Ferdinand de Saussure
17 April, 2009 | | Kategori: Tokoh BahasaOleh Wahyu Adi Putra Ginting
Tokoh bahasa yang satu ini bukan main pengaruhnya dalam ilmu Linguistik. Sampai-sampai, karena kebetulan ia adalah seorang laki-laki, ia dijuluki Bapak Linguistik Modern. LIDAHIBU dengan rendah hati memperkenalkan: Ferdinand de Saussure!
***
Saussure lahir di Jenewa, Swiss, pada tanggal 26 November 1857. Ia adalah seorang keturunan Prancis. Di abad 17, pemerintah Prancis menebar ancaman terhadap kehidupan penduduknya yang beragama Protestan. Banyak khalayak yang lari lintang-pukang kala itu. Salah satu di antaranya adalah Nicolas de Saussure (1709-1791, kakek buyut Ferdinand de Saussure. Keluarga Saussure dikenal sebagai keluarga cendikia. Pendidikan khas kaum cendikiawan erat melekat dalam diri Saussure. Sejak kecil, Saussure mendapatkan pendidikan ‘rumah’ oleh seorang ahli bahasa, Adolphe Pictet (1799-1875). Dari Pictet, Saussure, pada usia 13 tahun, telah mengenal beragam bahasa Eropa: Prancis, Jerman, Inggris, dan Latin.
Dasar orang haus ilmu, diusianya yang ke 18 (1875), selama setahun penuh Saussure belajar bahasa Latin, Yunani, Kimia, teologi, dan hukum sekaligus di Universitas Jenewa. (Ugh, tapi jangan tanya LIDAHIBU bagaimana caranya, ya.) Saussure mulai menampakkan tajinya di usia 21 tahun. Lewat sebuah karya-tulis berjudul (coba ucapkan dalam satu tarikan nafas) Mémoire Sur le système primitive des voyelles das les langues indo-européennes. Ada yang bisa mengartikan secara harfiah? Kalau tidak ada, jangan takut, LIDAHIBU juga tidak, kok. Tapi, muatan-nalar utama karya-tulis ini adalah bahwa Saussure mematahkan anggapan salah-kaprah para cendikiawan bahasa kala itu: bahwa bahasa-bahasa Proto-Indo-Eropa (bahasa induk rumpun bahasa Eropa, India, dan Asia Barat Daya) hanya memiliki tiga huruf hidup. Kalau Professor Higgins, seorang ahli Fonetik yang merupakan tokoh rekaan George Bernard Shaw dalam drama berbau linguistiknya Pygmalion, mampu mengenali ratusan bunyivokal lewat mesin suara, Saussure muda, yang kebanyakan pemikirannya tidak dilandasi oleh penelitian besar dan luas dan tanpa bantuan alat-alat canggih untuk mempelajari bunyi-bunyi bahasa, telah menemukan bahwa jumlah huruf hidup di bahasa Proto-Indo-Eropa tidak tiga. Saussure bilang: LIMA!
Tahun 1880, Saussure berhasil meraih gelar doktor dari Universitas Leipzig, Jerman. Entah karena rindu asal-muasal atau apa, Saussure memilih untuk memulai karir mengajarnya di Prancis. Ia hidup di sana sampai tahun 1891, ketika Universitas Jenewa memanggilnya mudik untuk menjadi guru besar. Di almamaternya ini, selama 21 tahun ia mengajar bahasa Sanskerta Kuno. Namun, suatu hari, Saussure dikejutkan oleh permintaan para pejabat universitas yang menginginkannya mengajar mata kuliah Kursus Linguistik Umum (kita sebut KLU). Permintaan ini dengan berat hati diterimanya. Dari tahun 1911 sampai 1913, ia hanya memberi kursus ini sebanyak tiga kali. Saussure berpandangan muram terhadap kenyataan bahwa ia harus mengajar KLU. Bahan-bahan kuliahnya ia hancurkan sendiri secara sistematis. Ia menganggap dirinya tidak punya apa-apa yang berharga untuk disampaikan. Akan tetapi, tidak begitu dengan para mahasiswa yang mengikuti kelas-kelasnya.
Para mahasiswa tersebut menganggap apa yang diberikan Saussure selama kelas KLU sebenarnya adalah muntahan pemikiran-pemikiran jenius. Saussure berpendapat bahwa ‘ide atau substansi bunyi yang ada di dalam sebuah tanda itu kurang penting dibandingkan dengan tanda-tanda yang melingkupinya.’ Bukti dari pendapat ini adalah ‘bahwa nilai dari sebuah istilah mungkin bisa dimodifikasi tanpa mengubah arti atau bunyinya.’ Ya, ini dia! Inilah salah satu buah pikir Saussure yang sangat menakjubkan: TANDA (atau tepatnya TANDA Linguistik). Bahasa, menurut Saussure, adalah sistem TANDA. Dan ‘apa pun yang menyatakan sesuatu yang lain dari dirinya sendiri’ adalah TANDA.
