Diterangkan-Menerangkan

24 Mei, 2009 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

Terbalik-balik

Terbalik-balik

Oleh Wahmuji

Ketika entah di SLTP atau SLTA, saya mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia yang salah satu isinya memberikan pengertian bahwa struktur bangunan frasa Bahasa Indonesia berbanding terbalik dengan bahasa Inggris. Inilah yang paling saya ingat: frasa Bahasa Indonesia itu DM (Diterangkan-Menerangkan) sedangkan bahasa Inggris MD (Menerangkan-Diterangkan). Contohnya, kalau dalam Bahasa Indonesia kita bilang gadis cantik, maka dalam bahasa Inggris kita bilang beautiful girl. Keduanya merupakan frasa kata benda. Kata gadis dan girl berperan sebagai induk frasa, sedangkan cantik dan beautiful adalah kata sifat yang menerangkan kata benda yang diikuti (mengikutinya, dalam frasa bahasa Inggris). Maka, gadis diterangkan oleh cantik, dan beautiful menerangkan sifat si girl. Begitulah saya mendapatkan pelajarannya, dan sampai di sini semuanya beres-beres saja.

Ketika menerjemahkan sebuah teks tentang obat-obatan alami, saya menemukan kata aromatheraphy dan hydroteraphy. Ketika saya bermaksud memberikan nalar DM dalam dua kata tersebut, yaitu terapi-aroma dan terapi-air, penyunting saya melarangnya. Alasannya bukan karena arometerapi telah, misalnya, menjadi satu kata utuh semacam leksikografi (dan semua yang berakhir -grafi), epistemologi (dan semua yang berakhiran -logi), atau pascakolonialisme (atau semua kata yang berakhiran ­-isme). Alasannya sederhana: masyarakat lebih kenal aromaterapi daripada terapi-aroma. Saya tentu saja terkejut dan marah dalam hati. Ini ‘kan tidak cocok dengan pelajaran Bahasa Indonesia yang saya terima?! Apakah yang umum diketahui masyarakat selalu yang benar? Menurut pengalaman saya, justru sebaliknya. Kejadian ini membawa saya pada keinginan untuk mengumpulkan kembali beberapa frasa kata bendayang bernalar-makna DM dan ‘pengkhianatan-pengkhianatannya’ dalam Bahasa Indonesia. Hasilnya cukup mencengangkan.

Di ranah kehidupan sehari-hari, untuk menyebut ice cream dan ice tea, serta semua kata yang bersusunan sama, kita langsung saja menerjemahkannya kata-per-kata: es krim, es teh, serta es-es lainnya. Bukankah induk dua frasa itu bukan es melainkan krim dan teh? Kata es tidak diterangkan oleh krim ataupun teh. Justru sebaliknya, kata es-lah yang menerangkan krim atau teh-nya. Anehnya, kita juga mendengar frasa teh hangat, jeruk hangat, atau kopi panas. Susunan frasa ini adalah yang seharusnya. Terus, mengapa kita tidak menyebut es teh dengan teh es atau teh dingin, es susu dengan susu es atau susu dingin?

Di mediamassa cetak, terutama saat musim hujan, saya sering melihat frasa banjir kanal. Lho, bukankah induk frasanya kanal, dan bukan banjir? Frasa banjir kanal diambil dari bahasa Belanda bandjir kanaal, yang artinya ’saluran/terusan/kanal banjir’. Aneh kan kalau yang seharusnya berarti ’saluran banjir’ menjadi ‘banjir saluran’?

Juga, lihatlah SoloPos dan JawaPos. Kedua frasa itu sama persis dengan, misalnya, The Jakarta Post. Bukankah kedua bahasa itu memiliki hukum susunan yang berbeda? Maka, untuk SoloPos, jika pos di sana berarti ‘tempat berkumpul atau tempat anggota sekelompok orang-orang atau masyarakat Solo melalui tulisan di media cetak’, saya pikir lebih tepat namanya Pos Solo, dan bukan SoloPos. Nama koran yang menaati hukum DM dengan memakai kata pos adalah koran Pos Kota. Khusus yang berhubungan dengan pos, kita akan menemukan nalar-makna terbalik untuk, misalnya, poswesel yang, setelah terkena hukum DM, menjadi weselpos. Kata pos di frasa ini berarti ’surat-surat dan sebagainya yang dikirim dengan perantaraan pos’. Anehnya, ada beberapa frasa yang memiliki arti pos yang sama tapi susunannya berbeda. Misalnya, ada kereta-pos dan tukang pos, tetapi juga ada pos wesel (kata pos wesel ternyata dipertahankan oleh penyusun KBBI Pusat Bahasa Edisi Keempat). Lalu, di KBBI ada juga frasa pos paket, yang artinya paket pos. Aneh, kan? Pos-pos yang lainnya yang setali tiga uang dengan pos paket adalah pos ekspres, pos elektronik, pos kilat, pos kilat khusus, pos laut, pos suara, dan pos udara.

Di televisi atau radio kita sudah terbiasa mendengar frasa video klip. Bukankah yang dimaksud frasa itu adalah klip yang berbentuk video, dan bukan video yang berbentuk klip? Coba cari frasa serupa dalam bahasa Inggris. Kita akan menemukan susunan yang sama persis, video clip atau video clips.

Di ranah militer kita akan menemukan pangkat Letnan Jendral; dan di ranah keorganisasian, kita akan menemukan istilah Sekretaris Jendral. Kadang, dipakai frasa Sekretaris Umum. Bukankah keduanya bersusun sama dengan Lieutenant General dan Secretary General? Lalu dimana MD-DM-nya? Di lingkup politik kita menemukan frasa bahasa Inggris president elect. Bukankah seharusnya, menurut hukum MD, elected president? Belum lagi carut-marut campur kode, misalnya, presiden incumbent. Untung Salomo Simanungkalit dengan sigap mengajukan lema petahana untuk padanan incumbent.

Di dunia olahraga lebih menarik lagi. Dalam bahasa Inggris, kita menyebut sebuah permainan bola yang dilakukan oleh dua regu, masing-masing atas lima pemain yang berusaha mengumpulkan angka dengan cara memasukkan bola ke keranjang lawan, dengan Basket Ball, sedangkan di Indonesia kita menyebutnya Bola Basket. Dalam bahasa Inggris kita menyebut Volley Ball dan di Bahasa Indonesia kita menyebutnya Bola Voli. Sampai di sini, baik-baik saja. Lalu, bagaimana dengan sepak bola atau sepak takraw? Sepak bola dibentuk dengan kata sepak dan bola, keduanya adalah kata benda. Menurut KBBI Pusat Bahasa Edisi Keempat, sepak berarti ‘gerakan memukul sesuatu dengan kaki, dengan cara mengayunkan kaki (ke muka atau ke sisi); tendang; depak’. Apa yang disepak? Bola! Kata sepak dalam sepak bola tidak berpangkat kata kerja. Sepak bola tidak berarti menyepak bola. Dulu, untuk memanggil football, kita mengenal kata bola sepak. Inilah yang seharusnya. Namun, karena kalah jumlah penutur dan keteguhan penggunaan, kata ini dilupakan. Susunan kata sepak bola berkebalikan dengan, misalnya, sepak sila dan sepak singkur. Sepak sila artinya ‘tendangan dengan kaki sebelah dalam’ sedangkan sepak singkur maknanya ‘tendangan dengan bagian kaki sebelah luar’. Kata sila dan singkur keduanya menerangkan kata sepak. Bukan sebaliknya.

Melihat gejala banyaknya frasa yang biasa dipakai dalam Bahasa Indonesia yang tidak DM itu, saya merasa kebingungan untuk mengelompokkannya ke dalam sebuah gejala tertentu. Terbesit untuk manganggapnya sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja. Bahkan, lebih ‘positif’ lagi, sebagai gejala yang memperkaya khazanah Bahasa Indonesia. Namun, saya meragukan sendiri pikiran saya. Bukankah apa yang dilakukan itu merupakan bentuk kesemena-menaan yang a-priori? Bukankah itu bentuk kemalasan memahami bahasa sendiri? Kalau misalnya nanti saya jadi guru Bahasa Indonesia, apa yang harus saya katakan pada para murid saya?

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

4 komentar
Berikan komentar »

  1. “Bukankah apa yang dilakukan itu merupakan bentuk kesemena-menaan yang a-priori? Bukankah itu bentuk kemalasan memahami bahasa sendiri? Kalau misalnya nanti saya jadi guru Bahasa Indonesia, apa yang harus saya katakan pada para murid saya?”

    Katakan saja, “Anak-anak, Bapak tidak janji bahwa apa yang Bapak katakan ini tepat, apalagi indah.”

    Yuditra did not rate this post.
  2. aku rasa apa yang telah di lakukan saudara wahmuji merupakan pandangan kritis pada fenomena bahasa Indonesia saat ini. tapi konsep DM dan MD jangan terlalu kaku dalam penerapannya. bukankah bahasa itu hidup? terus berkembang? kalau dulu para ahli bahasa kita telah dapat meruuskan konsep DM bukan MD sekarang bisa saja berubah konsepnya. dan apa yang telah diajarkan oleh pak guru anda itu benar pada saat itu dan bisa jadi masih benar dan juga tidak benar pada saat ini.

    catur did not rate this post.
  3. ulasan yang bagus mas wahmuji. sudah lama saya mencari website tentang bahasa & lingustik seperti ini. saya berharap, berdo’a dan akan membantu untuk meningkatkan trafik dari website ini, mudah2xan website ini terus hidup dan tetap eksis di dunia maya ini … amin. maaf mas wahmuji, bahasa saya memang berantakan, saya hanya penikmat bahasa & sastra saja, :D.

    hadi.ismanto did not rate this post.
  4. like this info :) thanks

    why.itgo.com did not rate this post.

Berikan Komentar