Muka yang Terbebani

14 September, 2009 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

muka yang berlapis-lapis

muka yang berlapis-lapis

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

Metode kampanye di negeri ini benar-benar (tidak) menakjubkan. Ada semacam metode yang sengaja diimpor dari luar negeri. Dari mana asalnya? Negeri Paman Sam boleh jadi jawaban di urutan pertama. Maklum, bukankah gelaran pemilu Amerika Serikat sangat menginspirasi banyak hal di negeri ini? Hal yang sama juga pernah terjadi saat metode pemilihan Presiden J. F. Kennedy diimpor oleh orang-orang Eropa. Media tak canggung lagi menggunakan istilah black campaign, ‘kampanye hitam’, ‘kampanye negatif’, yang menjadi populer akhir-akhir ini. (Memang, istilah kampanye hitam, kampanye negatif, jika diperhatikan, masih menampilkan kesan yang janggal. Ada juga saran untuk menyebutnya durkampanye [dur dari durjana 'buruk']). Pesta demokrasi memang sudah dimulai dengan pemilihan calon legislatif. Entah benar atau tidak, di antara mereka yang terpilih ada juga yang dapat disebut muka tebal, si tak tahu rasa malu. Banyak dari mereka yang tak terpilih memang sudah menunjukkan kemukatebalannya, mereka lebih memilih mati, menjadi stress, lebih baik mengambil kembali barang-barang yang sudah diberikan ketika kampanye daripada rugi. Dan segala ketaktahumaluan itu juga tidak akan ditulis dalam artikel ini (karena pasti tidak akan cukup kolomnya).

Filsafat dan Wajah

Soal wajah/muka, filsuf mempunyai cara yang unik untuk menjelaskannya. Salah satunya adalah Emmanuel Levinas, yang bertungkus lumus dan berbicara panjang lebar mengenai wajah. Dalam wawancara dengan Philippe Nemo, yang tercantum dalam Ethique et Infini (1982), filsuf ini mengatakan bahwa “[d]alam wajah terdapat kemiskinan hakiki; buktinya, orang berusaha untuk menyembunyikan kemiskinan itu dengan berlagak, dengan memberi kesan lebih daripada kenyataan. Wajah itu terbuka, terancam, seakan mengundang kita untuk melakukan tindak kekerasan. Serentak juga wajah yang melarang kita untuk membunuh.”

Secara sekilas, hal itu akan memberi pengertian bahwa ‘berlagak’ menjadi suatu hal yang biasa dilakukan orang. Lagak wajah ini mengingatkan kita pada sebuah idiom menarik yang maktub dalam perbendaharaan kosakata Indonesia: muka tebal. Mungkin fitur makna ‘kemiskinan hakiki’, ‘usaha untuk menyembunyikan kemiskinan’, dan ‘memberi kesan lebih daripada kenyataan’ bisa menjadi jembatan yang menghubungkan kata-kata Levinas dengan idiom muka tebal. Apa sebenarnya muka tebal itu? Bisakah kita menyederhanakannya menjadi ‘keinginan manusia untuk lebih dikenal dengan kesan berlebihan pada wajahnya daripada kemiskinannya, meskipun orang lain sudah mengetahui benar tentang kemiskinan pada wajah orang itu’?

Muka Tebal dan Rai Gedheg

Dalam bahasa Indonesia, muka tebal mempunyai arti ‘tidak tahu rasa malu’. KBBI ternyata tak ingin membiarkan muka tebal kesepian; beberapa ungkapan lain yang senada juga mengiringinya: muka tembok, muka dinding, muka papan, muka kayu, dan muka badak. Ada juga peribahasanya, muka bagai ditampar dengan kulit babi. Sifat ‘tebal’ sepertinya menjadi senjata yang ampuh bagi ungkapan ini untuk mengungkapkan ketaktahumaluan. Pertanyaan lebih lanjut juga harus dibidikkan pada ‘materi bangunan’: dinding, tembok, papan, kayu. Struktur ini jelas mempunyai kemiripan dengan ‘tidak tahu malu’ dalam bahasa Jawa, rai gedheg.

Rai bermakna ‘wajah’ dan gedheg bermakna ‘dinding yang terbuat dari anyaman bambu’ (di Yogyakarta, rai gedheg sudah dirayakan sebagai tajuk sebuah pameran seni rupa, juga sebagai judul dari sebuah artikel lokal dari sebuah koran nasional, muncul artikel dengan tajuk yang sama).

Dari segi tertentu, rai gedheg memang tak bisa disamakan dengan ungkapan muka tebal. Dalam bahasa Jawa, penggunaan gedheg sudah mencirikan makna yang akan dibentuk oleh ungkapan tersebut. Gedheg adalah anyaman dari bambu sehingga tidak rata permukaannya; ini membuat gedheg menjadi tidak sedap dilihat, buruk. Hal inilah yang tidak dipunyai oleh ungkapan dalam bahasa Indonesia yang lebih menerapkan sifat ‘tebal’, tanpa membahas masalah ‘permukaan materi’ yang buruk.

Melihat perbandingan konteks waktu antara gedheg dan tebal (tembok, dengan bata dan plester semennya), sah-sah saja bila ungkapan rai gedheg dimaknai sebagai representasi dari sebuah ’sisi primitif’, sebuah romantika masa lalu. Coba saja mengatakan rai gedheg, tentu ada unsur-unsur masa lalu yang tiba-tiba muncul: bayangan muka, gedheg dengan ketebalan dan keburukannya, tidak tahu rasa malu. Sementara itu, muka tebal adalah satu sisi modernitas, dengan tebal, ‘tembok,’ dan ‘dindingnya’.

Potret Terkini

Wajah, yang dianggap sebagai wakil dari manusia, memang banyak memainkan perannya akhir-akhir ini. “Wajah menggantikan kedirian manusia” (Levinas: 1968). Dalam bahasa, kata-kata dari seorang gadis pada kekasih yang telah menghianatinya, “Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi,” sudah memperlihatkan bukti bahwa wajah menggantikan manusia (sebuah kiasan untuk ‘bagian’ yang menerangkan ‘keseluruhan’). Wajah-wajah sekarang muncul di mana-mana seraya memlesetkan bisikan wajah yang dirumuskan Levinas, “Jangan bunuh aku!” menjadi “Ayo pilih aku!”.

Para caleg muka tebal yang sudah kalah rasa-rasanya tak punya hak untuk menuntut siapa pun atas kekalahannya, apalagi menyalahkan teks-teks nama (kata) yang menggantikan wajah mereka saat pemilihan caleg berlangsung. Kalau pun ingin membuat sebuah andai-andai tiada berfaedah, mungkin saja mereka akan mengatakan, “Coba saja waktu itu ada gambar wajahku, mereka pasti akan tahu siapa aku. Tidak tahu pun, mereka pasti akan terkesima dengan wajahku. Dan akan langsung memilih aku.”

Wajah memang diberi beban dan tugas khusus untuk bisa menarik minat para pemilih. Kondisi ini tentu berbeda dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya, yang lebih mengedepankan simbol partai untuk memilih para calon wakil rakyat dan pemimpin. Wajah tak perlu bekerja keras sekeras hari ini.

Tak hanya di tingkat nasional, demokrasi di tingkat desa pun tak kalah gencar mengalami perubahan. Gambar padi, kapas, ketela, atau hasil bumi lainnya yang digunakan sebagai perwakilan calon kepala desa lambat-laun pasti akan digantikan oleh gambar wajah. Memang, tak ada salahnya untuk menggunakan gambar wajah, toh hal tersebut juga sama-sama tanda, sesuatu yang berbicara tentang yang lain. Jika dilihat dari sisi pragmatisnya, yaitu kemudahan untuk memahami, maka dalam kasus ini, gambar wajah akan lebih diperhitungkan daripada pemakaian tanda bukan gambar wajah dan kata-kata seperti nama (tanda). Artinya, orang tak perlu lagi menghafalkan tanda, seperti gambar ketela, padi, atau kapas untuk memilih si A atau si B, membayangkan sosok A atau B secara berlapis, tetapi cukup memilih si A atau B lewat gambar wajahnya (dalam pemilihan, penggunaan nama yang begitu banyak akan membuat pemilih kesulitan untuk membayangkan konsep [calon-calon wakil rakyat dan pemimpin] dari tanda tersebut dan walhasil, mereka yang terlalu memamerkan wajahnya tanpa menyebutkan namanya akan menjadi korban pertama dari keganasan dunia tanda). Saussure juga pernah membahas hal seperti ini. Pandangannya pada para ahli linguistik sebelumnya, yang lebih memilih studi historis bahasa dan lebih mementingkan analisis linguistik yang selalu didasarkan pada teks tertulis, memunculkan rumusan bahwa para pengguna bahasa yang lebih mengikatkan diri pada pentingnya kata-kata yang tertulis daripada kata-kata yang terucap akan membuat orang lain seakan-akan percaya bahwa pengguna bahasa tersebut bisa mengenal seseorang secara lebih baik dengan hanya memandang fotonya (gambar wajah) daripada memandang wajahnya.

Sebagai penutup, pemilihan-pemilihan yang sudah dilaksanakan memang masih menyisakan persoalan-persoalan soal ketaktahumaluan. Masyarakat sedang menunggu. Kalau pun sudah terlajur memilih si muka tebal, maka, kali ini, bukan saatnya menjadi keledai yang jatuh dua kali di lubang yang sama.

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar