Bahasa Sanskerta dan Bahasa Melayu
24 Mei, 2009 | | Kategori: Pustaka Gokil
Judul : Bahasa Sanskerta dan Bahasa Melayu
Pengarang : James T. Collins
Penerbit :KPG bekerja sama dengan Ecole francaise d’Extreme-Orient (EFEO), dan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Bulan terbit : Februari 2009
Jumlah halaman : 142 hlm.
Ukuran buku : 16X24 cm
Ulasan
Anda masih tertarik mendengar nama Malaysia? Kalau tidak, saya sarankan untuk tidak membaca buku ini dari halaman awal hingga tandas tak bersisa. Mengapa? Karena buku ini berbau kesarjanaan Malaysia. Namun, saya yakin Anda adalah orang yang bijak kalau tertarik dengan buku ini, dan tak mengacuhkan gurauan saya tadi. Maklumlah, banyak opini negatif yang beredar, apalagi sudah muncul kata indon untuk menyebut orang Indonesia, yang berarti sebagai ’sesuatu yang sangat buruk, mudah ditiduri, mudah dipukuli’. Namun, tiada guna bertungkus-lumus dengan masalah yang tuna-akal macam ‘ni. Kalau Anda tertarik dan ingin tahu tentang buku ini, mari turut sahaya.
Sudah dikatakan di awal bahwa buku ini akan sangat kental dengan aroma lingkungan akademik Malaysia karena Collins memang melakukan penelitiannya di negeri jiran itu. Namun, jangan merasa heran apabila buku ini diterbitkan di Indonesia melalui penambahan dan perbaikan tulisan, demi menampilkan sebuah risalah yang dianggap lebih tepat, walaupun tak memuaskan memang.
Jangan pula berharap banyak dari buku ini, Collins dengan rendah hati menuturkan bahwa buku ini ditulis dari sudut pandang seorang pelajar linguistik yang belum pandai merenangi lautan ilmiah yang terbentang luas. Buku ini juga tidak akan menunjukkan bentuk dan urutan aksara Sanskerta dan daftar segala tulisan dalam bahasa Sanskerta. Yang lebih penting dari buku ini adalah peran bahasa Sanskerta dalam perkembangan bahasa Melayu dan pembinaan peradaban Nusantara pada umumnya. Buku ini diharapkan mampu menyumbangkan suatu pemahaman sejarah bahasa Melayu dan juga penyusuran sejarah ide dan budaya di Nusantara. Artinya, buku ini adalah suatu awalan, pengantar, dan masih dibutuhkan kajian lain dari ahli-ahli lain dalam ranah Linguistik Historis Komparatif ini.
Ada sebuah cerita lucu. Pada awal bulan Agustus 2002, di Malaysia terbentang lebar judul berita yang dengan bangga menyatakan bahwa Malay language is fourth most commonly used (Vinesh, 2002:8). Menurut sumber itu, bahasa Melayu menduduki posisi keempat dalam urutan bahasa utama di dunia (setelah bahasa Tionghoa, Inggris, dan Spanyol). Penentuan posisi tersebut didasarkan pada jumlah penutur bahasa, baik penutur bahasa ibu, maupun penutur bahasa tambahan atau penutur bahasa perantara. Hebat sekali, bukan? Konon, berita di koran tersebut bersumber dari hasil penelitian sebuah institusi akademik yang terpandang di Malaysia. Rupanya, memang hal itu harus terjadi: para sarjana tersebut sangat sibuk menyiapkan laporan yang (mungkin) akan membuat bangga warga Malaysia hingga mereka lupa bahwa lagu “Kuch Kuch Hota Hai” kala itu masih berkumandang di seluruh Malaysia. Mereka melupakan bahasa Hindi.
Sangat pentingkah bahasa Hindi dalam kajian ini? Tentu saja! Bahasa Hindi merupakan salah satu dari puluhan bahasa yang dapat digolongkan sebagai bahasa turunan dari bahasa Sanskerta (Massica, 1993). Menurut Ethnologue, pada tahun 2002 saja terdapat 600-650 juta orang penutur bahasa Hindi (ditambah penutur bahasa Urdu, yang menurut Grimes [1988:486] sama saja dengan bahasa Hindi, dan penutur bahasa Punjabi, salah satu bahasa yang diklasifikasikan sebagai bahasa yang sama dengan bahasa Hindi dalam rangkaian dialek [482]). Tak heran kalau orang Pakistan yang berbahasa Urdu bisa menggemari film produksi Mumbai yang berbahasa Hindi. Collins juga mencatat bahwa angka penutur bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, baik sebagai bahasa ibu, bahasa kedua, atau ketiga, sebetulnya belum mencapai angka 250 juta orang pada tahun 2002.
Jika membaca buku ini, janganlah lupa untuk membaca catatan kakinya karena ada banyak penjelasan penting di situ, termasuk istilah Nusantara yang dipakai buku ini untuk menunjuk Kepulauan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Timor Leste, serta Filipina, dan juga bagian Asia Tenggara lainnya yang masih menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pertama atau kedua, misalnya di Thailand bagian selatan (Pattani) atau sekolah pendidikan Islam di Kamboja.
Adapula kisah yang menarik tentang pengkajian bahasa Sanskerta di Nusantara, tepatnya di ibu kota kerajaan bahari Sriwijaya, yang dulu dikenal dengan nama Fo-shih, yang sekarang tidak lain adalah Palembang, khususnya di tebing utara sungai Musi. Kota itu begitu masyhur karena kegiatan kesarjanaan bahasa Sanskerta dan kegiatan agama Buddha. Bahkan Vlekke (1965:27), yang mengutip karangan Takakusu (1896), menuliskan bahwa para biksu Tionghoa yang hendak ke India sebaiknya tinggal dulu setahun atau lebih di Sumatra sebelum melanjutkan perjalanannya ke India.
Mungkin pembaca harus membayangkan bahwa Nusantara dulu begitu kaya, begitu basah akan pengetahuan. Orang berbondong-bondong datang dari negeri jauh di seberang demi mengejar ilmu di Nusantara. Tengoklah kisah I-Ching sang biksu Tionghoa yang mau bersusah payah kembali ke negerinya hanya untuk mengambil tambahan tinta dan kertas karena yakin akan mendapatkan banyak ilmu penting di Fo-shih, juga biksu India yang mau jauh-jauh datang menimba ilmu ke Nusantara. Pertanyaannya: adakah tersisa semangat itu? Atau zaman seperti itu sudah benar-benar berlalu?


“para sarjana tersebut sangat sibuk menyiapkan laporan yang (mungkin) akan membuat bangga warga Malaysia hingga mereka lupa bahwa lagu “Kuch Kuch Hota Hai” kala itu masih berkumandang di seluruh Malaysia. Mereka melupakan bahasa Hindi.”
Ha-ha-ha… Begitulah, kalau terlalu bernafsu, memang lupa jadi sobat. “Gajah di pelupuk mata tak tampak”, begitu kata orang dulu beramsal.