Analisis Wacana: Dari Linguistik Sampai Dekonstruksi

28 Oktober, 2009 | Edisi: | Kategori: Pustaka Gokil
analisis wacana

analisis wacana

Oleh Armando Soriano

Penyunting                    : Kris Budiman

Penerbit                        : Penerbit Kanal

Tahun terbit                  : 2002

Kota terbit                    : Yogyakarta

Jumlah halaman             : 229

Ulasan

Membaca daftar isi buku ini adalah suatu pencerahan tersendiri bagi siapa yang sedang penasaran tentang topik wacana dan hal-hal seputarnya. Bagaimana tidak, sebagai sebuah pengantar atas pengantar, daftar isi tersebut telah memberikan gambaran tersendiri: suatu pemetaan mungkin atas pandangan-pandangan pada konsep tentang wacana yang mendominasi dalam ranah pemikiran di sekitar kita.

Pada “Kata Pengantar”, misalnya, ditemukan beberapa alasan dan tujuan diterbitkannya kumpulan tulisan ini. Salah satunya adalah pengertian tentang istilah wacana sendiri, yang dikatakan terpuruk sebagai jargon dengan pengertian yang tidak pernah begitu jelas atau bahkan simpang-siur. Melihat adanya percobaan-percobaan yang, dalam memaknai istilah itu, cenderung bersekat, bahkan samar, maka lahirlah pemikiran bahwa “[d]iperlukan upaya penjelasan yang lebih komprehensif, yang tidak cuma didasarkan atas salah satu atau beberapa pengertian tentangnya, melainkan terutama sekali dapat meliputi proses perkembangbiakan maknanya, dan yang pada gilirannya dapat membuat para produsen dan konsumen istilah itu mengenali posisi mereka di dalam proses tersebut,” demikian kutipan langsung dari bagian “Kata Pengantar”. Ruang yang diberikan oleh pemikiran ini adalah bahwa para pengguna istilah wacana atau mereka-mereka yang baru berkenalan atau sudah akrab dengan hal seputar istilah tersebut dapat berefleksi pada titik ini, menentukan diri mereka, atau melihat sudah sampai sejauh mana mereka sekarang ini. Apakah sebagai produsen? Atau konsumen? Selanjutnya, dapat ditarik lebih jauh lagi runtutan sebab-akibat kenapa identitas itu bisa melekat atau dilekatkan pada mereka.

Ada tujuh tulisan di dalam buku ini, yang merupakan kumpulan karya dari beberapa penulis. Beberapa di antara mereka adalah Aminudin, yang menulis tentang “Linguistik Kritis: Roger Flower dan Pendekatan Pasca-Struktural: Jacques Derrida”, I Dewa Putu Wijana, yang menulis tentang “Wacana Pragmatik”, dan Kris Budiman, yang membahas masalah “Membaca Mitos Bersama Roland Barthes”. Kumpulan tulisan ini merupakan bahan yang dibawa oleh para penulis sebagai narasumber dalam acara pelatihan analisis wacana yang diadakan oleh  Pusat Studi Kebudayaan (PSK) UGM di tahun 1999-2000. Kegiatan ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat dan telah ada niat untuk mengadakannya lagi walau masih menemui kendala berupa tidak tersedianya waktu.

Bagi mereka yang sudah akrab dengan bidang-bidang yang berhubungan dengan Linguistik, Pragmatik, dan kritik-kritik yang berhubungan dengan Roland Barthes dan pemikirannya tentang mitos, maka tiga tulisan yang diurutkan secara beruntun di bagian awal buku dapat dikatakan sebagai sebuah penyegar bagi hal-hal dasar dari teori-teori tersebut. Sebagai sebuah naskah untuk acara pelatihan, konstruksi kumpulan tulisan-tulisan ini telah melewati proses penyesuaian yang memungkinkannya untuk lebih bisa dinikmati sebagai sebuah buku. Terlepas dari kepadatan  pemaparan teori, pembahasan-pembahasan disertai contoh-contoh yang diikuti penjelasan yang tidak sedikit. Tulisan-tulisan dalam buku ini cukup jelas mengantar kita pada pengenalan tentang topik-topik yang dikandungnya. Batasan-batasan pada objek yang dikaji ditunjukkan secara jelas, seperti yang dapat ditemukan pada tulisan tentang, contohnya, “Wacana dan Pragmatik” oleh I Dewa Putu Wijana. Pada tulisan ini dapat disua informasi tentang bagaimana hal-hal seperti anomali metalingual dapat dipahami dengan ruang pemahaman Pragmatik. Perhatikan contoh yang dipakai dalam buku ini,

1. Mereka sedang berjalan-jalan ke Singaraja.

2. Meja baru itu sedang berjalan-jalan ke Singaraja.

Dapat ditemui sebentuk pelanggaran pada contoh nomor 2, yaitu tidak adanya komponen semantis [+insani] pada frase sedang berjalan-jalan. Pelanggaran inilah yang mengakibatkan terbentuknya tuturan anomali metalingual. Sudut pandang Pragmatik menunjukkan bahwa ada struktur lingual yang tidak semata-mata dibangun oleh unsur-unsur kategori yang bersifat formal, tetapi juga oleh yang berciri semantis tertentu. Melalui perangkat teorinya itu, Pragmatik hadir sebagai sebuah pendekatan yang mempelajari strategi-strategi yang ditempuh oleh penutur bahasa di dalam mengkomunikasikan maksud-maksud penuturannya.

Dalam tulisan Kris Budiman, dalam “Membaca Mitos Bersama Roland Barthes”, kita dibawa untuk menyelami tradisi linguistik Saussurean yang dikenal dengan konsep-konsep dikotomisnya, seperti: langue / parole, penanda / petanda, sintagmatik / paradigmatik. Pengertian mitos di sini sesuai dengan etimologinya: bersifat inklusif, bukan dongeng atau cerita rakyat yang dikeramatkan, melainkan sebuah tipe tuturan. Menurut Barthes, keberadaan mitos dikendalikan secara kultural dan merupakan sebuah “cerminan” yang terbalik. Ia membalik sesuatu yang sesungguhnya bersifat kultural menjadi sesuatu yang seolah-olah alamiah. Lebih dalam lagi, pendekatan semiotik Roland Barthes memiliki bagian penting: bahwa melalui pembacaan semiotik ini seorang pembaca berkehendak untuk “mengembalikan” inversi pada sebuah mitos dengan cara memilah amanatnya ke dalam dua buah sistem signifikasi. Pada bagian pemakaian teori ini digunakan contoh yang terkenal di dalam dunia semiotika, yaitu pembacaan Barthes atas gambar di sampul majalah Paris Match: seorang Afrika yang berseragam serdadu Prancis yang tengah memberi hormat kepada bendera kebangsaan Prancis.

***

Berkenalan dengan dunia wacana memang tidak sederhana. Setelah melihat rangkaian-rangkaian pendekatan atas wacana sekalipun, semua tidaklah lantas menjadi lebih mudah. Pemahaman kita hanya akan semakin jelas dan terang karena lorong-lorong pendekatan itu telah tersusun sedemikian rupa hingga batasan-batasannya menjadi kelihatan. Meskipun saling mengkritik, tujuan mereka tidak lain adalah untuk pemahaman-pemahaman yang lebih baik. Katakan saja bahwa mereka saling melengkapi, dan semuanya hanya dapat dipahami bila kita berani menjawab tantangan untuk memasuki salah satu lorong-lorong itu.

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar