Cakupan-Cakupan Linguistik
20 April, 2009 | | Kategori: KultukalApa kabar semua? Selalu pagi, selalu adi, selalu ceria, selalu bahagia? Ya, begitulah kiranya sapaan-sapaan yang sering encik dosen tamu dengar. Tak ada salahnya memakainya untuk pembaca yang budiman. Pada edisi percobaan #9 lalu, encik dosen tamu sudah memaparkan tentang bahasan/cakupan dari Linguistik. Pada edisi ini, encik dosen tamu bermaksud memberi penyegaran, berkaitan dengan pengetahuan bahasa, sebelum benar-benar masuk pada penjelasan lebih lanjut mengenai cakupan dari Linguistik, yaitu fakta-fakta yang selalu ada dalam semua bahasa. Ayo, kita mulai kuliah kita kali ini.
1. Selama manusia masih bercokol di muka bumi ini, bahasa akan tetap ada.
2. Sebenarnya tidak ada yang disebut bahasa ‘primitif’, semua bahasa pada dasarnya sama rumitnya dan sama kemampuannya sebagai alat pengungkap gagasan di muka bumi ini - kosa kata setiap bahasa dapat bertambah dengan banyak tambahan kosa kata baru.
3. Semua bahasa berubah seiring perjalanan waktu.
4. Hubungan antara suara dan makna dalam bahasa lisan, dan antara gerakan (tanda) dan makna dalam bahasa isyarat adalah sesuatu yang semena-mena.
5. Semua bahasa manusia menggunakan seperangkat tak terbatas suara (gerakan) yang dikombinasikan untuk menciptakan elemen-elemen atau kata-kata yang bermakna, yang kesemuanya itu mampu membentuk seperangkat tak terbatas bentukan kalimat-kalimat.
6. Semua tata bahasa memberitahukan aturan-aturan tentang pembentukan kata-kata dan kalimat-kalimat.
7. Setiap bahasa ucap terdiri atas segmen suara berciri khas, seperti p, n, atau a, yang kesemuanya itu bisa didefinisikan menggunakan seperangkat tak terbatas sifat atau ciri-ciri suara - setiap bahasa ucap memunyai kelas suara vokal dan konsonan.
Kalau ditanya, “Encik dosen tamu suka fakta yang mana?”. Saya akan jawab, “Saya suka nomor tiga.” Soalnya saya bisa berandai-andai: misal saja ungkapan “Aku cinta padamu”. Bisa jadi, pada dahulu kala, ungkapan itu benar-benar euh (susah dijelaskan dengan kata-kata). Tapi, seiring waktu berjalan, sekarang, bisa saja orang mengucapkan hal itu sama seperti ketika mengucapkan “Tolong ambilkan sendok di dapur” atau “Tolong tutup jendela itu”. Hebat, bukan?
Baiklah, saya harus pergi. Minggu depan kita ada ujian. Sekian dari encik dosen tamu, mohon maaf bila ada kesalahan. Amin.
Sumber Bacaan:
Framkin, Victoria & Robert Rodman, R. 1988. An introduction to Language. (4th Edition). New York: Holt, Rinehart & Winston, Inc.
