Fonetik

21 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Kultukal

Oleh Wahmuji

Banyak orang yang kebingungan dengan banyaknya istilah teoretis tentang keilmuan. Apalagi, banyak penteori menunjuk hal-hal yang mirip dengan sebutan yang berbeda atau sebutan yang mirip untuk hal yang sangat berbeda. Maka dari itulah diperlukan pengantar atau jembatan yang menghubungkan banyak konsep dan kategori dengan substansi atau dasar pemahaman yang disertai peta yang memadai.

Nah, KULTUKAL masih keukeuh berusaha mengubah kerumitan menjadi sebuah awalan permainan cari-cari yang menarik. Untuk edisi kali ini, KULTUKAL hadir dengan tujuh kalimat tentang Fonetik. Apa gerangan itu?

1. Berbeda dengan fonologi, sintaksis, dan semantik, fonetik bukan dianggap sebagai cabang utama ilmu linguistik, melainkan merupakan pengetahuan dasar saja.

2. Berbeda dengan fonologi yang meneliti bunyi bahasa tertentu menurut fungsinya, fonetik meneliti bunyi bahasa menurut cara pelafalannya dan sifat-sifat akustiknya.

3. Ada dua dasar pembagian fonetik, yaitu: dari segi alat-alat bicara serta penggunaannya dalam menghasilkan bunyi-bunyi bahasa; dan dari sifat-sifat akustik bunyi yang telah dihasilkan.

4. Menurut dasar ‘fisik’ alat-alat bicara dan penggunaannya, fonetik disebut ‘fonetik organik’ (karena menyangkut alat-alat bicara) atau ‘fonetik artikulatoris’ (karena menyangkut pengartikulasian bunyi-bunyi bahasa).

5. Menurut dasar sifat akustik yang dihasilkan, fonetik disebut ‘fonetik’ akustik karena menyangkut bunyi bahasa dari sudut bunyi sebagai getaran udara, yang sebagian besar dasarnya diambil dari ilmu fisika (tentang bunyi) yang diterapkan ke dalam ilmu-ilmu bahasa, misalnya frekuensi atau titinada, amplitudo, dan resonansi.

6. Fonetik artikulatoris membahas bunyi-bunyi bahasa menurut cara dihasilkannya dengan alat-alat bicara, misalnya bunyi [p] dan [b] dihasilkan dengan penyempitan organ antara bibir bawah dan bibir atas, makanya disebut bilabial atau ‘dwibibir’.

7. Bunyi-bunyi bahasa dibedakan lagi menjadi dua, yaitu segmental (misal, kata dan memiliki tiga segmen berurutan yaitu [d] [a] [n]) dan suprasegmental (yang lebih banyak tentang intonasi atau lagu).

Cukup. Selesai sudah tujuh kalimat yang padat itu. Tertarik untuk tahu lebih? Silahkan merujuk pada beberapa buku linguistik yang sederhana dan menyenangkan, seperti Asas-asas Linguistik Umum karya J.W.M. Verhaar yang juga jadi rujukan utama tujuh kalimat di atas. Selamat mencari-cari lagi.

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar