Ledersip

29 Juni, 2009 | Edisi: | Kategori: Sok-Sok Ingglis

Oleh Wahmuji

Tergerak oleh rasa gelisah dan bersalah karena ikut-ikutan bungkam melihat banyak sampah di sungai belakang kos, saya mengajak beberapa teman untuk mencari informasi lebih banyak mengenai persampahan di Kabupaten Sleman. Kami mendaftar lembaga pemerintahan mana saja yang berurusan dengan masalah sampah. Kami menelusuri sebagian sungai Gajah Wong untuk memetakan tempat-tempat pembuangan sampah liar. Kami mengunduh Peraturan Daerah (Perda) yang berkaitan dengan sampah dan mempelajarinya. Intinya: kami hanya ingin bergerak dari kepasifan aneh karena buta pengetahuan.

Tanggal 12 Mei 2009 lalu, kami berkunjung ke Dinas Pemukiman, Prasarana Wilayah, dan Perhubungan (Kimpraswilhub) Bidang Pertamanan, Kebersihan dan Permakaman. Kami sempat bingung: apa benar ini dinas yang mengurusi sampah? Kami memarkir motor. Sial(!), pikir kami. Tidak ada tukang parkirnya. Maklum, hanya tukang parkir yang terasa paling jujur di tengah-tengah gencetan seragam PNS - selain di semua dinas perpajakan - dan paling tahu tentang para pegawai dan kemana mereka pergi. Kami masuk untuk memastikan. Ruangan yang kami masuki tidak terlalu besar. Ada sekitar dua puluh meja dan kursi. Di atas meja terdapat banyak kertas. Banyak kursi kosong tak berpenghuni. Jika dipasang pemindai anti kebakaran, asap rokok di ruangan itu cukup untuk membuatnya lonceng peringatan berbunyi nyaring. Kami menanyakan apakah kami bisa bertemu Kepala Dinas. Pegawai setengah baya yang kami tanyai mempersilahkan kami masuk ke dalam dan naik ke lantai dua. Kami mengikuti arahannya.

Di tangga kami mendengar suara gaduh dan tawa dari lantai dua. Kami masuk ke sebuah ruangan besar lagi. Kehadiran kami langsung menarik perhatian semua penghuni ruangan besar itu. Diam sebentar. Kemudian salah satu dari kami mendekat dan bertanya apakah kami bisa bertemu Kepala Dinas. Banyak mata yang memandangi kami dengan tatapan yang belum kami mengerti. Kami dipersilahkan menuju meja Kepala Dinas yang berada di pojok. Dalam perjalanan ke pojok itu, kami mendengar seorang pegawai memberitahu pegawai lainnya bahwa kami mahasiswa. Ketika kami mulai duduk, orang-orang kembali pada kegaduhan dan tawanya. Tidak ada yang terlihat serius dengan urusan kantoran. Bahkan ada yang saling pijat. Waktu itu jam setengah sebelas pagi.

Kepala Dinas tidak ada. Keluar. Dan kami tidak mendapat informasi kemana dia pergi dan kapan kembali. Wakilnya menemui kami. Kami mulai menjabarkan maksud kami. Singkatnya, dan pada akhirnya, kami meminta rincian program terkait penanganan sampah. Si Wakil Kepala yang sedari awal sudah memasang tampang mirip pagar-penghalau-massa itu panjang-lebar menjelaskan apa yang telah dilakukan dinasnya, bagaimana mental buruk masyarakat terkait perilaku terhadap sampah, dan tentu saja, kesulitan-kesulitannya.

Di tengah-tengah tuturannya, terselip beberapa kosakata aneh yang saya pikir bukan Bahasa Indonesia. Dia mengatakan, “Pemerintah merupakan senggel fekter,” (bunyi: /seŋgәl fektәr/). Apa maksudnya? Setelah saya pikir sebentar, ternyata maksudnya single fighter /siŋgәl fai’tә׀׀-әr/. Maklum lidah Jawa. “Sedangkan di masyarakat,” sambungnya, “dibutuhkan ledersip.” (bunyi: /ledәrsip/). Apa? Ladder ship? Bukan. Maksudnya leadership (bunyi: /’li:dә ship׀׀-әr/). “Masyarakat itu butuh ledder (bunyi: /ledә׀׀-әr/) yang memberi contoh,” tandasnya. Akh, maksudnya pasti leader (bunyi: /’li:dә׀׀-әr/). Artinya ‘pemimpin’.

Kami cukup lama berbicara dengan Wakil Kepala Dinas sebelum ada ‘orang lapangan’ datang dan kami dipersilahkan berbincang-bincang dengannya. Masih ada lagi terselip bahasa Inggris yang saya sendiri sudah lupa karena terlampau bingung dengan keterangannya yang tanpa juntrungnya itu. ‘Orang lapangan’ memang berbeda. Kami lebih banyak mendapat informasi nyata daripada sekedar omongan panjang-lebar ala pegawai birokrat yang hanya membuat kepala pusing itu. Namun, tetap saja, anehnya, kami tidak diperbolehkan mengakses program-program dan pemaparan dana dari Kimpraswilhub. Baik, kalau memang anggaran dana tidak bisa keluar, kami minta rincian program yang telah, sedang, dan akan dilakukan terkait pengelolaan sampah. Tidak bisa. Baik. Kalian memang hanya bisa merangkaki ladder kekuasaan tanpa mampu berperan sebagai leader masyarakat yang baik.

Saya ingin tertawa keras-keras ketika hendak menyelesaikan tulisan ini. Ternyata tidak bisa.

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar