Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi
17 April, 2009 | | Kategori: Tokoh BahasaOleh Wahyu Adi Putra Ginting
Sekapur Sirih
Mahardika! Ini dia hidangan baru di tahun baru. Memperkenalkan, sebuah rubrik yang akan mengakrabkan pembaca dengan insan-insan yang mencurahkan banyak sekali darana, nalar, rasa, dan sukma, untuk membaca gejala dan mengembangkan bahasa: Rubrik TOKOH BAHASA!
Rubrik ini berupa ulasan biografi ringkas tentang para tokoh yang jejak-langkah, tindak-tanduk, dan prayojana hidupnya banyak sekali disumbangkan untuk bahasa. LIDAHIBU sempat berpikir untuk menajuk ruang ini dengan sebutan TOKOH LINGUISTIK. Namun, tajuk demikian kiranya tidak memadai karena ‘linguistik’ terlanjur dijejali dengan berbagai ciri-makna semacam: kajian bahasa yang akademis, sarjana-cendikia-teoretis, yang semuanya mengacu pada tokoh-tokoh tertentu saja seperti, sebutlah, Bloomfield, Sapir, Saussure, Chomsky, Ladefoget, Aitchison, J.S. Badudu, Harimurti Kridalaksana, S.T. Alisyahbana, Anton M. Moeliono, Ayatrohaedi, atau P. Ari Subagyo, yang keseluruhannya pernah mengecap pendidikan akademis dan memiliki gelar akademis pula. Lalu bagaimana dengan Alif Danya Munsyi dan Sudjoko, yang tidak bergelar sarjana bahasa? Bagaimana pula dengan Dhinar Arga Dumadi dan Analisa Widyanigrum, yang merupakan Duta Bahasa Nasional 2008? Bagaimana dengan, tokoh yang akan segera kita kenal, Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi?
Untuk itulah LIDAHIBU memutuskan memakai judul TOKOH BAHASA saja. Bukan berarti nama-nama seperti Chomsky dan J.S. Badudu tidak akan dibahas, namun supaya lebih banyak lagi orang-orang yang dapat diperkenalkan.
Sekian perkenalannya. Kita mulai kisah ini dengan seseorang yang pernah dijuliki oleh C. Skinner sebagai ‘bapa sastra Melayu modern,’ (Skinner, 1959:2, tersua dalam Sweeney, 2005:12). Dialah Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi!
***
Awalnya, sempat terbersit kebingungan untuk mengeja nama: Abdullah bin Abdulkadir Munsyi atau Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi atau Abdullah bin Abdul Kadir Munsji? Cara eja tulis yang pertama tersua di situs melayuonline.com; yang kedua ada di buku karangan Amin Sweeney; dan yang ekor maktub di buku Inul Itu Diva?. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya yang kedualah yang LIDAHIBU pakai di rubrik ini. Alasannya memang terasa kurang kuat: buku Amin Sweeney adalah yang paling mutakhir yang membahas tentang karya lengkap Munsyi. Juga, tidak ada sumber ahli untuk memeriksa. Jadi, ya sudahlah, toh semuanya mengacu pada orang yang sama.
Munsyi lahir di Malaka tahun 1796 (meninggal di Jeddah tahun 1854). Ia berasal dari keluarga terpelajar. Ayahnya adalah seorang narasumber bagi Marsden, seorang peneliti bahasa Melayu asal Britania Raya. Meski lahir di Malaka (sekarang Malaysia), Munsyi sendiri banyak menghabiskan usianya di Singapura. Ia adalah seorang keturunan Arab. Tapi, konon, leluhurnya juga mewarisinya darah Tamil. Munsyi fasih berbicara bahasa dari India Selatan ini.
Sebenarnya, Munsyi mungkin lebih tepat disebut sebagai sastrawan alih-alih ahli bahasa. Ia menulis banyak karya realis-didaktis. Dua dari yang terkenal adalah Hikayat Abdullah dan Hikayat Panca Tanderan. Namun, karena kayanya kosakata Melayu yang dikuasainya, ia (dan karyanya) sering dijadikan tempat menimba pengetahuan bagi para peneliti bahasa Melayu dari Barat (Inggris dan Belanda). Bahkan, di masa pemerintahan Raffles, tepatnya 1814, William Milne dari London Missionary Society, meminta Munsyi untuk memeriksa ketepatan penerjemahan Injil versi Leijdecker - Injil yang ditulis dengan bahasa Melayu Tinggi pada 1733.
Menariknya, meski Malaka merupakan wilayah jajahan Inggris, kebanyakan cendikiawan yang tertarik untuk meneliti karya-karya Munsyi adalah orang Belanda. Ini masuk akal. Saat itu, Belanda sedang giat-giatnya menggagahi bahasa Melayu untuk dipakai sebagai bahasa administrasi di wilayah jajahannya, Indonesia. Bahasa Melayu Riau-Johor, dari Sumatera, adalah bahasa yang dicomot, dimurnikan dari pertautan budayanya, dijejali dengan logika tata-bahasa Belanda, dan diangkat sebagai bahasa Melayu Tinggi, oleh Belanda. Amin Sweeney mencatat bahwa karya-karya Munsyi sangat digemari oleh pihak penjajah karena sikapnya yang pro-Eropa, tepatnya pro-Inggris. Ini dianggap celah menarik oleh Belanda. Dalam teks Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan, yang diterbitkan dalam bahasa Belanda, dan menyiratkan pujian Munsyi pada pihak Inggris, setiap lema “Inggris” diganti menjadi “Orang Putih”, yang membuat seakan-akan Belanda juga kebagian jatah kue pujian dari Munsyi. Kolonial sekali, bukan?
H.C. Klinkert, cendikiawan asal Belanda, seorang pejuang bahasa Melayu Tinggi, adalah salah satu pengagum karya Munsyi, yang dianggapnya memuat bahasa Melayu yang paling murni. Lucunya, gaya bahasa Melayu Munsyi, seperti yang diutarakan Sweeney, sungguhlah berbeda dengan bahasa Melayu Riau-Johor yang dibanggakan pihak Belanda sebagai bahasa Melayu Tinggi itu. Ini untuk mengatakan bahwa sebenarnya Munsyi menggunakan bahasa Melayu Pasar, bahasa yang menjadi kosokbali dari Melayu Tinggi.
Lalu, apa hubungan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, yang berbahasa Melayu itu, dengan Bahasa Indonesia dan mengapa ia dianggap sebagai tokoh (pakar) bahasa? Seperti yang sudah sering kita ketahui, akar dari bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu Pasar. Bahasa Melayu menemukan keresmiannya sebagai bahasa nasional Republik Indonesia lewat Kongres Pemuda II, yang berbuah Sumpah Pemuda. Meskipun tidak mempunyai gelar Doktor di bidang ilmu Linguistik, Munsyi, sebagai pengguna giat bahasa Melayu, telah mempertontonkan kapasitas bahasa Melayu lewat kekayaan kosakatanya yang melimpah yang tertuang lewat karya sastra yang ditulisnya. Perlu diingat bahwa sastra salah satu ruang pembelajaran bahasa yang sangat mendasar.
Ia juga adalah orang yang dicari para misionaris untuk memperbaiki terjemahan Injil ke dalam bahasa Melayu. Lewat nalar inilah Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dianggap sebagai tokoh bahasa. Munsyi memang tidak pernah menuliskan teori tentang tatabahasa Melayu, kamus bahasa Melayu, atau fonetik bahasa Melayu, dll. dsb. Tapi, tidak terbantahkan bahwa keliaran bahasa tidaklah terkurung pada lingkup kajian yang teoretis dan normatif. Orang yang menaruh perhatian besar pada gerak-laju bahasa dan gejala berbahasa adalah orang yang menyiratkan kepakaran di bidang ini. Maka, seorang Munsyi layak untuk dianggap sebagai tokoh bahasa.
Nama Munsyi di Indonesia bahkan dijadikan istilah khusus yang dipakai oleh Kompas, lewat Kolom Bahasa-nya, sebagai lema yang muradif (bersinonim) dengan makna ‘pakar bahasa’, yang tidak mesti memiliki gelar akademis Linguistik - ahli Linguistik mungkin lebih suka disebut sebagai linguis. Nah, siapa mau jadi munsyi?
