SBY Meng-Kompas

28 Juni, 2009 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

Bingung atau Mahfum atau Maklum?

Bingung atau Mahfum atau Maklum?

Oleh Gideon Widyatmoko

Mustafa (lihat LI ed. #1, Istilah-Istilah Gaul - red), yang akhirnya mengaku menyesal telah menggunakan uangnya untuk membeli televisi, berkunjung ke markas LIDAHIBU dan menceritakan niatnya berlangganan suratkabar. Wah, LIDAHIBU kontan saja girang bukan kepalang. Sebenarnya, LIDAHIBU juga bingung kenapa harus merasa girang, tapi agar sesuai dengan komitmen menjadi suratkabar yang menghibur, maka LIDAHIBU memang harus girang.

Tetapi, Mustafa ini juga ternyata masih bingung memilih surat kabar apa yang layak dibaca dan dapat dipercaya; terlebih, sebentar lagi Indonesia akan mengadakan Pemilihan Presiden (Pilpres), jadi dia ingin juga mengenal calon presiden Indonesia periode tahun 2009-2014. Menurut Mustafa, suratkabar meliput berita PEMILU dan Pilpres dengan lebih mendalam, acap, dan bersih dari bias dan purbasangka.

Sebelum Mustafa menentukan pilihan suratkabarnya, ia hendak melihat contoh dari surat kabar yang ada di markas LIDAHIBU. Kebetulan juga, LIDAHIBU, pada hari Sabtu, 16 Mei 2009, membeli suratkabar Kompas. Maka, LIDAHIBU berikan pada Mustafa, agar sekiranya dapat menjadi acuan yang membantunya dalam menentukan pilihan suratkabarnya.

Mustafa menyambutnya, dan berdecak kagum melihat surat kabar itu. Tajuk utama Kompas Sabtu, 16 Mei 2009 adalah “Mega-Bowo Siap Bertarung”. Tetapi Mustafa malah heran, “Kok judulnya Mega-Bowo tapi foto yang dipasang di bawahnya foto SBY sedang pidato?”

Rupanya, foto warna-penuh yang terpampang di halaman depan adalah foto Presiden petahana kita, Susilo Bambang Yudhoyono, yang juga mencalonkan diri lagi menjadi presiden RI untuk lima tahun ke depan. Keterangan di bawah foto itu adalah “Calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan sambutan pada acara deklarasi pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono di Gedung Sasana Budaya Ganesha, ITB, Bandung, Jumat (15/5).” Memang, dalam foto itu, sosok SBY tampak kecil, di pojok kanan foto pula. Hanya saja, yang tampak besar dan digdaya adalah logo “SBY Presidenku 2009-2014″. Weleh-weleh, ada apa ini? Bagaimana mungkin tajuk dan gambarnya tidak sebangun?

Mustafa mencoba terus membaca berita utama itu, dan memang tulisan itu adalah liputan tentang persiapan pasangan Capres-Cawapres Megawati Sukarnoputri-Prabowo Subianto, dalam menghadapi para pasangan pesaingnya.

Karena berita utama itu terpotong dan dilanjutkan ke halaman 15 kolom 1-4, Mustafa segera mencari halaman lanjutan tersebut. Ah, Mustafa lega, karena ada juga foto Megawati-Prabowo di halaman itu, walaupun hitam-putih. Lah, hitam-putih? Iya, hitam putih.

“Astaganaga,” ujar Mustafa. Foto hitam-putih itu foto Megawati dan Prabowo sedang melambaikan tangan, mungkin pada para pewarta. Ada keterangan di samping foto itu, “Deklarasi capres dan cawapres Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto berlangsung di kediaman Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Jakarta, Jumat (15/5) malam. Hadir para petinggi dan kader dari kedua partai, PDI-P dan Gerindra.”. “Sudah fotonya ada di halaman belakang, hitam putih, lebih kecil pula ukurannya,” lanjut Mustafa.
Yang lebih parah lagi dari peletakan foto Megawati-Prabowo, adalah bahwa foto tersebut ada bersebelahan dengan halaman berita duka cita. Foto berita duka cita itu jauh lebih besar daripada foto Mega-Bowo, ditambah pula aksen daun dan bingkai yang mengelilinginya. Berita duka cita itu terdiri dari dua kolom: sebelah kiri memakai tulisan Rest in Peace, sementara yang kanan memakai tulisan “Turut Berduka Cita”. Ada apa ini sebenarnya? Ah, Mustafa tidak ingin berprasangka buruk: dia tidak akan memiliki pikiran bahwa Kompas juga akan memasang foto Megawati bersebelahan dengan Prabowo di halaman duka cita. Tidak mungkin Kompas bermaksud seperti itu.

