Istilah-Istilah Gaul

20 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Khazanah Kata Bahasa Indonesia

Oleh Gideon Widyatmoko

Salam Jilat! Pada suatu hari, salah satu teman anaknongkrong LIDAHIBU, kita panggil saja Mustafa, mengeluh. Dia merasa akhir-akhir ini televisi menjadi sangat menakutkan. Kontan saja LIDAHIBU bingung, apa yang menakutkan dari televisi yang siarannya penuh warna berhiaskan aktor dan aktris yang cakep-cantik gitu? Apalagi acaranya juga sangat banyak dan beragam. Mau nonton gosip? Ada! Mau nonton kuis nakal? Ada! Mau nonton sinetron? Ada banget! Lalu apa yang menakutkan? Eh, selidik punya selidik, ternyata Mustafa ini merasa kebingungan sendiri. Semakin sering Mustafa nonton TV, semakin sering mengalami keanehan bahasa. Bahasa yang digunakan dalam televisi memang Bahasa Indonesia. Tapi, setelah dia coba untuk memahami lema-lema yang ada di TV, keningnya tetap mengkerut. Memang sih terdengar seperti Bahasa Indonesia, tetapi Mustafa tidak mampu menemukan definisi atau pun padanan kata dari lema tersebut. Mustafa merasa gagal menjadi manusia Indonesia karena dia tidak dapat memahami bahasa (di) tanah airnya sendiri.

Tak tega melihat kening Mustafa dihiasi oleh kerutan, LIDAHIBU berusaha untuk mencari tahu lebih lagi: apa sih lema Bahasa Indonesia yang membuat bingung Mustafa? Nah, berikut sebagian dari masalah bahasa yang muncul dari TV 21″ terbaru Mustafa:

1. Secara. Contoh kalimatnya: “Secara gue orang kaya gak sombong, gitu loh.” Kepada Mustafa, LIDAHIBU menawarkan frase tahu sendiri sebagai padanannya. Maka, jika diterapkan pada contoh di atas, kalimat itu menjadi: “Tahu sendiri, gue orang kaya gak sombong, gitu loh.”

2. Gitu loh. Contoh kalimatnya: “Teknologi terbaru, gitu loh.” Untuk yang ini LIDAHIBU tawarkan lema amin. Maka, jika diterapkan pada contoh, kalimat di atas menjadi: “Teknologi terbaru, amin.”

3. Bete. Contoh kalimatnya: “Aku lagi bete nih.” Kata bete sebenarnya diambil dari singkatan untuk bahasa Inggris bad tripping. Awalnya penggunaan bad tripping sering muncul dalam kalangan pemakai narkotika. Bad tripping adalah kondisi saat si pengguna mengalami kenikmatan yang tanggung, atau tidak muncak. Nah, masuk ke Indonesia, lema bete artinya malah menjadi ’sebal’. Jika kita terapkan pada contoh di atas, maka kalimatnya menjadi “Aku lagi sebal nih.” Kata bete ini sama penggunaan dan fungsinya dengan lema dari bahasa antah-berantah, jutek. Hanya saja kata jutek lebih sering muncul untuk mendeskripsikan seseorang, contohnya pada kalimat, “Ih, pegawai butik itu mukanya jutek banget, sih.”

4. Capcus, cing. Penggunaan frase ini awalnya dipopulerkan oleh penutur dari kaum waria. Kata capcus menggantikan lema bergegas. Sementara itu, kata cing sendiri populer pada era tahun 90an (era yang juga mempopulerkan ungkapan “biar memble yang penting kece”) dan digunakan sebagai lema sepemanggil (vokatif) untuk lawan bicara, yang biasanya senasib sepenanggungan. Jika di Yogya arti cing sama dengan dab, nah, karena, ketika sedang mengobrol, LIDAHIBU dan Mustafa sedang menyaksikan berita demonstrasi mahasiswa, LIDAHIBU menawarkan padanan kata untuk ungkapan capcus, cing menjadi, ‘Ayo bergegas, Bung!’

5. Gokil. Contoh kalimatnya, “Semalam acaranya gokil banget.” Lema gokil sebenarnya dipakai untuk mengekspresikan ‘betapa menariknya sesuatu’. Nah loh, kalau lema penggantinya adalah keren, maka tidak akan sesuai. Setelah LIDAHIBU periksa kembali lema keren di KBBI terbaru, ternyata keren hanya cocok untuk diterapkan sebagai kata penunjuk ’sifat seseorang’. Maka, untuk padanan gokil, LIDAHIBU menawarkan frase luar biasa. Jadi, kalau diterapkan pada kalimat contoh, jadinya “semalam acaranya luar biasa sekali.”

***

Mustafa yang mengangguk-angguk bingung mendengarkan penjelasan dari LIDAHIBU seketika terhenyak ketika mengganti saluran televisi barunya itu. Ternyata, dia menemukan sinetron remaja yang tokohnya berujar, “Secara, gitu loh.”

“Nah kalau seperti itu bagaimana?” tanya Mustafa. Aneh buat kami berdua jika mengganti secara, gitu loh dengan tahu sendiri, amin. Acap kali, penggunaan kata secara dan gitu loh memang muncul bersamaan. Akhirnya kami sepakat bahwa tidak semua lema-lema Bahasa Indonesia yang muncul baru-baru ini, yang memang (ragam) Bahasa Indonesia, bisa dicari padanannya yang sesuai dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

  • Share/Save/Bookmark
(1 votes, average: 3,00 out of 5)
Loading ... Loading ...

2 komentar
Berikan komentar »

  1. secara = dengan cara
    secara halus = dengan cara halus
    “secara gw bukan anak sini” = dng alasan/atas dasar/dikarenakan gw bukan anak sini
    “secara gw orang kaya gak sombong” = dng alasan/atas dasar/dikarenakan gw orang kaya ga sombong

    gitu loh
    untuk ekspresi penekanan terhadap kalimat/frase sebelumnya
    “teknologi terbaru, gitu loh.”
    persamaan: teknologi terbaru lho.
    (catatan: silahkan resapi benang merahnya, sehingga bisa menerapkan “gitu loh” pada kalimat)

    capcus
    asal: capek deh / capedehh

    gokil
    asal: gila . versi slank diberi imbuhan OK
    (berapa -> berokap , sepatu -> sepokat)
    gokil: ekspresi ketakjuban (kadarnya memang relatif)

    “secara, gitu loh”
    terujar dengan kondisi lawan bicara pun sudah tahu makna yang dimaksud.
    misal dalam sebuah percakapan, kemudian salah satu berkata “secara gitu loh” dan
    lawan bicara mengamini.
    bisa juga ada lanjutannya, seperti: “secara gitu loh, dia anak orang kaya”

    Firman did not rate this post.
  2. Waw, terima kasih saudara Firman. Informasi Anda memberi penjelasan yang berfaedah. Terus kirim komentar, ya.
    Salam.

    Lidahibu did not rate this post.

Berikan Komentar