Pengiriman, Pengoperan, dan Penerimaan Pesan

17 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Kultukal

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

Baiklah kiranya jika encik dosen buka rubrik Kuliah Tujuh Kalimat ini dengan sebuah pantun karangan encik dosen sendiri. Begini itu pantun punya bunyi: burung enggang merentang sayap / meringis sedih tumpasnya kekal / hati gulana berdurja senyap / ‘pabila belum baca KULTUKAL.

 Rancak Bana! Apa awak punya berita, kawan-kawan penyuka bahasa? Encik hadir lagi kali ini, dengan tujuh pengetahuan bahasa yang maktub dalam tujuh kalimat.

 Seperti yang telah kita ketahui, tujuh kalimat untuk kuliah di edisi percobaan #3 lalu sudah mengisyaratkan pengetahuan tentang penyandian semantik dan penyandian gramatika. Kala ini, kita lanjutkan lagi langkah belajar kita dengan menyelesaikan seluruh tahap penyandian, “pengiriman”, “pengoperan”, dan “penerimaan pesan”. Yang dimaksud dengan “pengiriman” ialah keadaan ketika otak memerintahkan organ wicara untuk memproduksi bunyi. Yang dimaksud dengan “pengoperan” ialah proses ketika getaran udara (yang membawa bunyi) disampaikan ke indera rungu pendengar. Maksudnya? Untuk lebih jelas, mari turut encik. Kita mulai kalimat pertama.

 [1] Setelah dua tahap penyandian pertama selesai (semantik dan gramatika), pewicara kini mempunyai satu rentetan morfem yang mengandung makna, yang kemudian diteruskan pada proses penyandian fonologis, dimana morfem dibungkus dalam satu bingkisan bunyi (fonem).

 [2] Bunyi yang dipakai pewicara untuk menyandikan rentetan morfem itu sudah tersedia dalam setiap bahasa, dan cara/letak pelafalan beserta sikap melafalkannya juga sudah secara teoretis tersedia pula.

 [3] Begitu tahap penyandian fonologis rampung, maka itu sekarang pewicara sudah punya satu rentetan bunyi bermakna yang mewakili sandi semantik dan sandi gramatikanya, proses pengiriman dilakukan: otak memerintahkan organ wicara untuk bekerjasama bergerak memproduksi setiap bunyi.

 [4] Organ wicara, pada keadaan normal, akan mampu melakukan pergerakan produksi bunyi seperti yang diperintahkan otak, dan kemudian pergerakan produksi bunyi ini menghasilkan getaran yang memecah molekul udara - bunyi pun terdengar.

 [5] Getaran ini menjalar laju melalui udara dan mencapai organ rungu si pendengar yang berada pada jarak tertentu (jauh-dekat pencapaian bunyi tergantung dari kekuatan ayun amplitudo frekuensinya).

[6] Saat getaran tiba di organ rungu pendengar, di bagian tengah dan dalam liang telinga, ia menabuh gendang telinga, yang, dalam keadaan normal, akan menghasilkan getaran bunyi yang serupa.

[7] Energi dari getaran bunyi yang dihasilkan gendang telinga akan membawa seluruh bingkisan sandi-pesan tadi (semantik, gramatika, dan fonologis) ke otak pendengar untuk diterjemahkan. 

Ini adalah akhir dari Kuliah Tujuh Kalimat LIDAHIBU edisi percobaan #6. Perlu kawan-kawan sekalian tahu, proses seperti yang diungkapkan tujuh kalimat di ataslah yang membuat kajian linguistik fonetik artikulatoris dan fonetik akustik ada. Di perjumpaan selanjutnya kita akan membahas tahap penerjemahan bingkisan sandi-pesan itu oleh otak pendengar. Sampai bersua lagi. Dirgahayu!

______________                   

Sumber Bacaan: Artikel The Nature and History of Linguistics, karangan William G. Moulton; maktub dalam kumpulan artikel Linguistics (penyunting: Archibald A. Hill), Voice of America Forum Lectures, 1969.

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar