Anton Moedardo Moeliono
28 Oktober, 2009 | | Kategori: Tokoh BahasaOleh Norie Paramitha
Tak dapat digambarkan dengan kata-kata prestasi dan penghargaan yang telah diraih oleh tokoh bahasa kita ini. Ia adalah salah seorang tokoh bahasa yang dikenal sebagai pembaku dan perawat Bahasa Indonesia. Anton Moedardo Moeliono, yang lahir di Bandung 21 Februari 1929, berperan besar menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang maju seperti dikenal yang sekarang ini. Beberapa karyanya yang terkenal, antara lain pembentukan bahasa Indonesia yang baik dan benar atau yang disebut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) di tahun 1972, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988), dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988). Karya-karya tersebut ia ciptakan untuk memperkuat keberadaan Bahasa Indonesia agar lebih dicintai, dibanggakan, dan disetiai sesuai prinsip trilogi Bahasa Indonesia yang dianutnya. Dosen yang kini mengajar di Unika Atmajaya Jakarta itu tetap ingin menegakkan trilogi bahasa Indonesia: aku cinta bahasa Indonesia, aku bangga pada bahasa Indonesia, dan aku setia pada bahasa Indonesia tanpa berpaling pada bahasa lainnya. Karena itu dalam kesehariannya, Moeliono tidak berniat mengajarkan Bahasa Indonesia kecuali dengan tujuan mengembangkan sikap yang baik terhadap bahasa persatuan negara-bangsa Indonesia. Trilogi tersebut ia dijalankan dalam kehidupannya, salah satu contohnya, walaupun ia fasih berbicara bahasa Sunda dan Jawa, namun ia tidak menggunakan logat dan dialek kedua bahasa terebut. Ia tetap mempertahankan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Amboi!
Sebagai pakar bahasa, Anton Moeliono memiliki segudang pengalaman, baik di Universitas Indonesia, Pusat Bahasa maupun Universitas Atma Jaya. Moeliono menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Indonesia sejak tahun 1958. Ia meniti karirnya di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia sebagai Asisten Ahli, dilanjutkan menjadi Lektor pada tahun 1962-1967. Selain menjabat sebagai lektor, Moeliono juga aktif menjadi Pembantu Dekan Bidang Akademi dan Ketua Badan Pimpinan Fakultas Sastra tahun sejak tahun 1966 sampai dengan 1967. Pada tahun 1965 Moeliono memperoleh gelar Master of Arts in General Lingustics di Cornell University, Amerika Serikat. Tidak berhenti sampai di situ, ia bahkan mengikuti program Studi Pascasarjana, Rijksuniversiteit Leiden, pada tahun 1971-1972, dan pernah menjadi Professional Associate di East-West Center, University of Hawaii pada tahun 1977. Setelah itu, karirnya menanjak pada tahun 1980 menjadi Visiting Fellow, Research School of Pacific Studies, The Australian National University dan memperoleh gelar Doktor Ilmu Sastra, Bidang Linguistik, di Universitas Indonesia pada tahun 1981. Dan sejak tahun 1982 ia menjadi guru besar bahasa Indonesia dan Lingustik pada Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.
Tidak hanya itu saja, Moeliono tercatat sebagai salah seorang perintis dan pendiri Yayasan Atmajaya, sekaligus menjadi anggota yayasan tersebut sejak 1962 hingga 1999. Di kampus itu, antara lain, ia pernah menjadi Ketua Badan Harian Yayasan Atmajaya, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan, dan Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan terpilih menjadi Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik, serta diangkat sebagai profesor tidak tetap pada Program Studi Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Program Pendidikan Pascasarjana. Sejak tahun 2000 lalu Moeliono menjadi guru besar tetap FKIP Atma Jaya merangkap sebagai Ketua Program Studi Linguistik Terapan.
Di tahun 1995 Universitas Melbourne Australia pernah menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa Ilmu Sastra kepada Moeliono, penghargaan bagi pakar bahasa yang telah menghasilkan beberapa karya buku yang sampai saat ini masih digunakan sebagai acuan untuk belajar. Buku-buku yang masih digunakan antara lain, Santun Bahasa (1984), Masalah Bahasa yang Dapat Anda Atasi Sendiri (1988), dan Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan Tersebar (1989). Selain itu, aktivis berbagai organisasi terutama bidang kebahasaan ini adalah penyunting beberapa buku mengenai ejaan, pembentukan istilah, dan penyunting penyelia Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi I (1988). Anton M Moeliono memberikan sumbangan besar akan kemajuan Bahasa Indonesia, terlebih saat memimpin Pusat Bahasa di tahun 1984-1989. Ia adalah salah satu ikon kemajuan Bahasa Indonesia yang pernah ada. Moeliono dikenal sebagai pembaku sekaligus perawat bahasa Indonesia oleh karena begitu gesitnya ia menemukan padanan kata yang memadai, entah itu dipungut dari khazanah usang, atau berupa rekacipta untuk setiap istilah asing yang memuat konsep atau makna yang - untuk orang Indonesia - masih baru. Guru besar emeritus linguistik Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini dijuluki pula sebagai perekayasa istilah karena keahliannya merekayasa istilah baru dalam Bahasa Indonesia. Moeliono yang juga pernah menjadi Ketua Panitia Ejaan Baru dan Ketua Panitia Kerja Sama Kebahasaan itu, memangku jabatan sebagai Kepala Pusat Bahasa pada 1984-1989. Ia juga pernah menjadi Direktur Indonesian Linguistics Development Project (Proyek Kerja Sama Universitas Leiden-Pusat Bahasa) dan menjadi Direktur Eksekutifnya pada tahun 1990-1992. Sejak 1993 sampai sekarang Moeliono aktif sebagai konsultan bahasa terutama di bidang peristilahan.
Suami dari notaris Cecilia Soeparni Josowidagdo dan kakek empat cucu ini masih tetap aktif berkantor. Moeliono, setiap pagi pukul delapan sudah tiba di kantornya di UI, Pusat Bahasa, atau Atmajaya. Penggemar primadona gamelan Tjondrolukito ini lebih banyak menghabiskan waktunya membaca atau menonton. Ia memiliki koleksi 200-an keping musik klasik Barat. Moeliono yang doyan opera La Boheme dan Madam Butterfly ini biasa mendengar dan menonton musik di rumah. Kini, Moeliono yang genap berusia 75 tahun masih berkesempatan mengisi acara interaktif di RRI, tentunya masih seputar Bahasa Indonesia.
Nah, generasi muda penutur Bahasa Indonesia, ada yang berani melampauinya?

