Wawancara dengan Duta Bahasa Nasional
21 April, 2009 | | Kategori: Liputan KhususOleh Wahyu Adi Putra Ginting dan Wahmuji
Pengantar Redaksi:
Dirgahayu! Di edisi percobaan #11, LIDAHIBU telah berjanji untuk menghadirkan hasil liputan wawancara dengan Duta Bahasa Nasional, Analisa Widyaningrum dan Dhinar Arga Dumadi. Janji itu LIDAHIBU tepati sekarang. Setelah melalui halang-rintang dalam hal ruang, waktu, dan sambung-wicara, akhirnya, bertempat di Gedung Fakultas Psikologi Universitas Gajahmada Yogyakarta, LIDAHIBU berkesempatan untuk mewawancarai langsung para Duta Bahasa Nasional. Berikut rangkuman hasil wawancara tersebut. Selamat menikmati.
Jalan ke Jakarta
Analisa Widyaningrum (mahasiswi Jurusan Psikologi UGM) dan Dhinar Arga Dumadi (mahasiswa Jurusan Sastra Perancis UGM) terhenyak ketika didaulat untuk mengikuti proses seleksi daerah ajang pemilihan Duta Bahasa Nasional 2008. Apa pasal? Mereka berdua hanya punya waktu satu minggu untuk mempersiapkan segala yang dibutuhkan! Hal ini terjadi karena, tanpa nyana tanpa sangka, Balai Bahasa Yogyakarta, yang sedianya berencana untuk tidak mengirimkan para wakilnya ke ajang pemilihan tersebut, banting stir, mendadak memutuskan untuk ikut serta. Walhasil, Balai Bahasa Yogyakarta melakukan seleksi tertutup untuk menyaring para calon wakilnya, serta meminta UGM untuk merekomendasikan para mahasiswa(i)nya yang dianggap layak menjadi peserta seleksi. Namun, tidak diketahui alasan mengapa hanya mahasiswa(i) dari UGM saja yang diajukan.
“Kami berdua juga kurang mengerti alasannya,” jawab Analisa dan Dhinar kompak.
Begitu pun, Analisa dan Dhinar direkomendasikan oleh UGM bukan tanpa alasan. Mereka berdua punya rekam-jejak prestasi yang bagus berkaitan dengan kebahasaan. Analisa, yang menamatkan jenjang Sekolah Menengah Atas-nya di SMAN 9 Yogyakarta ini, menjadi jawara debat Bahasa Indonesia. Ia juga pernah menjuarai lomba penulisan karya ilmiah yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan. Dhinar setali tiga uang dengan Analisa. Semasa SMA, ia juga pernah menjadi juara debat Bahasa Indonesia, dan aktif di berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta, terutama, Bengkel Bahasa, dimana ia pernah terpilih sebagai peserta terbaik.
Pendek kata, Analisa dan Dhinar, beserta tiga mahasiswa(i) UGM lainnya, terjun dalam kancah kompetisi memperebutkan tempat sebagai wakil Provinsi DI Yogyakarta untuk dikirim ke Jakarta, ke seleksi tingkat nasional. Dari hasil penilaian, Analisa Widyaningrum dan Dhinar Arga Dumadi keluar sebagai pasangan yang lolos seleksi tingkat daerah. Sampai di sini, bolehlah kita nyanyikan dengan nada Koesploes, ke Jakarta mereka akan pergi…
***
Sekejap bolehlah Analisa dan Dhinar bersuka hati. Tapi, perjuangan belum usai. Waktu yang menghimpit menuntut mereka untuk sigap dan cepat menyiapkan segala keperluan, dari sikat gigi, sabun mandi, busana, sampai bahan untuk karya ilmiah kebahasaan mereka. Akh, yang mepet memang menggencet!
Jakarta, Karantina
Sampai di Jakarta, tibalah saat-saat sibuk bagi Analisa dan Dhinar. Mereka berbaur dengan para pasangan calon dari 24 provinsi lainnya. Selama satu minggu penuh mereka dikarantina.
Pada seleksi tingkat nasional, Analisa dan Dhinar kembali dihadapkan pada berbagai ujian: mulai dari Uji Kemampuan Bahasa Indonesia, bahasa asing, bahasa daerah, sampai pada pembuatan karya ilmiah dan penampilan mereka dalam seminar-seminar yang mereka ikuti. Pagi sampai siang mereka berjibaku dengan kegiatan-kegiatan seminar yang wajib mereka hadiri. Hanya malam harilah yang mereka punya untuk merumuskan serta menuliskan karya ilmiah mereka.Tema karya ilmiah sudah ditentukan oleh Pusat Bahasa: Bahasa Sebagai Cerminan Jati Diri Bangsa. Tema inilah yang mereka ramu-terapkan ke dalam karya ilmiah berjudul Bahasa Sinetron Merusak Jati Diri Bangsa.
Studi pustaka pun dilakukan. “Saya sampai harus memohon pada kakak yang menjaga ruang karantina kami agar diizinkan pergi mencari data ke warnet,” kenang Dhinar.
