Fonologi
29 Juni, 2009 | | Kategori: KultukalSampai dimana kita?
Jangan-jangan, kita memang tidak pernah sampai ke mana-mana. Kita menikmati saja perjalanan ini tanpa harus disibukkan dengan tujuan kita. Tak usah dipersulit, anggaplah sebagai pertanyaan retorik. Ah, encik dosen jadi ingat: dosen encik dosen sering mengucapkan pertanyaan itu.
Nah, karena ini zaman telepon, handphone, kelepon, /pon/ atau /fon/ yang lain, maka tak ada salahnya kalau kali ini encik dosen tamu memberikan suatu kupasan yang membahana, yaitu Fonologi.
1. Sudah disinggung dalam KULTUKAL yang lalu (berbicara tentang Fonetik) bahwa hubungan antara Fonetik dan Fonologi sangat baik-baik saja (karena Fonetik sebagai ilmu tentang bunyi juga memberikan bantuan yang besar pada Fonologi yang meneliti dan menguraikan bunyi bahasa).
2. Singkatnya, Fonologi adalah ilmu yang mempelajari pola dan sistem bunyi dalam bahasa (kata fonologi juga punya makna dua, yaitu [a] ilmu tentang pola bunyi dalam bahasa dan [b] pola bunyi dalam bahasa tertentu).
3. Dalam subsistem fonologis yang mencakup segi-segi bahasa, Fonologi berperan untuk menjelaskan aspek fungsi bunyi bahasa dalam komunikasi (hebatnya lagi, Fonologi bisa memberikan semacam ‘ramalan’ bagi pengguna bahasa, tanya saja pada orang Inggris bahwa dengan fonologi mereka bisa ‘meramalkan’ kehadiran vokal sengau jika vokal tersebut muncul sebelum konsonan sengau [misalnya, /m/, /n/, dan /ŋ/]).
4. Jika kita serius berkenalan dengan Fonologi, mau tak mau, kita harus mau berkenalan dengan fonem (unit bunyi terkecil yang bisa membedakan makna dua kata).
5. Encik dosen tamu ingin memberikan contoh fonem dengan pasangan kata berikut:
dari bahasa Inggris pill ‘pil’ dan bill ‘tagihan’, dari bahasa Jepang biru ‘bangunan’ dan bi:ru ‘bir’ (tanda titik dua [:] pada vokal berarti vokal agak dipanjangkan dalam pengucapannya).
6. /p/ dan /b/ merupakan fonem yang berbeda karena jika saling menggantikan, maka akan muncul kata dengan makna yang berbeda, begitu juga halnya dengan fonem /i/ dan /i:/.
7. Bisa disimpulkan bahwa fonem tidak mempunyai makna walaupun kehadirannya sanggup memberikan makna yang berbeda pada kata, misalnya fonem /p/ tidak akan bermakna jika tidak digabung dengan fonem /i/ dan /l/ membentuk pill.
Sampai di mana kita?
