J.S. Badudu
17 April, 2009 | | Kategori: Tokoh BahasaOleh Gideon Widyatmoko
Salam jilat!
Kembali lagi LIDAHIBU akan mengenalkan anaknongkrong pada seorang tokoh bahasa yang cukup penting bagi Indonesia. Tokoh yang satu ini bisa kita bilang sebagai tokoh bahasa yang bakatnya bejibun: pandai mengajar, pandai sekolah, pandai menulis kamus, pandai menulis buku, dan pandai membimbing skripsi (ah, mungkin juga pandai baca-tulis kitab suci). Siapa lagi kalau bukan Jusuf Sjarif Badudu, atau yang lebih akrab kita kenal dengan nama J. S. Badudu.
Sewaktu kita masih duduk di bangku Sekolah Dasar, acap kali kita membaca nama J. S. Badudu pada sampul buku paket kita. Apakah kita sedang membicarakan orang yang sama? Ya, ia memang menulis beberapa buku pelajaran untuk SD, SMP, dan juga SMA. Wuih, hebat ya! Bukan itu saja, beliau juga berkarya sebagai penulis kamus, seperti Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia, Kamus Umum Bahasa Indonesia, dan juga tak ketinggalan Kamus Bahasa Indonesia untuk Pendidikan Dasar.
Ceritanya gimana sih kok bisa sampai begitu? Begini, awalnya Jusuf Sjarif Badudu lahir di Gorontalo pada tanggal 19 Maret 1926. Ketika ia sudah cukup usia untuk masuk sekolah, ia bersekolah di Sekolah Rakyat. Mungkin, saking pinternya, di usianya yang ke-15, ia sudah dipercaya untuk mengajar SD. Wuih, dahsyat sekali! Kalau saya sih, sewaktu usia 15, masih bermain ke Timezone. Tak cuma sampai SD saja yang diajar, ia juga kemudian mengajar di sebuah SMP di Poso, Sulawesi Tengah. Setelahnya, ia mengajar di sebuah SMA di Bandung. Setelah puas mengajar, dan mungkin juga karena sudah terkumpulkan uang yang cukup, ia berkuliah di Fakultas Sastra Universitas Padjajaran, Bandung. Jadi mahasiswa angkatan ‘63 (hiiiiii…tua ya!). Tapi, sambil kuliah ia juga menyambi sebagai dosen di fakultasnya. Alamak!
Lha, terus pada tahun 1971, ia meneruskan kuliah Postgraduate Linguistics di Leidse Rijksuniversiteit Leiden, Belanda (oh, kejarlah bangku sekolahmu sampai ke negeri Belanda). Mungkin juga universitasnya mengirimnya untuk kuliah di Belanda sana. Pulang ke Indonesia, tak lama ia memperoleh gelar Doktor Ilmu Sastra dengan pengkhususan linguistik di Universitas Indonesia, Jakarta, dengan disertasi (yang masih bingung dengan istilah disertasi silahkan bertanya langsung pada anaknongkrong LIDAHIBU yang sedang mengambil S3 di universitas terdekat, baik yang ternama atau yang tidak) yang berjudul Morfologi Kata Kerja Bahasa Gorontalo. Pasti beliau sangat pintar sekali, bukan? Sampai bisa bikin kamus, lho!
Zaman dulu, waktu siaran televisi cuma ada TVRI doang, J. S. Badudu ini sempat menjadi pembawa acara Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI Pusat Jakarta. Banyak orang zaman dulu menonton acara itu, soalnya cuma ada TVRI. (Coba kalau sekarang ia masih jadi pembawa acara, pasti kagak ada yang nonton! Soalnya anak muda seperti saya ini sudah barang tentu lebih memilih menonton bioskop yang di teve itu, yang tayang setiap hari gitchu, dech.)
Waktu menjadi pembawa acara, ia acap kali mengkritik penggunaan bahasa presiden RI yang menjabat pada saat itu: siapa lagi kalau bukan Bapak Presiden Soeharto. Saya juga bingung gimana caranya ia mengkritik presiden, ya? Kalau kritiknya sangat ekstrim, bisa-bisa TVRI langsung ditutup atas petunjuk Bapak Presiden. Nah, lho!
Di usia uzurnya (akan 83 tahun), beliau masih membimbing skripsi mahasiswa S2 di universitas yang tadi saya sebutkan. Wow, tak cuma itu saja, ia juga masih aktif menulis artikel untuk sebuah mediamassa cetak, Intisari, yang sempat membuatkan kolom tulisan tentang linguistik dan bahasa di setiap edisinya. Sekarang-sekarang ini, mungkin juga ia masih menulis untuk Intisari. Wih-wih-wih, pendidikannya banyak sekali, ya? Tapi, tahu tidak, anaknongkrong, yang banyak bukan cuma tulisan dan gelar akademiknya saja, tetapi anaknya juga: ada 9 orang anak hasil pernikahannya dengan istrinya tercinta! Dengan kesuksesan seperti itu, patut diacungi jempol ketika J. S. Badudu tidak kawin-cerai seperti insan selebriti kebanyakan.
Bagaimana? LIDAHIBU sih berharap tokoh kita kali ini menginspirasi anaknongkrong semua untuk terus berusaha mengenyam pendidikan yang sangat tinggi dan tetap rajin menulis. Siapa tahu, saya, yang sedang berjibaku dengan skripsi ini, bisa memperoleh kesempatan mengajar di fakultas saya sendiri. Ah, ketika dewasa nanti saya ingin menjadi seorang J. S. Badudu.