Setelah data didapatkan, jadilah mereka bergantian begadang, menumpahkan buah-pikir mereka ke dalam karya ilmiah itu. Usaha mereka tidak sia-sia, pencapaian mereka dalam seluruh ujian seleksi dan karya ilmiah yang mereka buat mengantarkan mereka berdua ke posisi puncak: Duta Bahasa Nasional 2008.
Karya mereka adalah sebuah kritik keras terhadap penggunaan Bahasa Indonesia dalam ruang sinetron. Penggunaan bahasa yang amburadul, tak baik dan tak benar, menjadi pusat perhatian mereka. Analisa dan Dhinar punya pandangan yang asyik dalam memaknai Bahasa Indonesia yang baik dan benar, yang selama ini dikenal oleh khalayak banyak sebagai bahasa yang beku dan kaku. Mereka beranggapan bahwa Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah Bahasa Indonesia yang digunakan secara kontekstual dan proporsional. Pandangan ini mereka landaskan pada salah satu butir pasal Undang Undang Kebahasaan kita: bahwa penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah penggunaan bahasa yang mempunyai proporsi yang seimbang antara bahasa asing, Bahasa Indonesia, dan bahasa daerah.
Setelah Menjadi Duta Bahasa Nasional?
Analisa dan Dhinar mengeluhkan minimnya dukungan Pemprov DIY, terutama dalam masalah dana, terhadap ruang kebahasaan. Analisa dan Dhinar sempat membandingkan kondisi mereka dengan salah satu pasangan wakil provinsi Jawa Barat, yang didukung penuh oleh Pemprovnya.
“Mereka pernah dikirim untuk menonton acara Kick Andy oleh Pemprov Jawa Barat. Meskipun hanya sebagai penonton, tapi setidaknya itu merupakan wujud perhatian Pemprov pada mereka,” ujar Dhinar.
Menurut pengakuan mereka, sejak ditetapkan menjadi Duta Bahasa Nasional, baru satu kegiatan kebahasaan yang mereka alami: Forum Bahasa di Mediamassa, sebuah ruang yang digagas oleh Balai Bahasa Yogyakarta, bekerjasama dengan sejumlah jurnalis dan praktisi bahasa. Begitu pun, di sesela kesibukannya, Dhinar masih sempat mengajar Bahasa Indonesia di tingkat SMA, serta mengikuti penelitian kebahasaan. Sementara itu, Analisa lebih banyak berkecimpung di dunia fakultasnya: ia sekarang menjadi seorang asisten dosen.
Bahasa Indonesia?
Melihat berbagai gejala kebahasaan yang terjadi di Indonesia, dengan menyeruaknya gejala nginggris dan penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak baik tidak benar, Dhinar menyerukan agar semua pihak tidak saling menyalahkan. Alih-alih, harus ada kerjasama antara pemerintah (dengan kebijakan politik lewat Undang-Undang Kebahasaan) dan masyarakat (lewat kendali terhadap diri dan keluarga dalam penggunaan bahasa). Analisa cenderung beranggapan bahwa diri adalah titik kunci penggunaan bahasa. Kendali diri terhadap penggunaan bahasa yang kontekstual dan proporsional, jika dilakukan secara luas dan menyeluruh, pasti akan dapat memperbaiki keadaan kebahasaan kita.
Sementara itu, ketika ditanya tentang apa makna Bahasa Indonesia bagi mereka, Dhinar dan Analisa menjawab, “Bahasa Indonesia adalah kebanggaan dan harta bangsa Indonesia yang mencerminkan jati diri bangsa.”
Waw! Sepertinya LIDAHIBU akan terus-terusan tertarik pada para Duta Bahasa Nasional kita ini. Semoga di suatu masa dekat, LIDAHIBU dapat menggaet mereka berdua dalam usaha melestarikan dan mengembangkan Bahasa Indonesia. Nah, anaknongkrong LIDAHIBU, tinggal kita tunggu saja tanggal mainnya.



Bagi saya, ada satu pertanyaan yang lupa dilontarkan oleh wartawan LIDAHIBU: Apa itu Duta Bahasa Nasional? Apa gunanya? Apa yang dikaryakannya?
Hendaknya, menanggapi ‘keluhan’ dari para Duta Bahasa Nasional 2008, mereka berdua berani bergerak sendiri. Kalau memang gelisah, dan tak banyak pihak yang tanggap, saya rasa dengan status sebagai Duta Bahasa, sebuah pangkat yang saya kira tidak main-main, mbak Analisa dan mas Dhinar dapat berusaha sendiri (dan tak berarti sendirian). Saya kira banyak pihak ‘non-mayor’ lain yang tertarik untuk meligatkan pergerakan bahasa Indonesia, setidaknya, di DIY dulu, lah.
Mengapa tak adakan saja program seminar bahasa ‘dari sekolah ke sekolah’, dengan dwi-tunggal duta bahasa nasional sebagai pemakalahnya? Dan undang juga tokoh-tokoh kebahasaan di Yogyakarta. Mumpung di Yogya, saya rasa kalau bujuk-rayunya bagus, para tokoh itu mau kok menyumbang tenaga dan pikiran tanpa mempermasalahkan lembaran rupiah.
Hayo, duta bahasa, berani?!