SBY: Yes-lah No! No-lah Yes!
29 Juni, 2009 | | Kategori: Khazanah Kata Bahasa Indonesia
Tidak pula dapat dilupakan, bahwa kepincangan bahasa yang telah umum dan berlaku hanya beberapa tahun, akan meninggalkan bekas-bekas yang dalam serta lama di kemudian hari. (Pramoedya Ananta Toer, 1954)
Haruskah kita mengorbankan bahasa nasional kita untuk turis asing dan perusahaan asing? (Harimurti Kridalaksana, 1974)
Tapi, yang karuan masih tetap merupakan masalah bahasa Indonesia sekarang, Indonesia kiwari, adalah kecenderungan yang hubaya-hubaya tidak disumpahi pemuda: satu nusa satu bangsa dua languages. (Alif Danya Munsyi, 2005).
SBY adalah pembaca buku yang kuat. Di sela-sela kesibukannya memimpin 230 juta rakyat, SBY melahap buku-buku politik, pemikiran, dan kebudayaan. Dalam sepekan, suami Ny. Ani Bambang Yudhoyono ini biasa menamatkan 2-3 buku setiap akhir pekan, baik terbitan dalam negeri maupun luar negeri. Bacaan yang luas membuat SBY kaya pengetahuan dan ‘gaul’ dengan pemikiran global. (Jurnal Nasional, 2009)
Saya sangat yakin SBY tidak membaca buku Pramoedya Ananta Toer, Harimurti Kridalaksana, dan Alif Danya Munsyi (Remy Sylado), yang ketiganya adalah orang Indonesia. Ketiga buku asal kutipan di atas terbitan dalam negeri. Saya juga yakin SBY jarang membaca buku tentang Bahasa dan Sastra Indonesia: mungkin tidak pernah. Yang terakhir, tentu saja, secara keseluruhan saya meragukan pernyataan Jurnal Nasional itu. Maka, izinkan saya tertawa keras-keras setelah membacanya.
Setelah tertawa keras-keras, saya mendaftar beberapa kata dan frasa bahasa Inggris yang digunakan oleh SBY dalam tuturannya ketika diwawancarai oleh Ramadhan Pohan dari Jurnal Nasional, 10 Februari 2009, dan juga beberapa yang dimuat di mediamassa. Namun, apa yang didaftar ini saya yakin belum ada sepersekian persen dari jumlah kata dan frasa bahasa Inggris yang digunakan SBY. Padanan kata dan frase dalam Bahasa Indonesia pun sebenarnya bukan tawaran baru, kebanyakan sudah umum diketahui masyarakat dan digunakan secara luas di seluruh Indonesia. Berikut daftar beserta padanannya, yang diurutkan berdasarkan antrian aksara.
abuse of power : penyalahgunaan wewenang
acceptance : penerimaan
break : istirahat, rehat
business cycle : perputaran/siklus bisnis
bash transfer : SBY Menggunakan frasa ini sebagai terjemahan Inggris untuk Bantuan Langsung Tunai
character assassination : pembunuhan karakter
check : periksa
check and balance : SBY menyandingkannya dengan kata pengawasan. Jadi, maksudnya mungkin checking and balancing, yang artinya ‘pemeriksaan’ dan ‘penyeimbangan’.
don’t fight the problem : jangan melawan masalah
explainable : bisa dijelaskan
fair : adil
fairness : keadilan
gap : celah, jurang pemisah, kerenggangan, kekosongan
good society : masyararakat yang baik
happy : gembira, Bahagia
human capital : modal manusia (Kalau biasanya yang kita anggap sebagai modal adalah uang, harta-benda, pendidikan, dlsb., ternyata manusia juga bisa jadi sebuah modal.)
implementation : pelaksanaan
income : pendapatan/Pemasukan
incumbent : petahana
it is okay : tidak apa-apa
leadership : kepemimpinan
leader of the opposition : pemimpin oposisi
lip service : biasanya to pay lip service yang artinya “berpura-pura saja” atau “lain di mulut lain dihati.”
miscalculate : salah perhitungan
mindset : bangunan-pikiran
no : tidak
opposition party : partai oposisi
peaceful demonstration : demonstrasi yang damai
planning : perencanaan
polling-polling : jajak pendapat-jajak pendapat
rules : aturan
rules of law : peraturan hukum
rules of the game : aturan permainan (atau aturan main)
rules based* : berdasarkan aturan
ruling party : partai yang berkuasa
shocks : guncangan-guncangan
statement : pernyataan
timing : pemilihan waktu, pengaturan tempo
top leader : pemimpin tertinggi
track record : rekam jejak
trust building : pembangunan kepercayaan
yes : ya
(*) SBY salah menggunakan istilah ini. Secara gramatikal, yang seharusnya adalah rule-based.
Saya jadi bertanya-tanya: apakah pendengar SBY tahu bahasa Inggris? Kalau begitu, orang akan lebih nyaman untuk bilang “Demokrasi, yes” dan “Anarki, no” (SBY juga) daripada mengganti yes dan no-nya dengan ya dan tidak, apalagi mempertanyakan makna demokrasi dan anarki. Maka, izinkan saya tertawa keras-keras lagi.

(Ngomong2, SBY jadi presiden lagi, lho..)
Mungkin dia beranggapan “rasa”-nya lebih kena kalo bahasa Inggris. ‘Kan gak pa2 to?
tapi faktor rasa kan juga bentukan. dan yang terbesar adalah keakraban.
yang paling parah itu kata “happy”. masak harus pakai bahasa Inggris sich?! Bahasa Indonesia kan punya setidaknya, kata “senang”, “gembira”, “bahagia”. apa ketiga kata itu tidak mampu mewakili perasaan si SBY itu? Cckk…
trimakasih, wahmuji. aku jadi tahu padanan kata-kata bahasa ingris itu. kadang aku suka keceplosan kalau ngomong nyelip-nyelip bahasa bule itu.