Mustafa pasti hanya salah membaca tanda. Mustafa pernah membaca buku tentang Semiotika. Buku itu membahas tentang tanda yang ada di sekitar kita; tentang cara dan teori bagaimana kita dapat memahami tanda-tanda: tanda di dalam budaya, tanda dalam gaya hidup, tanda dalam media massa, dan tanda dalam dalam yang lainnya. Mustafa ingin membeberkan teori-teori itu, tetapi, sayang sekali, Mustafa sudah lupa. Maklum, Mustafa memang lebih pandai membaca buku komik daripada buku yang isinya hanya tulisan melulu. (Iih, pikir LIDAHIBU, padahal kan komik juga tentang tanda-tanda?)

Tak ingin larut dalam kemiskinan teori semiotikanya, Mustafa melanjutkan melihat-lihat harian Kompas. Tetapi, dia tetap tidak bisa melupakan apa yang telah-dia jumpai di halaman depan. Ada apa sebenarnya dengan harian Kompas (sepertinya SBY kok menjadi istimewa sekali)?. Ya, wajarlah kalau istimewa, SBY kan Presiden Republik Indonesia - jadi harus tetap diutamakan. Iya juga sih, tapi kapasitas SBY di berita Kompas kan bukan sebagai Presiden Republik Indonesia, melainkan sebagai calon presiden RI 2009-2014. Mustafa hanya bisa menganggap bahwa Kompas sangat berpihak pada SBY, sebagai calon terkuat sampai saat ini. Ah, tetapi apa mungkin begitu? Bukankah media massa seharusnya bersikap netral terhadap sesuatu?

Dalam kebingungannya, Mustafa punya mata terpikat pada selembar koran yang tergeletak. Lembaran itu hanya secarik, mungkin terpisah dari kumpulan lembaran lainnya. Lembaran itu dari Kompas edisi Selasa, 19 Mei 2009. Ingin sedikit mengalihkan perhatian dari tajuk Mega-Bowo, Mustafa iseng-iseng membaca kolom ‘Kata Kita’, kolom yang berisi komentar para pembaca Kompas untuk menanggapi PEMILU 2009 melalui pesan singkat. Yang paling menarik dari komentar-komentar pembaca adalah milik Ferry, dari Banyumas, dengan nomor telepon 085647757xxx. Komentarnya berbunyi seperti ini, “Aku tutup buku ama Kompas. Udah enggak independen. Terlalu memihak SBY. Bye Kompas!”

Astaganaga, apakah memang benar Kompas memihak pada SBY? Sampai-sampaisalah satu pembaca Kompas saja berpikir seperti itu. Artinya, tanda-tanda kepemihakan Kompas pada SBY memang sudah terjadi sejak edisi lampau. Terlihat dari bahasa mas Ferry yang tampak emosional. Soalnya bahasanya campur aduk begitu. Awalnya sudah tampak sangat serius, menggunakan kata tutup buku untuk mengatakan bahwa ‘dia berhenti berlangganan Kompas’. Lalu, langsung saja dia gunakan bahasa percakapan. Menggunakan kata ama sebagai pengganti sama. Sepertinya Kompas langsung dijatuhkan. Lalu, penutupnya menggunakan bahasa Inggris: Bye Kompas! Pakai tanda seru pula. Penutupnya itu terlihat sangat santai, malah menunjukkan sikap Ferry yang tidak memerlukan Kompas. Ternyata yang terjadi di surat kabar justru lebih parah daripada yang terjadi di televisi.

LIDAHIBU hanya mampu melongo dan sesekali tersenyum getir melihat Mustafa memasang raut kebingungan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang pasti tidak gatal. Sesekali Mustafa berbicara sendiri tentang kebimbangannya melihat gejala ini. Dalam suasana yang canggung di Markas LIDAHIBU saat itu, salah satu anaknongkrong LIDAHIBU datang dengan santainya dan melihat Kompas yang sedang dipegang oleh Mustafa. Setelah melihat sekilas dia langsung berteriak, “Whoi, ada profil capres dan cawapres Pemilu 2009!” sambil menunjuk ke arah tajuk utama. Mustafa, yang dari tadi hanya terfokus pada foto SBY, langsung juga membacanya.

Nah, inilah profil singkat para capres dan cawapres: isinya ada nama, partai politik (parpol) pendukung, persentase suara, persentase kursi, tempat dan tanggal lahir, pendidikan, jabatan di pemerintahan, dan jabatan di parpol. “Wuih, walaupun ini biodata singkat, tetapi cukup lengkap juga,” ujar Mustafa. Mustafa, karena tidak mengerti perihal persentase kursi dan suara, hanya melihat nama dan pendidikan saja. Yah, menurut Mustafa, mayoritas masyarakat Indonesia masih menganggap pendidikan menjadi tolak-ukur untuk menilai seseorang. Jadi, dia merasa hal ini pasti sangat berpengaruh dalam hasil akhir nanti.

Mustfa melanjutkan membaca, Jusuf Kalla, memperoleh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanudin, Makasar (1967). Yah, bolehlah. Lalu Wiranto, pasangan Jusuf Kalla, pendidikannya Perguruan Tinggi Hukum Militer (1996). Cukup tinggi kok, namanya juga perguruan tinggi. Beralih ke berikutnya pasangan SBY dan Boediono. SBY, pendidikan Program Doktoral Institut Pertanian Bogor (2004). Wow, doktoral(!), di sekolah yang cukup bergengsi pula. Ck-ck-ck-ck, hebat sekali. Pasti banyak yang suka dengan orang ini. Kemudian Boediono, pasangan SBY, pendidikan Doctor of Philosophy, Business Economics, Wharton school, University of Pennsylvania (1979). Khusus untuk pendidikan Boediono, Mustafa sedikit kesusahan membacanya. Tapi Mustfa tetap kagum. Soalnya, menyebutnya saja susah - pasti Boediono ini juga orang yang berpendidikan tinggi. Lanjut lagi, di kolom terakhir, pasangan Megawati-Prabowo. (Uh, lagi-lagi terakhir.) Megawati, pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, tidak selesai (1972). Waduh, kok ditulis ‘tidak selesai’ begini, yak? Pasti banyak deh yang akan meragukan kualitas beliau. Lalu, bagaimana dengan pasangannya, Prabowo? Prabowo, pendidikan AKABRI (1974). Wah, cuma akademi? Ya, walaupun akademi, tapi ini akademi militer: pasti juga cukup sulit untuk menyelesaikannya.

Ada yang aneh juga di sini, Mustafa ingat sewaktu PEMILU 2004 silam banyak demonstran yang menolak calon presiden yang berasal dari kalangan militer. Waktu itu tentu saja yang kena SBY, karena SBY sebelum mendapatkan gelar doktor, beliau juga sempat sekolah di AKABRI, bahkan beliau juga menjadi lulusan terbaik tahun 1978. Sulit juga ternyata menghadapi hidup ini, menjadi lulusan terbaik didemo, tidak lulus dinomer duakan. Mana yang sebaiknya kita pilih. Nah, lalu kenapa Kompas tidak mencantumkan juga pendidikan semasa SBY di AKABRI?

Mungkin juga Kompas (SBY?) cemas: kalau pendidikan militer terangkat lagi, nanti banyak yang bersikap menolak SBY karena beliau dari militer. Oleh karena itu, Kompas tidak mencantumkan pendidikan militer SBY.
Ada lagi yang tidak begitu jelas: apakah pendidikan yang tercantum itu pendidikan terakhir, pendidikan tertinggi, pendidikan yang dianggap paling yahud, atau pendidikan apa? Kan, kasihan banget Bu Mega. Kalau yang dimaksud adalah pendidikan terakhir, seharusnya Kompas tidak bisa menulis, ‘Fakultas Psikologi tidak selesai’. Seharusnya, ya, pendidikan sebelum itu: mungkin SMA. Lah, tapi kalau SMA, mau jadi presiden ya — bagaimana ceritanya? Pusing! Ternyata inilah pentingnya pendidikan tinggi.

***

Ah, Kompas ternyata cukup membuat pusing Mustafa. Menurutnya, Kompas terlalu berpihak pada SBY. Tapi boleh juga-lah SBY: beliau kan juga sempat membuat logo seperti punyanya Barrack Obama, tuh. Logonya bulat dengan latar berwarna putih, lalu ada tulisan besar-besar ‘SBY’ berwarna biru; di bawahnya tulisan ‘PRESIDENKU’ berwarna putih dengan latar-garis biru; lalu dibawahnya lagi ada tulisan biru ‘2009-2014′. Di atas gambar SBY ada gambar bendera merah-putih sedang berkibar. Wuih-wuih-wuih, comel sangat logonya. Tidak jauh berbeda dengan milik Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama. Logo milik Barrack Obama berwarna merah, putih, dan biru - juga berbentuk bulat. Mungkin, kalau Obama mengambil warna logonya dari unsur warna bendera Amerika Serikat, yang juga merah, putih, dan biru, nah, kalau warna biru di logo SBY dari unsur warna apa? Kan, warna bendera kita cuma merah dan putih saja? Ah, mungkin karena warna biru dianggap cocok bila dipadukan merah dan putih. Mungkin juga supaya memiliki kerabat dengan Barrack Obama: Barrack Obama pernah sekolah di Jakarta, kan? Semua itu mungkin.

Tetapi, pendapat Mustafa yang paling masuk akal adalah bahwa warna biru itu melambangkan laut. Indonesia kan negara maritim, jadi banyak lautnya juga. Nah, arti dari warna logo SBY mungkin bahwa negara Indonesia adalah negara kelautan, negara- bahari. Ha, betul bukan? Ah, entahlah. Yang jelas Mustafa berharap SBY membagi-bagikan pin logonya untuk warga Indonesia semasa kampanye (kan imut tuh kalau dipasang di tas atau di baju).
Mustafa lelah dengan Kompas karena membacanya memang cukup melelahkan, padahal baru membaca berita utamanya saja.

LIDAHIBU berpikir bahwa mungkin Mustafa jera dengan Kompas. Tetapi, ternyata sebaliknya: Mustafa justru semakin mantap untuk berlangganan Kompas. Karena Kompas telah membuat Mustafa berpikir dengan lumayan runyam. Menurut dia, media massa memang seharusnya membuat pembacanya berpikir dan memberikan pengaruh yang cukup besar untuk pembacanya. Nah, pengaruh yang didapatkan oleh Mustafa setelah membaca Kompas adalah bahwa dia akan memilih SBY sebagai presiden RI 2009-2014. He-he-he, soalnya Kompas mencitrakan SBY dengan sangat baik, sih. Makanya Mustafa semangat mendukung SBY, seperti kedua orangtua Mustafa yang juga mendukung SBY. Nah loh, ternyata kedua orangtua Mustafa sudah sejak lama mengajak Mustafa untuk mendukung SBY, tetapi, saat itu, Mustafa tidak ingin memilih calon presiden mana pun karena, menurutnya, tidak ada yang pas. Namun, karena Mustafa sudah membaca Kompas, ia kini menjadi warga negara yang baik, yang mau ikut Pilpres. ‘Terima kasih’ Kompas.

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

2 komentar
Berikan komentar »

  1. aku rasa, kalau tidak ada tanda petik di kata-kata ‘terima kasih’, aku akan berpikir mas Mustafa telah memberikan pemakluman atas keberpihakan media.
    Terima kasih untuk tanda petiknya..

    Laura did not rate this post.
  2. Anda jeli juga, sobat Laura. Memang redaksi mendapatkan beberapa kritik atas artikel yang satu ini: salah satunya adalah bahwa artikel ini justru secara gratis ikut mengiklankan SBY (padahal niatnya adalah mengkritik pencitraan SBY di KOMPAS). Gaya bahasa artikel ini memang dibiarkan oleh penyunting tampil apa adanya: wajah sinis yang dibalut dengan cadar. Gaya bahasanya memang seakan-akan memberi persetujuan atas pencitraan SBY, padahal ada petunjuk-petunjuk tertentu, yang akan terasa jika dengan lebih perlahan diperhatikan, yang sesungguhnya sangat gamblang melontarkan kritik. Narasi yang dipakai adalah narasi seorang ‘korban’ pencitraan, yang dihadirkan lewat sudut pandang orang ketiga. Ini saja sebenarnya sudah mencurigakan. Apakah benar narasi yang dijejerkan itu merupakan isi kepala dari tokoh Mustafa? He-he-he… Belum tentu, bukan? Maka itu narasi yang samar-tapi-jelas ini harus ‘dicurigai’ kesamarannya yang jelas itu. Weleh… Mantap! Kita tunggu komentar dari pengunjung lainnya.

    Redaksi

    Lidahibu did not rate this post.

Berikan Komentar