Gender dan Bahasa Vernakular dalam Pengajaran BIPA
14 September, 2009 | | Kategori: Liukan LidahOleh Lucia Tyagita Rani*
Setiap orang memiliki alasan yang berbeda ketika belajar bahasa lain selain bahasa pertamanya (B1). Bahasa Indonesia adalah bahasa asing yang cukup banyak dipelajari di dunia. Pemelajaran bahasa Indonesia untuk orang asing memiliki suatu sistem yang disebut BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing). BIPA mengalami perkembangan dalam hal teknik pengajaran dan penyampaian materi kepada pemelajar, mengingat pelajaran bahasa yang disampaikan adalah bahasa kedua (B2) bagi pemelajar. Sebagian besar pemelajar BIPA di Indonesia adalah pemelajar dewasa yang setidaknya sudah menguasai B1 mereka dengan fasih.
Pengajaran bahasa secara tidak langsung berhubungan dengan orientasi gender pengajar maupun pemelajar. Banyak yang menyalahartikan istilah gender. Istilah ini sering diartikan sebagai pembedaan dalam jenis kelamin. Di sisi lain, istilah gender dibedakan dengan seks (jenis kelamin). Isu gender mulai mencuat di Amerika di akhir 1960 dan awal 1970. Saat itu studi gender mulai banyak diminati dan ditelaah lebih dalam, baik dari segi penyetaraan maupun penelitian mengenai isu-isu yang terkait dengan penggunaan gender dalam bahasa.
Pada pengajaran BIPA, bahasa yang diajarkan juga memiliki variasi dari segi bentuk bahasa. Banyak di antara lembaga pengajaran BIPA yang hanya mengajarkan bahasa formal, tetapi juga banyak di antaranya yang mengajarkan bentuk-bentuk bahasa lain selain bahasa formal. Pokok bahasan dalam artikel ini adalah hubungan antara gender dengan bahasa vernakular dalam pengajaran BIPA.
Bahasa dan Gender
Terminologi gender digunakan untuk mendeskripsikan kategori sosial yang berdasarkan jenis kelamin. Tampak jelas perbedaan antara gender dengan jenis kelamin (sex) seperti apa yang diutarakan Coates : bahwa jenis kelamin mengarah ke perbedaan organ biologis seseorang sedangkan gender adalah perbedaan dalam kategori sosial (1993). Secara umum, gender dibagi menjadi dua: maskulin dan feminin. Ini berbeda dengan pengistilahan jenis kelamin: laki-laki dan perempuan. Pada awalnya perbedaan gender disamaratakan dengan perbedaan jenis kelamin, tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan mecuatnya isu gender di Amerika istilah ini tidak lagi sama.
Disadari atau tidak, gender penutur membedakan bentuk-bentuk ujaran dan pemilihan bahasa dalam komunikasi. Pada bahasa Inggris, perbedaan gender terlihat jelas dari bentuk-bentuk bahasanya. Beberapa kata di bahasa Inggris ditandai dengan sufiks untuk menunjukkan bentuk feminin (actress, stewardess). Akan tetapi Graddlol dan Swann (1989), juga Ponynton (1989), menyatakan bahwa bentuk-bentuk penambahan sufiks ini lambat laun tergerus juga.
Robin Lakoff adalah orang yang paling banyak berbicara tentang hubungan gender dengan bahasa, khususnya bahasa Inggris. Menurut Lakoff (1975) perbedaan status sosial dan gender di masyarakat (khususnya Amerika Serikat) tercermin dari adanya perbedaan dalam pemilihan bahasa. Perbedaan ini terlihat dari pola sintaksis, semantik, dan gaya bertutur. Gender feminin menggunakan bahasa standar lebih banyak daripada gender maskulin. Di lain pihak, gender maskulin menggunakan lebih banyak bahasa vernakular dibandingkan gender feminin. Akan tetapi, gender feminin menggunakan bahasa vernakular di situasi santai dan saat lawan bicaranya memiliki hubungan yang cukup dekat dengan dirinya.
Bahasa standar yang digunakan gender feminin dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, antara lain: (1) kurangnya pengakuan akan status sosial. Gender feminin menggunakan bahasa standar untuk mendapatkan pengakuan status sosial; (2) lingkungan sosial mengharapkan gender feminin berlaku lebih “baik” daripada gender maskulin. Gender feminin adalah model untuk pemelajaran bahasa pada anak-anak sehingga bahasa yang digunakan harus standar; dan (3) gender feminin sebagai kelompok bawahan (subordinate) diharuskan untuk bertutur lebih sopan. Oleh karena itu, mereka menggunakan bentuk-bentuk ujaran standar agar dapat dipandang ‘lebih’ oleh masyarakat.
Bentuk-bentuk bahasa juga berbeda jika dilihat berdasarkan perbedaan gender. Bentuk-bentuk bahasa yang diteliti oleh Lakoff (1975) adalah bentuk-bentuk bahasa bergender feminin. Ciri-ciri dari bahasa bergender feminin antara lain: (1) pembatasan leksikal (fillers): you know, sort of, dsb.; (2) pembubuhan kata tanya: dia cantik, ya kan?; (3) penaikkan intonasi pada kalimat deklaratif: Ini bagus?; (4) adanya “empty” adjektif: cute, charming, lucu, dsb.; (5) penggunaan terminologi warna yang lebih spesifik: magenta, biru laut, turqoise, dsb.; (6) penggunaan kata-kata penguatan: just, so (I like him so much.); (7) penggunaan tata bahasa yang sangat baku; (8) penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sangat santun; (9) penghindaran bentuk-bentuk tuturan untuk mengumpat; dan (10) adanya penekanan untuk menunjukkan empati.
Gender feminin menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang lebih formal dikarenakan adanya tuntutan sosial yang lebih tinggi terhadap mereka. Gender feminin menekankan bentuk bahasa yang standar dan formal karena mereka berpikir jika mereka tidak melakukan itu maka mereka tidak akan didengar. Tuntutan ini tidak terlalu dibebankan pada gender maskulin. Gender maskulin juga lebih banyak menginterupsi ujaran dibandingkan feminin. Interupsi ini dilakukan untuk “membungkam” lawan bicara. Di lain pihak, gender feminin menyediakan feedback untuk mendukung tuturan lawan bicaranya dibandingkan maskulin.
Bahasa Vernakular dan Bahasa Standar
Bahasa yang kita gunakan dalam tuturan memiliki ragam yang berbeda-beda. Ragam bahasa ini dibedakan menurut situasi dan konteks ujaran dalam komunikasi. Salah satu ragam bahasa yang dikenal adalah ragam bahasa vernakular. Menurut Holmes (2001), bahasa vernakular adalah bahasa yang tidak dikodifikasi atau jenis bahasa yang tidak standar. Bahasa vernakular juga dikatakan sebagai sebuah bahasa yang bukan merupakan bahasa resmi suatu negara dalam konteks tertentu dan merupakan jenis bahasa yang paling kolokial dalam khasanah bahasa seseorang.
Selain bahasa vernakular, masyarakat bahasa juga menggunakan ragam bahasa formal dalam komunikasi, sesuai dengan situasinya. Bahasa formal sering diidentikkan dengan bentuk bahasa standar. Masih menurut Holmes (2001), bahasa standar adalah bahasa yang sudah memunyai aturan tata bahasa atau sudah dikodifikasi (contohnya memunyai tata bahasa baku dan maktub sebagai lema kamus). Bahasa standar dinilai lebih bergengsi oleh masyarakat dan berfungsi sebagai bahasa Tinggi (T) berdampingan dengan keragaman bahasa R (Rendah). Bahasa standar memiliki tiga ciri umum: berpengaruh dalam suatu masyarakat, sudah terkodifikasi dan cukup stabil, dan berperan sebagai bahasa T. Penjabaran tentang perbedaan bahasa vernakular dan bahasa standar berkaitan dengan pengajaran bahasa dan pemilihan bahasa berdasarkan gender.
Hubungan Antara Gender dengan Bahasa Vernakular
Penggunaan ragam bahasa memiliki perbedaan berdasarkan pada perbedaan gender. Gender feminin lebih sedikit menggunakan bahasa vernakular. Biasanya mereka menggunakan bahasa vernakular di situasi santai dengan keakraban yang dekat. Hal ini dikarenakan gender feminin lebih mempertimbangkan faktor-faktor sosial yang dibebankan masyarakat pada mereka sehingga, untuk menimbulkan rasa aman, mereka menggunakan bahasa standar.
Seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya, gender maskulin memunyai kebebasan yang lebih luas daripada feminin karena tuntutan sosial mereka tidak terlalu tinggi. Oleh karena itu, dalam memilih ragam bahasa mereka lebih bebas untuk menentukan. Gender maskulin lebih banyak menggunakan bahasa vernakular untuk menunjukkan sifat ‘macho‘. Penggunaan ini berterima dalam masyarakat, baik masyarakat barat maupun timur.
