan Pranata
15 April, 2009 | | Kategori: Khazanah Kata Bahasa IndonesiaOleh Wahmuji
Sebagian pembaca pasti bertanya-tanya dalam hati kenapa anaknongkrong LIDAHIBU mesti repot-repot nyari lema (kosakata) Nusantara untuk dijadikan kemungkinan lain dari lema bahasa asing yang diserap langsung dan sudah populer. Lalu pembaca akan bertanya dan menanggapi sendiri: “[a]pa sich bedanya? Kan, maksudnya sama. Kurang kerjaan amat.”
Nah, begini alasannya. Menurut anaknongkrong LIDAHIBU, penyerapan lema bahasa asing itu tahap-tahapnya, seperti kata pribahasa, kelarai sesat taja (1). Kami tidak ingin kesalahan karena ketidakpahaman itu terus-menerus menjadi teralang-alang bagai sampah dalam mata (2). Hujan berpohon panas berasal (3), dan anaknongkrong LIDAHIBU ingin sesat surut terlangkah kembali (4).
Baiklah, tidak usah berlama-lama - mumpung Komisi Istilah masih mati suri.
Ini dia lema Nusantara tawaran LIDAHIBU edisi percobaan #4:
- Am.bi.guous (sering diserap dan dituturkan menjadi ambigu) taksa; ketaksaan (ambiguity [ambiguitas])
- Cong.ress (sering diserap dan dituturkan menjadai kongres) > muktamar, rapat akbar
- Cor.re.la.tion (sering diserap dan dituturkan menjadi korelasi) > keterkaitan, sambung-rapat
- Pro.per.ty (sering diserap dan dituturkan menjadi properti) > khazanah
- Struc.ture (sering diserap dan dituturkan menjadi struktur) > susunan, bangunan, pranata
Lima lema telah LIDAHIBU hadirkan. Diserakkan padi awak, diimbaukan orang lain (5). Itulah yang sering kita (setidaknya kami) lakukan. Salam jilat LIDAHIBU.
Keterangan
1.Suatu kesalahan yang memang sudah sejak semula
2.Kemusykilan yang tak terungkapkan
3.Segala perkara ada sebab-musababnya
4.Memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan
5.Orang lain dipelihara, bangsa sendiri disia-siakan

ku pikir yang ku cari ternyata….