Peluncuran LIDAHIBU dan lidahibu.com
24 Mei, 2009 | | Kategori: Liputan Khusus

Suasana obrolan di acara Peluncuran LIDAHIBU dan lidahibu.com (21 April 2009). Tampak dari kiri: Putu Fajar Arcana, I Dewa Putu Wijana, Dhinar Arga Dumadi, dan Analisa Widyanigrum.
(LI, Yogyakarta) Selasa 21 April 2009, suratkabar bahasa LIDAHIBU dan situs-jejaring lidahibu.com resmi diluncurkan. Di hadapan sekitar 40 hadirin, acara demi acara disajikan. Peluncuran dimulai dengan pemutaran film Perjalanan ke Ruang Bahasa, film berdurasi 20 menit yang digarap oleh kerabat-kerja LIDAHIBU. Film ini mendapat sambutan meriah karena lawakan cerdasnya. Setidaknya ini dapat mengobati rasa kecewa hadirin karena, sebelumnya, terpaksa menunggu setengah jam lebih lama dari waktu awal pelaksanaan acara.
Seusai film diputar, dimulailah salah satu acara inti: pertunjukan obrolan! Empat pengobrol yang diundang LIDAHIBU hadir semua. Prof. I Dewa Putu Wijana, Putu Fajar Arcana, Analisa Widyaningrum, dan Dhinar Arga Dumadi tampil ke panggung obrolan. Sesi ini dipandu oleh seorang moderator, Prita. Obrolan pun mengalir.
Pak Putu, begitu beliau biasa dipanggil oleh para mahasiswanya, menghentak laju obrolan dengan menyatakan berbagai tanggapan kritisnya atas penyelenggaraan acara, “Saya sering diundang untuk berbicara di berbagai forum yang penyelenggaranya tidak betul-betul mengetahui apa yang hendak dibicarakan,” begitu ia membuka obrolan.
Beliau melanjutkan komentarnya tentang serba-serbi LIDAHIBU, yang disebutnya ‘koran mahasiswa’. Beliau menyoroti berbagai ‘keganjilan’ yang ditemukannya: mulai dari keanehan nama LIDAHIBU sampai cara penggunaan bahasa pengantar, yang dianggapnya tidak mewakili tabiat-tutur kaum cendikiawan. Sementara itu, menjawab pertanyaan seputar gejala penggunaan Bahasa Indonesia di masa kini, beliau menanggapi hal itu sebagai sebuah fenomena linguistik yang wajar. “Hal itu biasa terjadi. Apalagi, bahasa dan masyarakat Indonesia bukanlah bahasa dan masyarakat yang tertutup,” tandasnya.
Di lain pihak, Mas Can (panggilan akrab Putu Fajar Arcana) mencoba mengungkapkan bahwa penggunaan Bahasa Indonesia akhir-akhir ini justru mirip sebuah serbuan membabi-buta. Mas Can tampil dengan foto-foto baliho dan spanduk (khususnya di masa kampanye Pemilu barusan) yang dianggapnya telah menggerus habis-habisan makna kata. “Kalimat ‘Mohon maaf lahir dan batin’, misalnya. Bagi saya kalimat ini memiliki makna religius. Namun, karena dipakai tidak pada tempatnya, maknanya jadi terkikis.”
Beliau juga menyatakan bahwa media massa merupakan suatu entitas yang luas, tidak hanya suratkabar atau televisi saja. Baliho dan spanduk pun merupakan media massa. Maka itu, bahasa yang tampil di baliho dan spanduk dapat dianggap sebagai bahasa media massa.
Analisa Widyaningrum memulai pembicaraan dengan menyoroti penggunaan yang proporsional dan kontekstual antara bahasa daerah, Bahasa Indonesia, dan bahasa asing. Duta Bahasa Nasional yang juga mahasiswi Psikologi UGM ini merasa prihatin dengan orang-orang muda yang gemar sekali mencampur-adukkan bahasa. Ia menuturkan bahwa memang ada kalanya bahasa asing ‘terpaksa’ dipakai saat berbicara, contohnya, pada saat berbicara di lingkungan akademis, dimana ada banyak istilah-istilah asing yang memang sukar dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia. “Begitupun,” lanjutnya, “pemakaian bahasa asing tetap harus pada tempatnya.”
