Morfologi

24 Mei, 2009 | Edisi: | Kategori: Kultukal

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

Salam jilat! Pucuk dicinta, encik dosen tamu pun tiba. Semoga sehat selalu, jiwa dan raganya, soalnya encik mau berbagi sesuatu yang seronok di Kultukal ini. Apa itu? Sabar dahulu. Perlu encik dosen tamu tegaskan bahwa encik akan menggunakan metode eklektik yang cantik untuk memaparkan kuliah kita kali ini (kalau ingin tahu arti eklektik, lihat di kamus, ya, ini juga sebagai PR).

Nah, tanpa ba-bi-bu lagi, ayo kita mulai kuliah kita dengan topik Morfologi. Ah, kalau membahas ini, encik jadi ingat waktu kuliah dulu: suasana kelas dan air muka teman-teman sekelas. Untung saja tidak mengulang.

1. Bahasa mempunyai tiga subsistem, yaitu subsistem fonologis, subsistem gramatikal, dan subsistem leksikal.

2. Subsistem gramatikal atau tata bahasa terbagi atas subsistem morfologis dan subsistem sintaksis (pernah dibahas juga di kolom ini mengenai penyebutan Sintaksis untuk tata bahasa, hanya perbedaan istilah saja).

3. Subsistem morfologis menyangkut kata, bagian kata, dan kejadian kata.

4. Morfologi adalah subsistem yang mengolah leksem menjadi kata (menurut Whorf, yang berperan sebagai masukan dalam proses morfologis adalah leksem sebagai satuan leksikal, sedangkan kata, sebagai satuan gramatikal, berperan sebagai keluaran dari proses tersebut).

5. Secara ringkas, leksem adalah satuan terkecil dalam leksikon; satuan yang berperan sebagai masukan dalam proses morfologis; bahan baku dalam proses morfologis; unsur yang diketahui keberadaannya dari bentuk pascapemilahan bentuk kompleks; merupakan bentuk dasar yang lepas dari proses morfologis; bentuk yang tidak tergolong proleksem (se-, aneka-, panca, multi) atau partikel (pada, karena, dong, wah, agak).

6. Nah, hasil dari proses morfologis, yaitu kata, merupakan suatu kesatuan yang dapat dikaji lebih jauh ke bentuk komponen yang disebut morfem.

7. Ada banyak proses morfologis yang bisa dipelajari, yaitu (1) derivasi nol (dalam proses ini, leksem tunggal menjadi kata tunggal tanpa perubahan apa-apa); (2) afiksasi (leksem berubah menjadi kata kompleks lewat proses pengimbuhan, misalnya kata pelajar, mengajar); (3) reduplikasi (leksem menjadi kata kompleks dengan proses pengulangan, misalnya paru-paru, mondar-mandir); (4) abreviasi/pemendekan (leksem atau gabungan leksem menjadi kata kompleks atau akronim dengan proses pemendekan, misalnya ABRI, rudal - perlu diingat bahwa singkatan atau akronim secara gramatikal sudah berstatus kata); (5) komposisi (proses penggabungan dua leksem atau lebih untuk membentuk kata, misalnya buta warna, kereta api); (6) derivasi balik (hampir sama dengan afiksasi, namun di sini bahasawan membentuk kata berdasarkan pola-pola yang ada tanpa mengenal unsur-unsurnya, misalnya mungkir-pungkir [pungkir sebenarnya tidak ada, namun kata mungkir berasal dari kata Arab]).

Dimengerti? Baiklah, kita akhiri dulu kuliah kita. Ketika menuliskan kuliah ini, encik dosen tamu hampir-hampir merasa mengkhianati tajuk kuliahnya. Akh, lain kali…

Baca: Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar