Beberapa Istilah dalam Pengambilan Gambar Film
20 April, 2009 | | Kategori: Khazanah Kata Bahasa IndonesiaOleh Gideon Widyatmoko
Beberapa waktu yang lalu, di kampus swasta yang Fakultas Sastranya cukup terkenal atas isunya sebagai Universitas terbaik se-Asia Tenggara, saya melihat beberapa teman yang dengan lantang berteriak, “Camera rolling. Take one. Action! … Cut!” Setelah saya memaksakan diri untuk terlibat, saya lalu mengetahui kalau itu ternyata adalah proses shooting pembuatan film. Karena saya memaksa untuk terlibat dalam pembuatan film itu, maka saya tentu harus membaca naskahnya juga. Edan, waktu saya membaca naskahnya, ternyata banyak banget istilah asingnya, saya sampai bingung sendiri, beberapa yang saya ingat ada cut to, fade in, fade out, dan close up. Belum lagi sewaktu saya membaca story board-nya. Wih-wih-wih, apa pula itu?
Nah, saya, yang sempat berpikir untuk menjadi seorang J. S. Badudu daripada seorang pembuat film, tentu saja mencoba untuk mencari padanan kata-kata asing tersebut. Lalu, lewat Khazanah Lema Bahasa Indonesia di edisi ini, saya mencoba untuk menawarkan padanan kata-kata tersebut. Seperti ini:
Camera Rolling (frasa kata kerja) → kamera merekam
Take one (kata benda) (biasanya diikuti nomor) → pengambilan satu
Action (kata kerja-perintah) → bersandiwara
Cut (kata kerja-perintah) → berhenti
Shooting (kata benda) → pengambilan gambar
Cut to (kata kerja) → alih ke
Fade in (kata kerja berpartikel) → memekat
Fade out (kata kerja berpartikel) → memudar
Close Up (kata kerja berpartikel) → jarak dekat
Story board (kata benda) → sketsa adegan
Memang sih sedikit aneh rasanya ketika saya menggunakan Bahasa Indonesia untuk istilah produksi film. Tetapi akhirnya saya menganggap rasa aneh itu muncul disebabkan ketidakbiasaan saya saja. Soalnya saya tidak pernah menjumpai penggunaan Bahasa Indonesia saat menonton rekaman proses pengambilan gambar yang dilakukan oleh sutradara Indonesia. Selalu saja bahasa Inggris. Ditambah lagi, sebuah iklan rokok telah dengan sukses mencuci otak kita, para Pemelotot TeVe, “Camera rolling. Action! … Cut! Mana ekspresinya?!” Mengapa bisa begini? Apakah karena film tidak pertama sekali ditemukan di Indonesia; atau karena ambisi untuk menjadi sutradara film Hollywood; atau karena hanya ingin tampak keren saja? Ah, saya juga belum mengerti. Yang jelas, ketika dewasa nanti, saya ingin menjadi seorang pembuat film, agar bisa berteriak, ‘Kamera merekam. Pengambilan satu. Yak! Bersandiwara! … Henti! Sepertinya tampan sekali.
