Nomine, Nominator, Nominasi (Sebuah Esai Bahasa)

17 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Tulisan Musiman

Oleh Usak Abasah alias Nikodemus Wuri Kurniawan

Pekan lalu, ibu guru yang kami sayangi menugaskan kami, para muridnya, untuk menulis sebuah esai tentang bahasa. Suatu tragedi buat saya yang tidak biasa dan tidak pandai menulis. Beberapa hari lalu, tiga hari sebelum hari ini, ibu guru kami mengalami suatu tragedi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata (oleh karena itu memang tidak bisa dijelaskan dalam esai ini). Setelah mengetahui kondisi ini, saya membuat esai ini dengan sangat hati-hati. Saya tidak ingin membuat ibu guru saya syok setelah membaca esai saya. Saat ini pun, saya berusaha keras untuk menjelaskan apa yang saya tulis dengan sebaik-baiknya kepada guru kami yang baru, pengganti ibu guru kami untuk sementara waktu; dan juga berusaha untuk tidak menciptakan tragedi lain tentunya.

Sebuah esai tentang bahasa? Apa yang harus saya tulis? Saya mulai berpikir bahwa ibu guru kami adalah seorang guru yang bijak. Beliau memberikan sebuah lautan agar ikan-ikan yang ada didalamnya diteliti satu per satu oleh anak-anak didiknya yang bandel dan bodoh. Saya memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang menjadi ajang bertemunya bahasa-bahasa menjadi material padat, tercetak, dan berjumlah banyak. Benar sekali, perpustakaan sekolah. Oh, betapa bodohnya saya. Bukankah perpustakaan sekolah sudah terbakar habis beberapa pekan lalu hanya karena percobaan kecil yang dilakukan oleh murid-murid bandel dan bodoh dari kelas IPA untuk membuktikan apakah api bisa membakar buku, terutama buku-buku yang mereka anggap jelek? Sebuah tragedi lain terjadi di depan mata saya.

Tanggal pengumpulan tugas makin dekat, saya harus bergegas. Saya memutuskan untuk pergi ke sebuah toko buku kecil satu-satunya di kota kecil kami. Janganlah berpikir saya akan pergi ke warung internet dan akan mendapatkan data dari sana. Belum ada hal seperti itu di tempat kami. Janganlah kaget pada hal ini: bukankah orang sudah biasa hidup dalam mitos pemerataan teknologi? Disangkanya sudah merata, padahal hanya tempat tertentu saja yang sudah melek teknologi. Kembali ke toko buku, rupanya ada buku yang sedang populer. Di sampul depannya tertulis “Nominator Khatulistiwa Literary Award 2007″. Karena tidak tahu arti kata-kata tersebut, saya bertanya pada penjaga toko. Ternyata penjaga toko juga tidak tahu artinya. Saya adalah anak yang bodoh maka saya harus tahu arti kata-kata itu paling tidak arti kata nominator.

Saya teringat sesuatu, bukankah kata nominator sering diucapkan pada acara-acara penghargaan musik atau film. Tidak salah lagi, kata nominator seringkali muncul bersama dengan kata nominasi. Lalu apa arti semua kata tersebut? Saya sering mendengar para pembawa acara yang, kalau tidak cantik-jelita, ya tampan-rupawan berkata, “Nominatornya adalah….” Lalu ada beberapa nama yang kemudian disebutkan, baik itu nama pelaku, lagu, kelompok musik, maupun film. Dari ingatan yang tidak begitu bagus, saya bisa menyimpulkan bahwa nominator itu adalah ‘nama-nama yang disebutkan’. Jadi kalau di kelas saya diadakan pemilihan ketua kelas, maka Upik (salah satu gadis manis di kelas saya, pintar, dan sangat saya segani) berkata, “Nominator ketua kelas adalah Usak, Panjul, Arjuna, dan Penyok,” maka saya adalah salah satu nominator. Tapi kebenaran ini belum cukup saya pahami. Kakak saya menyarankan untuk membuka kamus Bahasa Indonesia. Kakak saya yang kuliah di jurusan bahasa Inggris juga akan membantu dengan kamus bahasa Inggrisnya. Dalam KBBI edisi ketiga cetakan ketiga, saya menemukan tiga kosakata: nomine, nominator, nominasi. Muncul kata nomine yang menambah masalah pemahaman saya. Apa arti ketiganya? Nomine berarti ‘orang yang dicalonkan (diunggulkan)’. Nominator berarti ‘orang yang mencalonkan (mengunggulkan)’ atau bisa juga dikatakan sebagai ‘juri/penilai’. Nominasi memunyai dua arti, yang pertama adalah ‘pengusulan atau pengangkatan sebagai calon, pencalonan (contohnya: Nominasi lurah akan diumumkan pada bulan depan). Yang kedua, berarti ‘yang dicalonkan’ (contohnya: Ia tak termasuk dalam nominasi). Setelah mengetahui hal ini, saya mulai paham dengan hal yang saya hadapi. Ini berarti bahwa contoh yang saya berikan di awal esai ini tidaklah tepat. Seharusnya Upik berkata, “Nomine ketua kelas adalah….” Saya ini calon ketua kelas, bukan yang mencalonkan sebagai ketua kelas, ya kan?

Anehnya, kata nomine jarang diucapkan orang pada acara-acara penghargaan. Dalam penghargaan film yang baru-baru ini diadakan, tersebutlah kata unggulan. Kata kakak, nomine dan unggulan itu setali tiga uang, sama saja. Dalam bahasa Inggris dikenal kata nominee dan dalam bahasa Prancis kata nomine yang artinya sama dengan kata nomine/unggulan di Indonesia. Kata unggulan terdengar seperti bahasa daerah, kalau tidak bahasa Jawa ya bahasa Sunda: keduanya sama-sama mengenal kata unggul yang berarti ‘unggul’. Upaya ini merupakan langkah ketiga dalam usaha pencarian padanan kata-kata asing yang akan digunakan dalam bahasa Indonesia, yaitu mencari padanannya dalam bahasa daerah. Sebagai tambahan, dalam bahasa Inggris dikenal kata nominate (kata kerja), nominator (kata benda), nomination (kata benda). Kata nomine pun baru masuk kamus besar pada kamus edisi tahun 2005, malah di KBBI tahun 1988 hanya terdapat satu kosakata, yaitu nominasi

Saya memberi beberapa kesimpulan untuk esai tentang bahasa yang saya buat ini. Yang pertama, bahwa pemakai bahasa dapat dibagi menjadi beberapa kategori:

a.  pengguna bahasa yang terlalu pintar, yaitu yang menyebutkan nomine menjadi nominator;

b.  pengguna bahasa yang biasa-biasa saja, yaitu yang seperti penjaga toko buku dalam esai ini;

c.  pengguna bahasa sahabat kamus bahasa, yaitu yang seperti kakak Usak Abasah;

d.  pengguna bahasa yang bodoh, yaitu yang seperti Usak Abasah.

Kesimpulan yang kedua, semoga ibu guru yang kami sayangi menjadi nomine atau masuk dalam nominasi guru teladan, dan juga menjadi nominator dalam pemilihan ketua kelas teladan, yang diikuti oleh saya sebagai salah satu unggulan.

Inilah esai tentang bahasa yang ditulis oleh Usak Abasah. Saya tutup esai ini tanpa paksaan dari pihak manapun juga. Akhirnya, saya harus berjanji untuk tidak membuat esai seperti ini lagi.

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar