Ekushey
20 April, 2009 | | Kategori: Liputan KhususSecara harfiah, istilah Ekushey bermakna ‘21 Februari 1952′. Ekushey adalah istilah dalam bahasa Bengali, bahasa nasional sebuah negara yang sekarang kita kenal dengan nama Bangladesh. Ekushey, bahasa Bengali, dan Bangladesh, adalah senyawa pembentuk sebuah hari yang sejak 17 November 1999 diperingati oleh khalayak dunia sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional.
***
Di tahun 1947, setelah sekitar dua abad menjajah, Inggris angkat kaki dari bumi Pakistan. Setelah hampir dua ratus tahun menghisap madu tanah Indi, tidak ada hal lain yang ditinggalkan Inggris di bumi itu, selain bekas luka menganga, penderitaan, residu teknologi setengah hati, dan masalah.
Negara baru yang bernama Pakistan itu memiliki wilayah yang dapat diibaratkan sebagai ’sayap Timur’ dan ’sayap Barat’. Sebutlah yang pertama sebagai Pakistan Timur dan yang kedua sebagai Pakistan Barat. Kedua wilayah ini tak serupa secara suku dan bahasa. Bahasa Bengali dituturkan oleh kebanyakan penduduk yang mendiami wilayah Timur. Sementara itu, mereka yang tinggal di wilayah Barat berbahasa Punjabi, Pasthu, Sindhi, dan Urdu. Kala itu, bahasa Inggris justru tenggelam, dan tak berhasil bertahan sebagai bahasa nasional - seperti yang umum terjadi pada banyak negara jajahan. Karena banyak dari pemimpin politik negara Pakistan berasal dari Pakistan Barat, diambillah kebijakan untuk memakai bahasa Urdu sebagai bahasa nasional, menggantikan bahasa Inggris. Kebijakan ini menjadi tidak bijak lagi karena mengabaikan penduduk Pakistan Timur, yang jumlahnya melebihi 50 persen jumlah keseluruhan penduduk Pakistan, yang menuntut agar bahasa Bengali juga dijadikan bahasa nasional.
Bangladesh (yang tadi kita namai Pakistan Timur) adalah salah satu provinsi negara Pakistan. Dengan diabaikannya tuntutan agar bahasa Bengali dijadikan bahasa nasional, maka penguasa politik Pakistan telah merendahkan posisi politik Bangladesh (yang tadinya provinsi) menjadi sekedar ‘daerah koloni’ saja. Tindakan inilah yang menyebabkan protes menyeruak pesat. Para cendikiawan Bangladesh, kebanyakan dimotori oleh para sarjana di Universitas Dhaka, adalah yang salah satu yang paling berkoar. Dan pemerintah berkuasa saat itu tak mengindahkan teriakan protes mereka.
Situasi memanas dan semakin pelik saat para mahasiswa Universitas Dhaka melakukan mogok massal selama empat hari, menyusul pidato Perdana Menteri Pakistan, yang disampaikan di universitas tersebut tanggal 27 Januari 1952, yang menyatakan dukungannya terhadap bahasa Urdu sebagai bahasa nasional.
***
Ekushey, 21 Februari 1952, adalah juga hari diadakannya sidang Dewan Legislatif Provinsi negara Pakistan. Waktu itu, setiap akan dilangsungkan sidang, berlaku hukum yang melarang warga berkumpul lebih dari 5 orang dalam ruang publik. Alih-alih mematuhi hukum itu, para mahasiswa Universitas Dhaka malah mengadakan demonstrasi di dekat Gedung Dewan. Banyak dari pemrotes yang ditangkap. Tapi itu tak menyurutkan semangat demonstran untuk terus melancarkan aksi. Kira-kira pukul tiga waktu petang, polisi bertindak beringas, melepaskan tembakan yang membunuh tiga orang demonstran.
Tindakan ini menyetrum seluruh kota. Tugu peringatan bernama Shaheed Minar didirikan di dekat Rumah Sakit Sekolah Kedokteran Dhaka untuk mengenang para korban yang dianggap mati syahid dalam ‘pertempuran memperjuangkan bahasa Bengali’. Polisi meratakan tugu itu. Kembali mahasiswa turun ke jalan. Lagi-lagi, polisi bertindak beringas dengan melepaskan tembakan mematikan. Banyak dari mahasiswa yang tewas tertembus timah panas. Empat diantaranya dikenali sebagai Barkat, Rafiq, Salam, dan Jabbar.
Sejak itu, setiap tanggal 21 Februari, bejibun masyarakat Bengali (Bangladesh) melakukan aksi jalan-kaki menuju tugu Shaheed Minar. Sejak saat itu, tanggal 21 Februari diperingati oleh masyarakat Bengali sebagai Hari Bahasa Bengali. Perjuangan Bahasa ini pula yang mengilhami Perang Kemerdekaan Bangladesh di tahun 1971. Perang tersebut dimenangkan. Dan Bangladesh berdiri mandiri sebagai negara-bangsa. Dan bahasa Bengali menjadi bahasa nasional mereka.
***
Ekushey tidak berhenti sampai di situ. Ia terus mengilhami para pejuang bahasa ibu di berbagai penjuru dunia. Sekelompok orang yang menamakan diriĀ Ikatan Pecinta Bahasa Ibu Dunia, sebuah institusi yang berbasis di Kanada, dalam mana termasuk pula para penutur bahasa Bengali, mengajukan permohonan pada UNESCO, meminta agar Ekushey (21 Februari) diangkat sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Permohonan ini diterima, dan pada tanggal 17 November 1999 Ekushey dideklarasikan sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional oleh UNESCO.
Peristiwa berdarah 21 Februari 1952 di Bangladesh telah menjlentrehkan bahwa bahasa bukan sesuatu hal sepele. Bahasa bukan sekedar alat sambung wicara manusia. Bahasa bukan sekedar sesuatu yang kita gunakan untuk menyampaikan pesan dari benak kita lewat bunyi bermakna. Bahasa bukan sekedar aturan/kaidah tata bahasa. Ekushey menunjukkan bahwa bahasa adalah penanda manusia, entitas yang melebur dalam keadaan seorang insan (sekelompok orang).
Dalam keadaan masyarakat yang berbhinneka-bahasa, pelestarian dan pengembangan bahasa ibu adalah wujud tanggung jawab generasi penerus-pembaharu. Kebhinnekaan menyemangati seorang manusia untuk berdiri di atas kaki sendiri dan berjalan bergandengan tangan dengan manusia lain (yang juga berdiri di atas kakinya sendiri). Dengan demikian, bukanlah sebuah omong-kosong kalau ada yang mengatakan bahwa ‘berbhinneka itu indah’. Nah, anaknongkrong LIDAHIBU, apa bahasa ibu kalian? Sudahkah kalian nguri-uri (Jawa: melestarikan sekaligus mengembangkan) bahasa ibu kalian masing-masing?



Hampir tak percaya: bahasa-jatidiri. sampai seperti itu, kah? Alamak!