Gender dan Bahasa Formal dan Informal dalam BIPA
Secara umum pemelajaran BIPA mengajarkan dua bentuk bahasa, formal dan informal, yang disesuaikan dengan kebutuhan pemelajar. Pemelajar yang berlatar belakang politik biasanya akan diajarkan bentuk bahasa formal karena ada kemungkinan besar mereka memerlukan bahasa standar untuk berkomunikasi. Hal ini terlihat pada pemelajar yang bekerja sebagai korps diplomatik. Bagi pemelajar yang memang ingin memelajari bahasa sehari-hari, bentuk-bentuk bahasa nonformal juga diajarkan selain pengajaran bahasa standar. Secara tidak langsung, bentuk bahasa informal (vernakular) biasanya dikuasai pemelajar jika ia banyak berinteraksi langsung dengan penutur asli.
Berdasarkan uraian teoretis tentang gender dan bahasa vernakular, dapat disimpulkan bahwa ada kemungkinan besar pengajar feminin akan lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk bahasa standar daripada bentuk-bentuk bahasa vernakular. Hal ini akan berbeda jika hubungan antara pengajar dengan pemelajar sudah cukup dekat maka pengajar feminin juga dapat menggunakan bentuk-bentuk bahasa vernakular. Berikut adalah contoh-contoh ujaran pengajar di kelas BIPA berdasarkan gender.
Maskulin
- Mas Hasan sukanya olah raga apa?
- Biar lebih adil kita acak.
- Orang pertama nyebur, terus?
- Jadi, si Clement ini disuruh mundur.
- Di paragraf kedua apa lagi nih masalahnya?
- Saya kasih waktu 5 menit!
- Mau bicara duluan?
- Udah dapet semua?
Feminin
- Mereka tidak bilang seperti itu.
- Sebentar, Anda akan bicara sesudah mas Taceddin.
- Silakan mas Ali.
- Apa sih mensusah?
- Apakah makna selatan Jakarta dengan Jakarta selatan berbeda?
- Aduh, itu bagus sekali mas Erdam.
- Ada lagi yang mau coba menjawab? Pak Bedir?
- Nanti di Ragunan kita akan lihat hewan-hewan yang lucu. Ya, gitu, deh.
Berdasarkan contoh yang diberikan terlihat bahwa pemerolehan atau pemelajaran bahasa vernakular di kelas BIPA lebih diakomodasi oleh pengajar maskulin. Pengajar feminin lebih banyak menggunakan bahasa standar untuk meminimalkan kesalahpahaman yang mungkin diterima pemelajar. Bahasa vernakular digunakan pengajar feminin untuk menunjukkan hubungan yang cukup erat dengan pemelajar. Bahasa vernakular yang digunakan adalah yang sebelumnya diproduksi oleh pemelajar.
Implikasi dalam Perumusan Materi dan Metode Pengajaran BIPA
Pada pengajaran BIPA, materi yang diajarkan harus sesuai dengan kebutuhan pemelajar sehingga jika pemelajar merasa perlu untuk belajar bahasa vernakular, pengajar harus dapat mengakomodasi hal tersebut (tanpa mempertimbangkan gender). Harus disadari bahwa bentuk-bentuk bahasa yang akan banyak ditemui pemelajar dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa vernakular. Oleh karena itu, pengajar sedikit banyak harus memasukkan unsur-unsur bahasa vernakular dalam pengajarannya.
Ketika mengajarkan bahasa vernakular, pengajar dapat menjadikan materi ini sebagai bagian dari materi kebudayaan. Materi dapat disesuaikan dan sebaiknya bersifat situasional dan fungsional sehingga pemelajar dapat belajar bahasa standar dan vernakular. Metode pengajaran yang kontekstual akan lebih mendukung pembelajaran bahasa vernakular. Hal ini disebabkan bahasa vernakular akan terlihat lebih nyata tergantung dari situasi yang menyertainya. Pengajar harus berpandangan bahwa pengajaran bahasa vernakular secara tidak langsung (dituturkan oleh pengajar dalam situasi yang sesuai) dapat memperkaya khasanah bahasa pemelajar BIPA.
Daftar Pustaka
Holmes, Janet. 2001. An Introduction to Sociolinguistics. Malaysia: Longman.
Martin, Judith N and Thomas K Nakayama. 2000. Intercultural Communication in Contexts. California: Mayfield Publishing Company.
McKay, Sandra Lee and Nancy H. Hornberger. 1996. Sociolinguistics and Language Teaching. USA: Cambridge University Press.
* Mahasiswi Pascasarjana Prodi Linguistik, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia

(1 votes, average: 4,00 out of 5)