Bahasa (Anak Muda) Indonesia

29 Juni, 2009 | Edisi: | Kategori: Tajuk Rencana

Oleh Redaksi

Bahasa tak pernah lepas dari penutur: sepertinya ini bisa jadi amsal. Bahasa seperti air, ia dapat dibentuk sesuai bejana yang diisinya. Kalau perumpamaan ini dipakai, maka bahasa adalah sesuatu yang ‘pasif’ dan ‘manut’ secara ‘luwes’ pada penutur, sang bejana. Maka, bahasa, sampai pada titik tertentu, adalah sesuatu yang ‘tak berdosa’. Bukan berusaha untuk mencari siapa yang ’salah’ siapa yang ‘benar’, tapi, bukankah penutur yang membentuk bahasa dengan ’segala-suka’?

Mari melompat!

Mediamassa, sebagai wahana dan perangkat penyebarluasan sesuatu, dapat pula digunakan untuk menyebarluaskan gaya alias tabiat tutur tertentu. Dari rekayasa sampai yang murni idiosintratik! Ini wajar. Tapi, boleh jadi bahaya ketika gaya alias tabiat tutur itu menjadi sebuah kebenaran tunggal yang diamini oleh masyarakat penutur, yang terbuai dengan pesona dan citra mediamassa yang memuat gaya alias tabiat tutur itu.

Lalu, apa maksud judul Tajuk Rencana ini: Bahasa (Anak Muda) Indonesia? Tak lain tak bukan, tulisan ini hendak mencelikkan mata-sadar penutur bahasa Indonesia tentang cenderung terjadinya sebuah usaha untuk ‘menyeragamkan(?)’ gaya alias tabiat tutur bahasa (anak muda) Indonesia lewat mediamassa.

Tak pelak, meski tak mutlak, yang namanya Jakarta telah menjadi lokomotif pembentuk beragam makna bagi Indonesia, tak terkecuali gaya alias tabiat tutur berbahasa. Apa yang diluncurkan dari Jakarta, dengan infrastruktur penyebarluasan yang cukup memadai, akan segera menyeruak bak semut-semut hendak migrasi dan hinggap di benak para pirsawan yang menonton penyebarluasan itu.

Dalam lingkup gaya alias tabiat tutur, KOMPAS, lewat ruang ‘Moeda’-nya yang terbit satu kali satu minggu, telah membentuk pendapat publik tentang gaya bahasa (anak muda) Indonesia. Gaya bahasa yang piuh merajut campur-aduk kosakata Indonesia-Inggris, dari kosakata dasar sampai infleksinya, tampak mendominasi lagak-ucap penyampaian liputan. Lucunya, acapkali pembaca akan bertemu dengan gaya bahasa yang aneh bin ajaib. Contoh, ‘magangers’ dan ‘moedaers’, untuk menyebut ‘orang yang magang’ dan ‘pembaca halaman Moeda’. Apa maksudnya ini?

Memang benar, setiap kalangan punya lagak-cakapnya sendiri. Tapi, akan jadi menyalah kalau tak sadar (atau malah sadar?!) bahwa konteks media penyampaian, yang sudah terlanjur berCITRA, dapat membentuk pendapat massal, yang ujungnya cenderung mempromosikan kebenaran tunggal.

Bukan tidak mungkin, dengan gaya bahasa ‘aneh bin ajaib’ yang dipakai oleh ‘halaman Moeda KOMPAS’ sebagai gaya bahasa pengantarnya, akan diamini secara komplit sebagai gaya bahasa anak muda Indonesia! Ini kan sama saja seperti iklan air mineral?! Coba bayangkan: apa jadinya kalau nanti terbentuk penilaian sempit di benak orang-orang Indonesia bahwa air yang sehat itu ya CUMA air mineral?! Kan gawat!?

Satu hal lagi yang membingungkan adalah perihal ’siapa sebenarnya target pembaca halaman Moeda KOMPAS itu? Anak muda Indonesia yang mana?

Rasa-rasanya kok percuma, ya, ada KOLOM BAHASA di KOMPAS? Atau, mungkin, KOLOM BAHASA macam itu memang ditujukan untuk kalangan ‘munsyi’ dan ‘linguis’ saja? Anak muda tidak?!

  • Share/Save/Bookmark
(1 votes, average: 3,00 out of 5)
Loading ... Loading ...

