Harimurti Kridalaksana

21 April, 2009 | Edisi: | Kategori: Tokoh Bahasa

Harimurti Kridalaksana

Harimurti Kridalaksana

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

 

Setelah membangkitkan Ferdinand de Saussure dari alam baka, LIDAHIBU memutuskan untuk pulang ke Indonesia tercinta dan menetapkan bahwa kolom Tokoh Bahasa kali ini lebih baik diisi oleh orang Indonesia saja. Ayo, kita langsung berkenalan dengan tokoh bahasa yang perkasa ini: Harimurti Kridalaksana!

Apabila kawan-kawan pernah membaca buku Fungsi Bahasa dan Sikap Bahasa yang ditulis oleh beliau, yang pernah masuk juga dalam Pustaka Gokil, maka satu foto beliau yang penuh energi, muda, dan terpelajar akan menyapa kawan-kawan sekalian. Sebuah foto lama yang akan membuat kita lupa bahwa beliau ini kelahiran tahun 1939, tepatnya pada tanggal 23 Desember. Sudah 70 tahun umur beliau ini, lho. Beliau lahir di Ungaran, Jawa Tengah bernama lengkap Raden Mas Hubert Emmanuel Harimurti Kridalaksana. Panjang, ya, namanya.

Dari penelusuran LIDAHIBU, dengan sedikit melakukan studi banding tiga sumber tulisan singkat yang berbeda mengenai beliau, ternyata LIDAHIBU kesulitan menemukan nama sekolah dasar, sekolah menengah, sekolah menengah atas beliau. Tapi, sebagai pelipur lara, LIDAHIBU tahu dengan pasti bahwa beliau ini meraih gelar Sarjana Sastra dari Universitas Indonesia pada tahun 1963. Dari universitas ini juga, pada tahun 1987, beliau meraih gelar Doktor Ilmu Sastra. Beliau ini seorang pelajar sejati yang mengejar ilmu, pada bidang bahasa tentunya, sampai ke negeri jauh di seberang. Tercatat beliau pernah belajar di Universitas Pittsburgh, AS (1970); sebagai sarjana pengunjung di Universitas Michigan, AS (1973); dan Humboldt scholar pada Johan Wolfgang Goethe-Universitat di Frankfurt am Main, Jerman Barat (1985).

Rajin sekolah juga rajin mengajar. Beliau memulai karir di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan pada tahun 1961 sebagai guru dalam bidang civies dan penerjemah karya-karya dalam ilmu sosial dan politik. Pada tahun 1961 beliau mulai aktif mengabdi di UI. Di universitas ini beliau mengajar Linguistik dan Linguistik historis komparatif Austronesia pada tahun 1963. Selain di UI, beliau juga mengajar di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta dan Universitas Trisakti, Jakarta. Beliau juga menjadi penguji luar di Annamalai University (India), konsultan sejarah bahasa Melayu pada Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, Konsultan perkamusan dan peristilahan pada pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Astaganaga!

Kalau pembaca sudah gatal ingin menyebut beliau ini sebagai seorang linguis, maka dengan senang hati LIDAHIBU mengiyakannya. Beliau ini sangat peduli dengan masalah bahasa. Beliau bahkan sudah menulis lebih dari 100 makalah dan lebih dari 20 buku. Di awal karirnya, beliau pernah menulis “Towards a Standardization of Phonologic and Morphologic Borrowed Elements in Indonesian” untuk International Conference of Orientalist, Kuala Lumpur 1967; “Second Participant in Indonesian Address” dalam International Congress of Orientalist, Canberra (Australia) 1971; dan “Lexicography in Indonesia” dalam International Congress of Linguist, Wina (Austria). Dalam Kongres Bahasa III di Jakarta 30 Oktober 1978, beliau memaparkan makalahnya untuk pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia di bidang linguistik yang berjudul “Perkembangan dan Pengembangan Kosa Kata dalam Bahasa Indonesia”.

Selain rajin menulis, beliau juga senang melakukan penelitian di lapangan. Apa buktinya? Penelitian sosiolinguistik di Jakarta dalam rangka kerja sama dengan Stanford University dan Universitas Indonesia tahun 1969. Beliau juga pernah mengadakan penelitian mengenai bahasa Melayu Riau di Pulau Bintan dan Pulau Lingga; lalu penelitian mengenai bahasa Orang Laut di kepulauan Riau dan bahasa Orang Sakai di Riau Daratan dari tahun 1969 sampai dengan 1972 (disponsori oleh LIPI). Pada tahun 1974, beliau melakukan survey politik di Malaysia, Singapura, dan Filipina. Selain itu kegiatan bahasa lain juga sangat banyak: penyusunan buku pelajaran, penyusunan ejaan, penyusunan istilah, penyusunan kamus, penelitian teoritis mengenai bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia, serta pembinaan bahasa. Wow, hebat, euy!

 Beliau adalah editor Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua dan Kamus Mandarin -Indonesia. Kalau mau tahu pemikiran beliau, baca saja buku yang pernah ditulisnya: Seminar Bahasa Indonesia 1968 (bersama Djoko Kencono), Kamus Sinonim Bahasa Indonesia, Kamus Linguistik (1982), Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia (1986), Beberapa Prinsip Perpaduan Leksem dalam Bahasa Indonesia (1988), Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai (1989), Bibliografi Beranotasi tentang Sejarah Bahasa Indonesia (1989), Fungsi Bahasa dan Sikap Bahasa (1974), Introduction to Word Formation and Word Classes in Indonesian, Wiwara: Pengantar Bahasa dan Kebudayaan Jawa. Pada bulan Juli 2002 diluncurkan buku terbarunya yang berjudul Struktur, Kategori, dan Fungsi dalam Teori Sintaksis.

Makalah bahasa yang beliau tulis juga patut dibaca. Makalah penting beliau yang beredar di luar negeri berjudul “The Sanskrit Legacy in Indonesian Today”, ini disajikannya dalam 11th Worlds Conference of Sanskrit di Turino Italia pada 3 April 2000; dan “Paradigma Semiotik dalam Linguistik Melayu/Indonesia” yang disajikan di Universiti Putra Malaysia pada 22 Oktober 2001.

Sampai sekarang beliau masih menjadi profesor teori Linguistik dan Bahasa Indonesia dan Kepala Pusat Leksikologi dan Leksikografi di Universitas Indonesia. Pada tanggal 1 Desember 1999, beliau mulai menjabat Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

Yakin bahwa dirinya tidak hidup sendiri di dunia ini, beliau bergabung dengan beberapa perkumpulan. Beliau merupakan Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Bahasa Indonesia (1974-76 dan 1976-78), anggota Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-, en Volkenkunde (sejak 1961), anggota Societas Linguistica Europa (sejak 1969), anggota Linguistic Society of America (sejak 1970), anggota America Dialect Society (sejak 1973), Anggota Perkumpulan Linguistik Malaysia (sejak 1979), anggota Royal Asiatic Society (sejak 1985), dan Ketua Umum Pengurus Pusat Masyarakat Linguistik Indonesia (1988-sekarang).

Dengan pencapaian semacam itu, siapa mau jadi seperti atau bahkan melebihi beliau?

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar