Lidah Ibu
24 Mei, 2009 | | Kategori: Tulisan MusimanKOMPAS terbitan Minggu 14 Desember 2008 memuat sajak-sajak penyair Sitok Srengenge. Ada lima sajak yang maktub. Kesemuanya, menurut saya, mempunyai warna yang sama: sajak kata (sajak bahasa). Dari lima sajak itu, yang paling menjerat perhatian saya adalah sajak yang berjudul Lidah Ibu. Selain karena sajak tersebut mengusulkan sebuah penalaran tentang ‘bahasa kebenaran’, ‘bahasa cipta’, ‘bahasa pengada’, dan ‘bahasa kasih’, adalah frasa lidah ibu itu sendiri yang menggelitik benak saya.
Saya pikir tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa frasa lidah ibu adalah terjemahan kata-per-kata dari frasa Inggris mother tongue. Sebenarnya, ada terjemahan yang lebih lazim lagi: bahasa ibu. Tapi, mengapa Sitok lebih memilih lidah ibu sebagai judul sajaknya? Berbedakah lidah ibu dengan bahasa ibu? Ada apa dengan lidah?
Lema tongue, berakar dari kata Inggris Kuno tunge, memang memiliki dua makna: ‘lidah’ dan ‘bahasa (tutur kata)’. Kedua makna ini adalah makna harfiah, mirip dengan lema Latin lingua. Lidah, dalam bahasa Indonesia, memiliki nalar-makna yang agak lain. Makna harfiahnya, sesuai yang tertera di KBBI, adalah ‘alat di mulut yang dapat bergerak-gerak dengan mudah, gunanya untuk menjilat, mengecap, dan berkata-kata’. Sementara itu, lidah untuk nalar-makna ‘perkataan; tutur kata’ adalah kiasan.
Dalam bahasa Indonesia, penyebaran lema lidah, dalam makna ‘tutur kata atau ucapan’, tersua dalam peribahasa, contohnya, ‘lidah tak bertulang’; ‘berkata peliharakan lidah’; ‘menjerat lidah orang’; dll. Ada juga dalam beberapa idiom, contohnya, (yang berhubungan dengan kefasihan melafalkan) ‘lidah lembut’, ‘lidah keras’, ‘lidah patah’, ‘lidah kaku’; (yang berhubungan dengan kejujuran) ‘lidah bercabang’; (yang rasis) ‘lidah keling’; (yang harus didengarkan dan diamalkan oleh DPR) ‘lidah rakyat’; (yang berhubungan dengan percakapan) ‘lidah tergalang’, ‘lidah terganjal’, ‘lidah terkalang’. Lalu di mana letak lidah ibu? Ternyata belum maktub.
Konsep lumrah pembentukan frasa kata benda dalam Bahasa Indonesia adalah ‘diterangkan-menerangkan’, berbanding terbalik dengan bahasa Inggris. Tetapi, tidak selalu begitu. Ini salah satu contohnya: berseberangan dengan konsep yang dipaparkan barusan, idiom Inggris mother land padanannya adalah ibu pertiwi, bukan ‘pertiwi ibu’. Mengapa demikian? Ada gejala khusus yang terjadi. Lema ibu, dalam kaitannya dengan pembentukan idiom, dari daftar yang saya temukan di KBBI, selalu berada di urutan awal, contohnya: ibu negara, ibu pertiwi, ibu kota, ibu jari, ibu tangga, ibu panah, dll. Ini sama saja dengan jukstaposisi antara secretary general dengan sekretaris umum, atau ’sekretaris jenderal’.
Yang perlu diingat adalah bahwa idiom merupakan frasa-beku yang maknanya tidak patuh pada makna harfiah dari kata-kata pembentuknya. Idiom adalah bentuk linguistik unik yang secara semantik telah disepakati oleh kelompok penutur bahasa dalam lingkungan tertentu. Maka, jangan heran kalau proses pembentukannya pun tidak selalu patuh dengan konsep baku.
Uniknya, mother tongue berpadan dengan, seperti yang ditawarkan Sitok, ‘lidah ibu’, dan bukan ‘ibu lidah’. ‘Lidah ibu’ justru patuh pada kaidah lumrah pembentukan frasa kata benda dalam Bahasa Indonesia. Menurut saya, meskipun idiom ‘lidah ibu’ masih belum ajeg digunakan dan terdengar agak janggal, ia boleh dipertimbangkan sebagai istilah alternatif, yang muradif dengan ‘bahasa ibu’. Sitok pun sudah tepat menggambarkan makna puitiknya:
Lidah ibu menyalakan lampu dalam kataku / Benda-benda yang tersentuh cahayanya pun mengada / riuh menyebut nama-nama, piuh merajut semesta.
Sahihlah demikian kiranya. Lidah ibu membuat manusia mengenal semesta lewat kata-kata. Semesta mengada dalam diri manusia lewat bahasa.
Kini tinggal memasyarakatkan istilah tersebut agar lazim di telinga dan lidah penutur. Kejanggalan kata niscaya akan tergerus ketika kata tersebut, yang sudah diberi penalaran makna dengan jelas, kerap diberdayakan. Banyak cara bisa dilakukan - Sitok telah melakukan salah satunya.
Saya, secara pribadi, menunggu KBBI meminang ‘lidah ibu’ sebagai salah satu lemanya.

(1 votes, average: 4,00 out of 5)