3 komentar
Berikan komentar »

  1. Aku jadi teringat jaringan agama tertentu ketika membaca tajuk rencana lidahibu.com ini. maksudnya, terigat akan jalur keseragaman yang dicipta. keseragaman tafsir kitab, misalnya. atau ritual ibadah. bedanya, mungkin hanya pada peletakan pangsa pembaca dan universalitasnya.

    Pengsa “anak muda” yang Kompas hadirkan pasti dicipta dengan mempertimbangkan gejala berbahasa anak muda. dan mungkin redaksi halaman itu menganggap bahwa bahasa “gaul-nginggris” khas Jakarta sudah menusantara. aku pikir, Kompas, sebagai surat kabar skala nasional membutuhkan standar-standar yang berskala nusantara pula. dan gejala berbahasa seperti itulah yang dianggap standar bahasa anak muda Indonesia. Pusat adalah segalanya! dan Jakarta adalah simbol kosmopolitanisme Indonesia.

    aku teringat semasa SMA dulu ketika banyak sekali akhiran “-er” dipakai untuk menyebut “pelaku”. “magangers” dan “moedaers” adalah contoh nyata yang dipakai Kompas. aku jadi tertarik dengan kata “moedaers”. kata ini mengandung unsur ejaan lama gaya Belanda, akhiran khas bahasa Inggris, dan imbuhan jamak khas yang juga bahasa Inggris. jadi inilah gaya anak muda Indonesia ala Kompas: bernostalgia dengan ejaan lama dan mutakhir dengan globalisasi bahasa Inggris.

    Kembali ke keseragaman.
    akan lebih menarik jikalau redaksi lidah ibu membandingkan beberapa halaman yang pangsanya dikhususkan untuk anak muda. seragamkah? misalnya, apakah ada halaman “anak muda” di harian Solo Pos atau Kedaulatan Rakyat. jika ada, bagaimana bahasa “anak muda” yang disajikan? jika memang mirip-mirip, berarti kekhawatiran redaksi akan semakin menguat. jika tidak, kita akan lebih mudah bilang, “ah, itu kan ‘moedaers’ ala Kompas yang pangsanya anak muda Jakarta banget, yang berasal dari golongan kelas menengah ke atas.”

    Laura did not rate this post.
  2. saya bisa dibilang yang termasuk dalam anak muda. menurut saya itu cukup efektif kok, jadi mudah diingat. bukankah lidahibu juga menggunakan anak nogkrong sebagai pembacanya? jadi kalau moedaer dipakai kompas menurut saya itu asikasik saja, sama dengan halnya slanker untuk menyebut fans slank. atau massiver untuk menyebut fans d’masiv. walopun d’masiv juga sepertinya nama yang bermasalah.

    nah, saya sebagai anak muda merasa itu sahsah saja dan tidak ada masalah. atau jangan-jangan malah saya yang bermasalah.

    Betari ratings for this post: Betari gives a rating of 3Betari gives a rating of 3Betari gives a rating of 3Betari gives a rating of 3Betari gives a rating of 3
  3. Permasalahannya, kawan Betari, yang muncul di sana bukan hanya sekedar ‘moedaer’ atau ‘maganger’ saja. Lebih pelik dari istilah aneh itu (terutama kata ‘maganger’). Yang dititik-beratkan oleh LIDAHIBU adalah citra media KOMPAS dan kaitannya dengan penggunaan bahasa pengantar yang dipakai di situ. KOMPAS bukanlah sebuah mediamassa yang beredar sekedar di Jakarta saja, cakupan edarannya cukup luas untuk membangun opini di Nusantara. Apa jadinya kalau hanya satu kotak kecil keragaman berbahasa saja yang diangkat sebagai penanda? Kesejajaran kata ‘Moeda’ dengan bahasa pengantar di halaman itu akan menghasilkan logika makna bahwa ‘orang muda (siapa pun dimana pun) ‘baiknya’ (entah supaya dibilang gaul atau apa) berbahasa seperti itu; atau bahwa bahasa di halaman ‘Moeda’ adalah bahasa anak muda, sehingga bahasa seperti itu dijadikan bahasa pengantar di sana. Mau mengamini makna itu?

    Lidahibu did not rate this post.

Berikan Komentar