Saussure adalah cendikiawan bahasa yang revolusioner. Di masanya, cendikiawan bahasa lain terkukung oleh ketertarikan mereka sendiri: kajian historis bahasa - tentang asal-usul, perkembangan, dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam bahasa. Selain itu, hal terparah yang membatasi mereka adalah bahan dasar penelitian linguistik mereka yang terpatok pada teks-teks tertulis. Saussure mendobrak hal ini. Ia lebih menyarankan agar penelitian linguistik di dasarkan pada bahasa-ucap. Pandangan ini berujung pada konsep LIDAH (LANGUE) (apa yang bisa kita lakukan dengan bahasa) dan TUTURAN (PAROLE) (apa yang kita lakukan dengan bahasa ketika berbicara). Ketertarikan Saussure pada bunyi-bunyi bahasa (dan maknanya) membuatnya berhasil menemukan dua lagi teman untuk TANDA: PENANDA dan TERTANDA. Dalam bahasa Inggris, tiga sejoli ini bernama SIGN, SIGNIFIER, dan SIGNIFIED. PENANDA adalah bunyi-bunyi bahasa yang dilafalkan dan TERTANDA adalah sesuatu yang diwakili oleh bunyi itu (sebut: makna).
Lebih jauh, Saussure menganggap bahwa hubungan antara TANDA, PENANDA, dan TERTANDA adalah ’sesuatu yang buatan dan bersifat kesepakatan’. Dari sini, mbrojol-lah apa yang sekarang kita kenal dengan teori ‘kesemena-menaan bahasa’. TANDA, PENANDA, dan TERTANDA hadir secara semena-mena. Contohnya, tidak ada alasan mengapa benda ‘telur’ disebut telur dan dilafalkan /telur/. Pemikiran yang khas ini kini menjadi salah satu nalar yang melandas dalam kajian linguistik modern.
Ada banyak lagi pemikiran-pemikiran yang menetas dari otak Saussure. Satu yang cukup menarik dan mengilham adalah konsep dualitas Saussure. Konsep LIDAH dan TUTURAN adalah salah satu bentuk kemenduaan itu. Yang lain adalah kajian bahasa SINKRONIS dan DIAKRONIS. Konsep dualitas juga dapat terendus pekat pada kajian Fonetik, khususnya dalam analisis ‘ciri pembeda’ (fitur distingtif).
Pengaruh Saussure tidak hanya berhenti pada kajian linguistik saja, seperti yang terjadi padabeberapa ahli bahasa semacam Gustave Guillaume dan Roman Jakobson. Pada tahun 1950-an, pemikiran Saussure mulai melintas ke kajian yang lebih jauh, seperti Semiotika (lewat Roland Barthes), Antropologi (lewat Claude Levi Strauss), Psikiatri dan Kritik Sastra (lewat Jacques Lacan dan Jacques Derrida).
Di kala kematiannya, 22 Februari 1913, Saussure mangkat tanpa meninggalkan satu huruf pun tertulis tentang pemikirannya dalam KLU. Ini yang membuat mahasiswa-mahasiswa yang pernah mengikuti kuliahnya memulai satu gerakan pengumpulan bahan-bahan kuliah Saussure, dan kemudian membukukannya. Mereka merasa sayang bila kejeniusan pemikiran mantan dosen mereka itu tidak disebarluaskan ke khalayak banyak. Maka, sebuah buku berjudul Cours de linguistique generale (Kursus Linguistik Umum) pun berhasil diterbitkan tiga tahun setelah kematian Saussure.
Begitulah Saussure, ‘ketakpedean’-nya ternyata tak mampu menyangkal kejeniusan pemikirannya. Apa yang telah dilakukan Saussure sangat berfaedah bagi ilmu bahasa, khususnya Linguistik Modern. Memang, dimasa lebih jauh setelah ia mangkat, tidak sedikit kritik untuk pemikiran-pemikiran Saussure yang terlontar dari pemikir-pemikir linguistik lain, Noam Chomsky, contohnya. Namun, bagaimanapun juga, pemikiran Saussure tetap dianggap sebagai sumber yang membangun perkembangan, bukan saja ilmu bahasa, tapi juga ilmu pengetahuan/pemikiran pada umumnya.