Dhinar Arga Dumadi punya pandangan yang setali tiga uang dengan rekannya, Analisa. Ia menambahkan bahwa penggunaan bahasa asing bukan hanya harus dilakukan pada tempatnya, tapi juga pada kaidahnya. Dhinar memberi beberapa contoh kesalahan penggunaan bahasa asing, “Di televisi kita sering mendengar kalimat seperti, ‘[d]ia telah lama bergelut di dunia entertain.’ Ini kan salah. Seharusnya kalimat itu berbunyi, ‘[d]ia telah lama bergelut di dunia entertainer,” tukasnya.
LIDAHIBU sebenarnya juga sempat mengernyitkan dahi sewaktu mendengar contoh yang diberikan Mas Dhinar ini. Bukankah seharusnya ‘dunia entertainment’, batin LIDAHIBU.
Ada juga kejadian unik pada saat obrolan berlangsung. LIDAHIBU perhatikan beberapa pengobrol sempat selip-lidah, mencampur Bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Mbak Analisa sempat terpeleset dan mengucapkan kata bold, walau kemudian dengan sigap memperbaikinya. Mas Can juga demikian. Beliau sempat kebingungan untuk menemukan padanan segment, dan menanyakannya kepada Pak Putu, yang dengan cepat langsung menawarkan kata pangsa sebagai padanannya. Wah, sepertinya serangan bahasa Inggris sudah hampir- hampir mendarah dan mendaging.
Dengan konteks gejala mutakhir pemakaian Bahasa Indonesia di kalangan penuturnya, saat ditanya perihal seberapa penad (padanan: relevan) kemunculan sebuah suratkabar bahasa seperti LIDAHIBU, keempat pengobrol sepakat bahwa hal itu sangat relevan.
Pak Putu, yang masih keukeh dengan pemahamannya bahwa suratkabar LIDAHIBU adalah suratkabar mahasiswa, menambahkan bahwa hal semacam ini sangat bagus untuk sarana latihan menulis dan menggunakan Bahasa Indonesia dengan cendikia dan berwibawa. Sementara itu, Mas Can malah berharap bahwa suatu saat nanti LIDAHIBU dapat bertumbuh-kembang dan menjadi mediamassa bahasa yang besar.
Setelah sesi obrolan selesai, acara dilanjutkan dengan sesi perkenalan dan peluncuran LIDAHIBU dan lidahibu.com. Wahyu Adi Putra Ginting, redaktur umum LIDAHIBU, maju ke depan untuk memperkenalkan LIDAHIBU luar-dalam kepada hadirin, agar setiap nalar yang dipadu oleh para kerabat-kerja ketika merumuskan anggitan (padanan: konsep) suratkabar bahasa ini dapat dipahami dengan tepat oleh para pembacanya.
Setelah acara peluncuran usai, dan ketika panitia pelaksanaan acara sedang beres-beres, LIDAHIBU sempat mewawancarai beberapa hadirin yang masih bertahan di gedung Multiculture Campus Realino. Banyak komentar dan masukan kritis yang LIDAHIBU tangkap dari mereka, kebanyakan tentang penyelenggaraan acara. Salah satu dari yang paling mengena adalah komentar dari Galang, yang mengkritik laju alur obrolan, “Tidak ada diskusi tadi di sana. Yang ada hanya pamer fenomena,” tandasnya.
Ada juga yang mengomentari susunan acara. Sumber yang tak mau namanya disebutkan ini berpendapat, “Sebaiknya sesi perkenalan dan peluncuran LIDAHIBU dan lidahibu.com ditaruh sebelum sesi obrolan. Ini kan sebuah acara peluncuran, tapi mengapa sepertinya yang lebih diutamakan itu sesi obrolannya? Sesi perkenalan tadi juga hanya jadi seperti sebuah pembelaan atas kritik yang dilontarkan Pak Putu.”
Begitulah acara peluncuran LIDAHIBU dan lidahibu.com, tentu tak luput dari kekurangan. Di atas segalanya, LIDAHIBU sangat berterima-kasih atas semua kritik dan dukungan yang telah diberikan oleh para pembaca selama ini. LIDAHIBU tidak akan pernah terlepas dari pembaca, salah satu dari sedikit alasan mengapa LIDAHIBU masih tetap ada.
LIDAHIBU meluncur? Yuuuk…
