Konser Metal
15 September, 2009 | | Kategori: Khazanah Kata Bahasa IndonesiaSemenjak putus cinta, Mustafa tidak lagi bertandang ke markas LIDAHIBU. Dia hanya berdiam diri di kamar kosnya. Karena itu, salah satu anaknongkrong berangkat di senja yang cerah menuju kediaman Mustafa guna menemani Mustafa melawan suram. Akh, putus di cinta suram pun tiba!
Begitu sampai, anaknongkrong langsung masuk ke kamar Mustafa. Lampu kamar masih padam, buku-buku filsafat yang dibeli Mustafa hanya agar tampak seperti mahasiswa berserakan diantara koleksi komik Jepangnya. Mustafa yang awalnya duduk di pojok kamar menghadap tembok tampak terkejut dengan kedatangan anaknongkrong ini. Karena merasa merinding dan tidak nyaman dengan suasana kamar Mustafa, anaknongkrong langsung mengajak Mustafa pergi.
Mustafa diajak ke sebuah universitas swasta di kota; kebetulan di sana sedang ada gig yang diadakan oleh sebuah scene hardcore ternama yang bermarkas di pinggir Selokan Mataram. Ya, harap maklum, anaknongkrong yang ini memang lumayan gaul. Pokoknya kalo gak nongkrong gak gaul.
Acara kali ini adalah peluncuran album milik band metal tidak tenar bernama No Leader. Walaupun tidak tenar, band ini sudah memiliki banyak groupies yang sangat bersemangat. Terlihat di venue, banyak dari mereka memakai kaus bergambar Adolf Hitler dicoret, logo milik No Leader. Semuanya tampak ceria - sangat kontras dengan wajah milik Mustafa yang masih lesu.
Setelah membeli tiket yang jelas tidak semahal tiket nonton MU lawan Indonesia ‘All Stars’, anaknongkrong dan Mustafa pun masuk ke tempat acara. Suasana sangat riuh, karena band pembuka sudah main di panggung. Band pembuka adalah band tidak terkenal bernama Counter Attack. Musik metal yang diusung band ini cukup mampu menarik minat para penonton untuk moshing. Segera setelah band ini selesai, crowds segera menyingkir.
Kemudian, tampil-lah band yang paling ditunggu, No Leader. Langsung tampil tanpa basa-basi, digeberlah lagu pertama dari album mereka. Begitu musik dimulai, crowds langsung kembali meramaikan mosh pit. Suasana sangat kacau, crowds semakin menggila. Semakin liar. Semakin membara. Di antara riuhnya suasana penuh keringat dan semangat, penonton mulai diving. Langsung disambut dengan diving lainnya. Seru sekali. Suasana sekali lagi tambah panas saat sang vokalis berteriak, “Circle Pit!!!” sambil memutar-mutar tangannya. Crowds yang tanggap dengan tanda ini langsung menarik teman di sebelahnya dan sambil berpegangan tangan berlari membentuk lingkaran dengan sesamanya sehingga membentuk sebuah lingkaran besar. Sang vokalis yang dengan sukses memprovokasi penonton tetap terus bernyanyi sembari melakukan head banging.
Suasana sangat seru, crowds yang antusias tetap memasang senyum walaupun menahan sakit akibat terlalu bersemangat. Semua tampak bahagia. Hidup aman sejahtera. Sejenak segala masalah yang dihadapi terlewatkan. Tetapi diantara keriuhan suasana di venue, Mustafa masih saja tampak tertekan. Ternyata keramaian ini tidak mampu menghibur sepinya hati Mustafa.
