Wilfridus Joseph Sabarija Poerwadarminta
14 September, 2009 | | Kategori: Tokoh BahasaDi hari yang padat dan panas menyengat, Mustafa mendadak datang ke markas LIDAHIBU dan dengan bergairah langsung meminta semua anaknongkrong berkumpul di dalam satu ruangan. Anaknongkrong yang juga sedang merasa kepanasan dan tidak bergairah mendadak ikutan bersemangat. Ada apa gerangan? Tidak ada yang bisa menyangka dan menerka.
Usut punya usut, ternyata Mustafa berniat untuk bercerita pada anaknongkrong perihal seorang tokoh bahasa yang baru dikenalnya, Wilfridus Joseph Sabarija Poerwadarminta. Mustafa pun mulai bercerita. Tokoh kita kali ini panggilan masa kecilnya adalah Sabarija. Mustafa mengucapkan nama ‘Sabarija’ sambil jari telunjuknya ditegakkan di depan dadanya.
“Ingat! Sabarija adalah ejaan lama, jadi kalau kamu-kamu ingin menyebut namanya tiga kali, sebutlah Sabariya…Sabariya…Sabariya,” ujar Mustafa dengan mimik misterius mencekam. “Saya lanjutkan lagi, ya,” ujar Mustafa.
Sabarija, lahir di Yogyakarta pada 12 September 1904, adalah anak seorang abdi dalem kraton Yogyakarta yang bertugas sebagai pemelihara kuda. Sementara ibunya hanyalah seorang pembuat pola batik. (Sungguh keren sekali!) Sabarija tidak memiliki saudara kandung, tetapi dia memiliki dua saudara satu-ibu-beda-bapak dan dua saudara satu-bapak-beda-ibu. Hmmm, Mustafa tampak berusaha membayangkan bagaimana rumitnya membuat pohon silsilah keluarga Sabarija. Kemudian Sabarija tinggal dengan neneknya yang hidup miskin sebagai rakyat jelata. Oh, jangankan bersekolah, makan saja sulit! Apalagi Sabarija bukan keturunan bangsawan atau Belanda. Maka, bersekolah adalah hal yang tidak mungkin.
Tetapi, seperti yang selalu dipercaya oleh Mustafa, tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki pikiran yang sehat. Dan hal ini berlaku bagi Sabarija: ia, yang memiliki pikiran yang sehat, saat berusia 7 tahun mendapatkan kebaikan yang sungguh ajaib. Sabarija diculik dan dibuang di pinggiran Solo. Astaga, anaknongkrong sontak terkejut mendengar itu. Salah satu anaknongkrong yang terkenal sentimentil pun bertanya pada Mustafa, “Wahai Mustafa, bagaimana mungkin sebuah penculikan bisa kamu bilang sebagai kebaikan yang ajaib?” Mustafa, yang cepat panik, langsung menenangkan si anaknongkrong sentimentil itu, “Tenang. Kebaikan yang sebenarnya belum terjadi…saat Sabarija kebingungan mencari jalan pulang, pikiran sehatnya memerintahkan Sabarija untuk menyusuri jalur kereta api ke arah barat karena nanti pasti akan sampai ke Yogyakarta.” Wah, hebat sekali Sabarija kecil ini, sangat cerdas. Sabarija terus berjalan sampai dia pingsan di dusun Prambanan karena terlalu letih dan hanya makan tebu yang dia temui di pinggir rel. Untungnya ia ditemukan oleh kusir delman dan oleh si kusir ini dia diantarkan ke rumahnya dengan selamat.
Kehidupan Sabarija yang cukup memprihatinkan itu membawa iba bagi seorang pastor yang kemudian meminta Sabarija untuk disekolahkan di sekolah Angka Loro (Tweede Inlandsche School) di Kintelan, Yogyakarta. Sabarija tidak kesulitan untuk sekolah di sana, buktinya pada tahun 1919 dia sudah lulus. Setelah lulus, gairah bersekolahnya tidaklah berhenti, dia kemudian meminta restu dari orang tuanya untuk melanjutkan ke sekolah guru (Normal School Rooms Katholiek) di Muntilan. Restu diberikan, Sabarija pun bersekolah. Akan tetapi, hanya sampai kelas dua karena saat kelas tiga Sabarija pindah sekolah ke Ambarawa. Tidak sia-sia gereja katolik membiayai sekolah Sabarija, karena Sabarija, sewaktu bersekolah di Ambarawa, mendapatkan predikat sebagai murid terpandai. Tidak hanya murid terpandai, Sabarija juga terkenal memiliki bakat dalam bidang seni: karawitan, gamelan, dan tari adalah hal yang sangat dekat dengan Sabarija. Tidak heran, banyak teman sekolah Sabariya yang suka dengannya.
Tanpa menganggur terlalu lama, sebulan setelah lulus, tahun 1923, Sabarija langsung bekerja di SD Kanisius Kumendaman, Yogyakarta. Kemudian hari-harinya mulai diisi kesibukan mengajar. Tapi, di antara kesibukan itu, ia masih sempat ikut kursus bahasa Belanda, Jerman, Inggris, dan Prancis. Wuih-wuih-wuih, sangat bergairah sekali Sabarija ini. Selain kursus bahasa, dia juga belajar filsafat. Bahasa Belanda dipelajarinya pada seorang Belanda saat itu. Jangan lupakan juga, Sabarija pun belajar sastra Jawa Kuna, bahasa Sanskerta, dan Melayu. Nah, agar dapat terus mempraktikkan bahasa-bahasa yang dikuasainya, Sabarija pun menjadi pemandu wisatawan asing yang berkunjung ke tempat wisata di Yogyakarta, seperti Kraton atau pun Tamansari.
Baru pada tahun 1929, saat Sabarija diminta mengajar di SD Kanisius Wirobrajan, ia bertemu dengan teman-teman yang tertarik untuk mendalami bahasa. Dengan bantuan teman-teman itulah dia mendirikan organisasi bernama Ikatan Tri Wikrama, dan, tentunya, dengan Sabarija sebagai ketua organisasi. Organisasi ini juga yang kemudian menerbitkan majalah Bau Sastra Jawa. Setahun kemudian Sabarija, dengan bantuan kedua temannya, C.S. Hardjosoedarmo dan J.Chr. Pujosudiro, menerbitkan Kamus Bahasa Jawa.
Keahliannya berbahasa ternyata tidak hanya menarik bagi orang Indonesia saja, orang Jepang juga ikut-ikutan tertarik. Tahun 1932, Sabarija diminta untuk mengajar bahasa Indonesia di Jepang, maka berangkatlah Sabarija ke Jepang, membawa serta istri dan anaknya yang masih berusia 9 bulan. Di Jepang Sabarija bertugas sebagai dosen di Guko Hugo Gakko, Tokyo. Tapi, dasar Sabarija tidak pernah kenyang akan pengetahuan, sembari mengajar dia juga masih mengikuti kuliah kesusastraan Inggris dan juga kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Sophia. Coba ituh, Mustafa pasti sangat malu karena kuliah S1nya saja tidak kunjung selesai.
Setelah urusannya selesai di Jepang, dia pulang lagi ke Indonesia. Saat itu tahun 1937. Berarti, dalam lima tahun, Sabarija berhasil menyelesaikan kuliah Kesusastran Inggris dan Ekonomi di Jepang. (Wuih!) Di Indonesia dia kemudian bekerja di Balai Pustaka, Jakarta. Setahun bekerja di situ, ia menjadi pimpinan redaksi majalah Kejawen yang baru saja diterbitkan.
Urusannya dengan Jepang nyatanya belum juga habis. Pada saat penjajahan Jepang tahun 1942, ia dicari-cari oleh Jepang. Ada apa gerangan? Ternyata eh ternyata, ia diminta untuk menjadi penerjemah bahasa Jepang dan kemudian diangkat sebagai juru bahasa di kantor Kempetai. Di Kempetai dia menyusun kamus bahasa Jepang dan juga buku-buku pelajaran bahasa Jepang. Eh, sewaktu bekerja untuk Jepang itu, dia juga masih sempat-sempatnya mengajar bahasa Jepang di sekolah-sekolah di Jakarta dan Bandung. Astaga, butuh duit apa gimana yak, Mustafa tidak habis pikir.
Sepeninggal bangsa Jepang, Sabarija kemudian ditugaskan di bidang Kamus Melayu di Lembaga Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan, Fakultet Kesusastraan dan Filsafat, Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia Serikat. Saat itu tahun 1949. Lalu, pada tahun 1953, Sabarija ditugaskan di Lembaga Bahasa dan Budaya, Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Indonesia di bagian Leksikografi, dimana dia pada akhirnya menyusun Kamus Umum Bahasa Indonesia yang diterbitkan tahun 1954.
Sungguh panjang memang perjalanan Sabarija ini, panjang dan sangat berisi. Dengan mulut berbusa akibat kebanyakan bicara, Mustafa lalu berjanji untuk menyelesaikan kuliahnya yang lama terbengkalai. Barangkali, Mustafa akan diminta pemerintah Moskow untuk mengajar bahasa Indonesia di sana - dengar-dengar udara di Moscow tidak sepanas di Jogja.
