Caleg Pesohor
17 April, 2009 | | Kategori: Sok-Sok IngglisOleh Gideon Widyatmoko
Pengantar Redaksi: Salam Jilat! Anaknongkrong LIDAHIBU, Pemilu, pesta demokrasi terbesar di Indonesia, tidak lama lagi akan diselenggarakan. Semangatnya sudah lama kita rasakan, Nah, kebetulan, salah satu anaknongkrong yang suka menonton televisi, pada satu malam, menemukan acara bertajuk PANGGUNG DEMOKRASI (kita singkat NGUNGSI) di saluran 89, MNC News. Ada gejala-gejala berbahasa yang menarik tersua di situ. Berikut laporannya, yang diceritakan dengan gaya tulis sudut pandang orang pertama. Selamat menikmati!
***
NGUNGSI menghadirkan 3 partai peserta Pemilu, dan tiap partai menghadirkan satu orang calegnya. Ternyata, di acara NGUNGSI yang saya tonton, salah dua caleg berasal dari kalangan pesohor: pemain film Rachel Maryam dan penyanyi tembang pop Tere. Satu orang lagi adalah seorang pembawa berita dari salah satu stasiun televisi swasta, Mutia Hafidz.
Acaranya sangat mirip dengan ujian pendadaran yang akan dilalui oleh para mahasiswa. Ada tiga penguji yang siap mendadar para caleg tersebut: Sudjiwo Tedjo, seorang sosiolog terkenal yang namanya saya lupa (maaf om), dan seorang ibu yang saya juga lupa siapa namanya dan apa jabatannya (maaf tante).
Seperti yang sudah dapat kita duga dan sangka, Tere dan Mutia, pada saat perkenalan, sangat lancar bercerita tentang visi-misinya, kecuali Rachel yang tampak kurang persiapan. Pertanyaan demi pertanyaan dapat dijawab dengan lancar oleh para caleg, sangat lancar dan kelihatan sekali kalau mereka, terutama dua pesohor kita, fasih berbahasa campur. Banyak lema bahasa asing (bahasa Inggris - red) yang dimasukkan dalam narasi kampanye mereka. Ada beberapa kejadian unik yang saya perhatikan dan saya ingat: mereka mendadak lupa bahwa ada lema Bahasa Indonesia seperti:
- menarik (KKerja) sehingga menggantinya dengan attract,
- bertanggung jawab (KSifat) sehingga menggantinya dengan responsible,
- mengiklankan (KKerja) sehingga menggantinya dengan to promoting,
- peduli (KSifat) sehingga menggantinya dengan aware, dan
- pada saat yang bersamaan (Kket) sehingga menggantinya dengan at the same time.
Dan ada banyak lagi, tapi saya lupa.
Dari dua pesohor itu, yang paling sering mencampur-adukkan bahasa adalah Rachel. Bahkan dia sempat ditegur oleh Sudjiwo Tedjo, yang menyarankan agar dia lebih pandai berBahasa Indonesia, karena nantinya akan berpengaruh pada kelangsungan hidup berbahasa dan bahwa orang Indonesia harus mempunyai sikap yang positif terhadap hasil budayanya. Menanggapi teguran itu, Rachel berkomentar bahwa kita (orang Indonesia - red) juga harus siap dengan perubahan yang dibawa oleh teknologi dan kemajuan era pasar bebas (nah loh!). Maka, haruslah pula siaga pada penguasaan bahasa internasional yang baik. Sudjiwo Tedjo pun menjawab dengan santainya, kira-kira begini, “Lah, Anda itu orang mana? Yang mendengarkan kampanye Anda itu dari kelas sosial yang mana?”. Rachel pun berusaha untuk menanggapi lagi, tapi langsung diambil-alih oleh pembawa acara, Didi Petet dan Alya Rohali. Mungkin, sebagai sesama pesohor, mereka tidak rela rekan sejawatnya dipermalukan sampai berlidah-kelu.
Lain dengan Rachel, Tere, setelah ditegur seperti itu oleh Sudjiwo Tedjo, dengan menyesal tidak dapat mengenyahkan kebiasaannya mencampur wicaranya dengan bahasa asing (bahasa Inggris - red). Tetapi, setiap sehabis menyelesaikan kalimat berbahasa asingnya, Tere langsung lanjut menerjemahkannya dengan Bahasa Indonesia. Sudjiwo Tedjo hanya tersenyum saja mendengar bantahan Tere: “Tapi kan langsung saya terjemahkan,” padahal Sudjiwo Tedjo belum melontarkan komentar. Akhirnya Sudjiwo Tedjo hanya menyemangati Tere saja, “Saya hanya ingin seyum kamu saja kok.” Hii… Serem ya digoda sama Sudjiwo Tedjo.
***
Pemakaian bahasa campur seperti para caleg itu kemungkinan adalah sindrom yang sering melanda banyak pesohor di tanah air. Misalnya begini, beberapa hari yang lalu, Minggu 21 Maret 2009, saya menonton infotainment, dan di acara itu ada liputan tentang grup musik Radja, grup musik yang terkenal lewat tembang “Tulus”. Ceritanya, di belakang panggung, sesaat sebelum Radja beraksi, wartawan infotainment ini mewawancarai Radja. Terus, si vokalis, Ian Kasela, ditanya: “Isi tasnya apa aja, nih?” Nah, dikeluarkanlah isi tasnya sambil dijawab, kira-kira seperti ini: “Ini ada pulpen buat tanda tangan kontrak, handphone, smoke, sama kunci kantor.” Lah, saya kan jadi bingung: ngapain Ian Kasela bawa-bawa asap? Ha! Ternyata yang dimaksud smoke oleh Ian Kasela adalah rokok. Lain vokalis, lain pula gitaris. Waktu si gitaris diajukan pertanyaan yang sama, dia kira-kira menjawab, “Ini ada kacamata. Soalnya kalau lagi manggung live (diucapkan: laip) lampunya silau. Terus ada handphone (diucapkan: henpon).” Hwarakadah!
***
Menurut Sudjiwo Tedjo, para caleg ini (atau para pesohor?) sudah baik penggunaan Bahasa Indonesianya karena tidak terucap logat Cinta Laura (ucap: Chinta Leura). Dan Sudjiwo Tedjo selalu bersemangat memuji para caleg itu atas keberhasilannya tidak menggunakan logat yang kebarat-baratan. Selamat deh, buat caleg-caleg cum pesohor tanah air kita.
