Nama Jadi Kata

24 Mei, 2009 | Edisi: | Kategori: Asal-Usul Kata

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

Dari sebuah film berjudul 2012 - The Future of Mankind, sebuah rekaman ceramah tentang masa depan manusia, ada sebuah nukilan menarik dari Alan Watts (penyair Amerika tahun 1950-an yang termasuk dalam sekumpulan sastrawan yang disebut Generasi Beat) yang, setelah LIDAHIBU indonesiakan, berbunyi, “Kita jarang menyadari, misalnya, bahwa pemikiran dan emosi paling pribadi kita sesungguhnya bukanlah milik kita. Karena kita berpikir dalam bahasa dan citra yang tidak kita temukan sendiri, tapi yang diberikan oleh masyarakat pada kita.”          Lalu, sang penceramah melontarkan tafsirnya atas kalimat-kalimat ini dengan pernyataan, “Alan Watts benar adanya. Lihatlah, nama Anda pinjaman, agama Anda pinjaman, pakaian Anda pinjaman, nalar Anda pinjaman…”

Dari pernyataan yang terakhir itu, ada satu kata yang menarik perhatian LIDAHIBU: nama. Pernyataan ini mungkin terlihat sangat pukul-rata. Namun, mengingat lingkup waktu yang menjadi konteks wicaranya, boleh jadi ini adalah sebuah pernyataan yang wajar. Simak cerita ini, yang diunduh dari independent.co.uk: di daerah Britania Raya, tepatnya di Glastonbury, ada seorang remaja yang bernama Captain Fantastic Faster Than Superman Spiderman Batman Wolverine Hulk And The Flash Combined. Wow! Dia melanggar hak cipta tidak, ya?

Atau, tekuni juga kisah seorang pemuda berdarah India yang tertekan karena nama belakang Nikolai Gogol ‘dipinjam’ oleh ayahnya untuk menjadi namanya dalam novel Namesake karya Jhumpa Lahiri. Tentunya ada banyak sekali kasus lain. Coba periksa nama atau kata yang membentuk nama Anda dalam buku telepon. Ada puluhan, atau bahkan ratusan, nama yang sama dengan milik Anda. Nah, lalu bagaimana dengan peristiwa ‘nama-jadi-kata’, alih-alih ‘kata-jadi-nama’? Bisa kita ingat, khususnya dalam ilmu-ilmu alam (Biologi, Kimia, Fisika, Teknik, dan gabungannya), banyak peneliti/penemu yang menggunakan namanya untuk menamai anggitan temuan mereka. Sebutlah, watt, tesla, dan sebagainya. Namun, kata-kata ini hanya menjadi jargon dalam lingkup sempit tertentu saja, tidak digunakan dalam ruang yang lebih umum, atau lebih kerap digunakan dalam percakapan biasa.

Untuk itu, pada rubrik Asal-Usul Kata di edisi #2 kali ini, LIDAHIBU memaparkan tiga kata, yang sudah jadi lema (entri kamus), yang berasal dari nama seseorang. Berikut ketiganya LIDAHIBU kenalkan pada pembaca:

1. sa.dis.me n 1. kekejaman; kebuasan; keganasan; kekasaran; 2. Psi kepuasan seksual yang diperoleh dengan menyakiti orang lain secara jasmani atau rohani

[Lema ini diambil dari Comte D. A. F. de Sade, seorang penulis berkebangsaan Prancis yang hidup di abad 18-an (1740-1814). Makna lema sadisme (khusus dalam lingkup ilmu Psikologi) yang kita ketahui sekarang kental sekali terasa dalam tulisan-tulisan, dan bahkan gaya hidupnya.]

2. ma.so.khis.me n kekejaman atau kekerasan yang memberikan kepuasan seksual pada yang menerimanya (bentuk kelainan seksual)

[Lema ini diambil dari nama Leopold von Sacher-Masoch (1836-1895), seorang penulis novel berkebangsaan Austria. Makna lema masokhisme yang kita ketahui sekarang digambarkan oleh Masoch dalam karya-tulisnya.]

3. mun.syi n guru bahasa; ahli bahasa; pujangga

[Lema ini diambil dari nama Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (1796-1854), seorang sastrawan Melayu keturunan Arab yang dijuluki 'bapak sastra Melayu modern'. Ia adalah pujangga yang, pada zamannya, dijadikan sumur untuk menimba pengetahuan bahasa Melayu oleh para peneliti bahasa dari Inggris dan Belanda. Makna lema munsyi yang kita kenal sekarang dicerap dari kepakarannya dalam bahasa Melayu, yang tanpa embel-embel Linguistik teoritis seperti yang dirumuskan di Barat.]

Seperti itulah. Dari tiga lema yang LIDAHIBU paparkan di atas, ada satu kesamaan: tiga-tiganya diserap dari nama penulis, yang notabene bertungkus-lumus dengan bahasa. Menarik, bukan? Hayo, siapa yang namanya mau dijadikan kata, lalu lema?

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar