Papan Reklame dan Godot
17 April, 2009 | | Kategori: Sok-Sok IngglisOleh Nikodemus Wuri Kurniawan
Dua sahabat lama saya yang serba kekurangan (kekurangan harta, tampang, dan kebahagiaan), sebut saja Panjul Semantik dan Burhan Sintak, nampak lesu hari ini. Nongkrong di pos Kamling tak membuat mereka ceria, padahal ini masih tahun baru. Harusnya mereka lebih bahagia. Bukankah banyak orang mengatakan bahwa tahun kemalangan sudah lewat?
Tak tahan melihat sobat-sobat itu gundah-gulana, sayapun mengajak mereka menggoyang-lutut, alias jalan-jalan.
Panjul Semantik (PS): Kita ngapain, yuk! Jangan di sini aja. Jalan-jalan atau ke Gembira Loka atau Taman Pintar. Masak, liburan tahun baru masih nongkrong disini. Yang lain pada asyik liburan.
Burhan Sintak (BS): Kan kita sudah ke sana kemarin, kawan! Masak ke sana lagi? Bisa bosen juga kita.
Bukan Demz Jelek (BDJ): Jalan-jalan ke Jalan Affandi saja, yuk! Atau, jalan apa, kek. Jalan kaki pokoknya, sambil ngeliat papan reklame. Siapa tahu ada acara yang yahud buat kita datangi.
BS: Ide cemerlang itu. Siapa tahu tahun baru ini ada acara yang baru juga. Ayo, deh! Kamu gimana, Njul? Ikut, nggak?
PS: Ayo, deh! Daripada aku di sini seorang diri.
***
BDJ: Wow, lihat itu kawan-kawan! Ada gambar roti-isi yang menggoda. Itu ada tulisan juga: “Really Safety Your Hunger!” Wah, jadi lapar, nih. Eh, tapi artinya apa ya itu?
PS: Nah, kalau soal arti, mah, aku ini rajanya. Gampang itu. Artinya, ‘menghilangkan laparmu’. Itu gampangnya. Aku ndak mau susah-susah njelasinnya. Ya, biar kalian mudah mengerti, gitu.
BS: Tunggu dulu, kawanku! Tak semudah itu. Bukankah kata safety itu, setahuku, kata benda dan your hunger itu juga frasa kata benda? Apa kira-kira tidak perlu kata kerja untuk kasus ini?
PS: Benar juga, ya. Tumben otakmu cemerlang. Mungkin kalimatnya seharusnya begini: “Really Safe for Your Hunger” atau “Really Saving Your Hunger”. Bagaimana?
BS: Bisa juga itu.
BDJ: Kalian hebat, ya!
BS: Simpan rasa terkejutmu, kawan! Perjalanan kita masih panjang.
***
PS: Burhan, Bukan Demz Jelek, lihat itu! Itu, kan, yang sering dirokok Pamanku. Lihat itu besar-besar tulisannya: “Not Just Talk Only”. Wah, hebat ya!
BS: Itu pasti yang bikin pamanmu ‘tidak hanya berkata-kata’. Soalnya, kemarin aku tiba-tiba langsung dipukul tanpa sebab sama Pamanmu itu. Ternyata, salah paham. Tetap saja sakit!
PS: Tapi kok ada yang aneh, ya. Kebanyakan, gitu. Aduh, apa ya?
BDJ: Mungkin kata only atau just, kawan.
PS: Itu dia! Bukankah kata only bermakna sama dengan kata just?
BDJ: Jadi, harus dipilih salah satu?
BS: Ya, begitulah kira-kira. Tapi…tunggu! Sebenarnya apa sih yang ingin disampaikan frasa itu? Kalau seperti yang aku bilang, ‘tidak hanya berkata-kata’, aku rasa cukup “Not only a Talk” atau “Not just a Talk”.
PS: Iya, sih. Tapi, kalau mau dipakai semuanya, mungkin jadi seperti ini: “Not only just Talk”, yang berarti ‘tidak hanya baru berkata’. Hm… Kok jadi aneh, ya?
BDJ: Atau, ini, Njul, Han - “Not-just-Talk Only”, artinya ‘tidak hanya berkata “only”‘.
BS: Kawan kita ini pandai juga rupanya. Ha-ha-ha. Tapi kok aku merasa kita ini jadi Polisi Bahasa, ya?
PS: Aku tak merasa jadi Polisi Bahasa. Aku ini punya kuasa apa selain komentar saja? Jangan memolitisir, lah. Kalau aku Polisi Bahasa, pasti sudah kuciduk itu yang bikin keonaran berbahasa.
BS: Ya, aku sih tak bermaksud main politik-politikan.
PS: Lagipula ini cuma jadi bahan obrolan kita, kan? Bisa ngasih wacana buat kita. Kalau kata-kata itu salah, yang repot kan kita, sebagai masyarakat bahasa, yang terlanjur menganggap semuanya benar.
BDJ: Sabar, kawan-kawan! Kita lanjutkan saja perjalanan kita. Siapa tahu kita bersua dengan Godot. Kita bisa diskusikan perihal ini padanya.
Kami bertigapun kembali melangkahkan kaki. Aroma mesiu kembang api tadi malam masih dapat teraba rongga hidung kami. Angin hari pertama tahun baru ternyata cukup gemulai membelai langkah kami. Dalam hati saya bertanya-tanya: “Sebelum Godot kami temukan, akan berapa papan-reklame lagi yang kami gunjingkan?” Akh, sepertinya Godotpun akan bosan meladeni obrolan kami.