Merasa gagal, si anaknongkrong pun langsung pulang ke rumahnya, meninggalkan Mustafa yang mendadak pendiam ini sendirian di kamar kosnya. Tidak berapa lama kemudian, Mustafa mengambil pensil dan secarik kertas. Bukan untuk menulis surat wasiat, tetapi daftar kata asing yang dia jumpai di acara-musik-tidak-jelas tadi. Inilah isi daftar tersebut:
(1) gig (kb). Gig adalah sebuah acara musik yang diisi oleh band indie. Band indie yang dimaksud juga tidak jelas, tetapi Mustafa menyimpulkan pemahaman umum bahwa band indie adalah band yang belum terikat kontrak dengan produser musik cap mayor. Mustafa menawarkan padanan Panggung Musik Indie untuk menggantikan gig.
(2) scene (kb). Scene sendiri konsepnya mirip dengan komunitas, tetapi mungkin lebih tepat lagi jika memadankan scene dengan kalangan.
(3) groupies (kb). Groupies adalah sebutan untuk penonton setia band tertentu. Nah, biasanya groupies ini akan datang setiap kali band itu tampil di panggung-panggung yang berbeda. Groupies akan bertambah dengan sendirinya, dan tentu saja tidak ada struktur seperti dalam organisasi atau klub penggemar. Nah, padanannya adalah kelompok pemuja. Agar lebih singkat-tepat-padat, dapat saja diperpendek menjadi pokja.
(4) venue (kb). Venue adalah daerah dimana sebuah acara digelar. Padanan yang ditawarkan adalah tempat.
(5) moshing (kb). Moshing adalah gerakan yang dilakukan oleh penonton, berupa gerakan saling menghempaskan badan, meninju-ninju udara (kalau kena penonton lain ya harap maklum), menarik tangan orang di sebelah dan melemparnya jauh-jauh, meloncat-loncat, sampai membiarkan tubuh dibopong oleh penonton lain. Padanannya adalah dansadis.
(6) crowds (kb). Makna crowds sebenarnya sama saja dengan penonton. Cuma, jika langsung datang ke arena konser, rasanya crowds punya ciri makna yang lebih khas. Nah, sepertinya padanan yang lebih tepat ialah kerumunan.
(7) mosh pit (kb). Mosh pit adalah sebutan untuk tempat dimana crowds bisa melakukan moshing. Jika dipadankan menjadi ‘arena berdansadis’, maka rasa-maknanya akan berbeda (penggunaan kata pit sangat jauh lebih negatif daripada arena). Maka, akan lebih dahsyat lagi jika dipadankan dengan kawah dansadis.
(8) diving (kb). Diving adalah aksi dimana seseorang meloncat dari tepi panggung menuju ke ‘lautan’ penonton. Konsepnya sama seperti kita meloncat dari kapal dan langsung menyelam. Hanya saja ketika sedang berada di konser musik, kita meloncat ke arah penonton untuk nantinya diambangkan oleh penonton lain, jadi kita seperti berenang di lautan manusia. Padanan yang ditawarkan adalah terjun.
(9) circle pit (kb). Circle pit dipadankan dengan kawah lingkar. Kenapa bisa jadi kawah lingkar? Karena circle pit adalah kondisi dimana penonton saling bergandengan tangan dan berlari membentuk lingkaran, menyisakan ruang bolong di tengah lingkaran itu — bolong seperti donat. Sering kali, ruang bolong di tengah itu diisi oleh beberapa orang yang berdansadis.
(10) head banging (kb). Padanan yang memang sudah sangat pas ya hentak-kepala. Hentakan kepala itu disesuaikan dengan irama musiknya. Biasanya jika seorang penghentak-kepala memiliki rambut panjang, kepalanya bukan dihentakkan atas-bawah, tetapi melingkar, sehingga rambutnya membentuk lingkaran utuh yang manis sekali.
Keesokan harinya, Mustafa tiba-tiba datang ke Markas LIDAHIBU, diserahkannya secarik kertas berisi sepuluh padanan kata untuk konteks Konser Metal. Senyuman sudah terpancar dari wajah Mustafa, anaknongkrong LIDAHIBU pun tersenyum manis membalas senyumannya.
