bahasa a la lebaran
28 Oktober, 2009 | | Kategori: Berita GejalaSetelah melalui rangkaian ungkapan yang sudah galib, seperti bulan Ramadan, puasa, sahur, Imsak, salat Tarawih, takbir, dan zakat, Lebaran akhirnya datang, juga dengan sekumpulan istilahnya, seperti: salat Id, minal aidin wal faidzin (’semoga Allah menerima amal ibadah kita semua’), selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin, silaturahmi, anjangsana, halalbihalal, ketupat, opor ayam, dan masih banyak lagi. Selain istilah-istilah tersebut, tulisan mengenai Lebaran di mediamassa juga tak kalah menarik.
Bahasa Campuran: Lokal, Global, dan ‘Glokal’
Untuk pesta kemenangan ini, salah satu koran di Jawa Tengah memasang iklan dengan bahasa yang berima dan beraliterasi. Koran itu memasang 5L dalam iklannya: “Lebar, Libur, Labur, Luber, dan Lebur”. Iklan itu berima dengan bunyi akhir /r/ dan beraliterasi dengan bunyi awal /l/. Kehadiran iklan ini ternyata memperkenalkan sesuatu yang dikenal sebagai ‘persilangan’, ‘perkawinan’, ‘hibriditas’, atau ‘pencampuran’ bahasa.
Bahasa memang sarat dengan konsep persilangan, bahkan sebelum kata mengunduh mulai ramai dipakai, kata men-download, yang merupakan kata persilangan, masih menjadi primadona. Dalam kasus iklan tersebut, persilangan membuat iklan itu tak hanya berbahasa Jawa atau Indonesia, tetapi berbahasa campuran. Harap maklum, hibriditas memang tak terelakkan. Untuk memahami 5L dalam iklan itu, tengoklah penjelasan yang mengikutinya. Lebar: lebaran adalah perwujudan rasa syukur umat Muslim setelah selesai (jw, lebar) puasa bulan Ramadan; Libur: libur panjang minimal satu minggu menanti di depan mata, bertemu dengan sanak saudara, bertemu dengan teman lama; Labur: berbenah-benah, mengecat, dan mempercantik rumah adalah salah satu cara orang Jawa Tengah dalam menghormati kunjungan silaturahmi keluarga dan sahabat; Luber: Jawa Tengah menyambut melimpahnya pemudik yang datang, membelanjakan uang hasil mencari nafkah di kota besar; dan Lebur: saatnya melebur semua dosa, salah dan khilaf yang sudah kita lakukan.
Lalu, di bagian manakah persilangannya? Beberapa kata tersebut ternyata juga dapat ditemui dalam bahasa Jawa: lebar, labur, luber, dan lebur. Deskripsi ini setali tiga uang dengan artikel Gatot Marsono yang berjudul “Idul Fitri dalam Perspektif Budaya Jawa”, yang mengungkapkan bahwa, bagi komunitas Jawa, Idul Fitri juga disebut Bakda, Lebar(-an), Luber, Lebur, Labur. Melebur dosa sering disebut nglebur (menghapus). Karena Idul Fitri dirayakan sesudah puasa Ramadan, maka disebut lebar. Sementara itu, luber artinya ‘kelebihan’. Hal ini berhubungan dengan pemberian wajib 2,5 % dari harta kekayaan untuk diserahkan kepada fakir miskin sebagai zakat atau fitrah. Jika semua sudah dilakukan, barulah labur tercapai, menjadi ‘putih dan kembali bersih’.
Lain orang, lain caranya. Jika iklan lebih memilih bahasa campuran dan Gatot Marsono memilih bahasa daerah, Abdul Mu’ti, dalam artikelnya “Lima Keindahan Idul Fitri”, sedikit menawarkan keglobalan. Ia mengungkapkan bahwa Idul Fitri adalah open day dan full day. “Selama Idul Fitri, umat muslim membuka lebar pintu rumah mereka (open house) sepanjang hari (full day) dan menyediakan seisi rumah (full house) bagi tamu yang berkunjung. Semua tamu akan disambut dengan lapang dada (open mind) dan penuh ketulusan hati (full heart) … Di balik senyum yang terus mengembang, mereka seolah mengatakan, ‘I love you full’.” Artikel ini mungkin salah satu cara untuk memperkenalkan istilah-istilah Idul Fitri dalam bahasa Inggris untuk orang asing yang mungkin kebetulan saja membaca koran lokal. Jadi, ya, seperti mencoba jadi ‘glokal’: mengglobal di tempat lokal.
Untuk pembaca lokal, penggunaan kosa kata bahasa Inggris (semoga) berguna untuk menambah simpanan kosa kata bahasa Inggris untuk istilah tertentu, sedangkan bagi yang lain, penggunaan kosa kata bahasa Inggris dalam artikel itu mungkin hanya akan mengganggu pembacaan artikel dan memicu pertanyaan: bukankah dengan menuliskan hari untuk beranjangsana, bersilaturahmi akan lebih jelas daripada open day, open house, yang mengesankan bahwa bahasa Indonesia sudah kekurangan istilah?
Sebenarnya perlu ada sedikit catatan bagi penggunaan istilah asing pada artikel tersebut, misalnya full house. Ada ketakutan bahwa istilah tersebut akan menjadi sangat taksa. Dalam kamus bahasa Inggris, frasa tersebut akan langsung menampilkan arti ‘gedung teater yang semua kursinya sudah diduduki’ dan ’sejenis permainan kartu’. Selain itu, kemunculan open day dan open house mungkin membingungkan. Keduanya sebenarnya mempunyai arti yang sama. Open day adalah bahasa Inggris Britania, sedangkan open house berasal dari bahasa Inggris Amerika.
Di edisi percobaan #2 LIDAHIBU, perihal pemakaian open house yang begitu populer ketika Lebaran sudah pernah dibahas. Jika sekilas menengok negeri jiran, Malaysia, yang bahasa nasionalnya bahasa Inggris, open house tentu tak asing lagi. Open house diartikan sebagai ‘acara untuk menerima kunjungan tamu’. Biasanya ada semacam pengumuman mengenai waktu kunjungan. Misalnya, dari pukul 09.00-10.00, kunjungan diadakan di keluarga A, dan pukul 10.00-11.00, kunjungan di keluarga B. Dengan begitu, masyarakat akan berkunjung sesuai jadwal. Perlu ada tambahan catatan di sini bahwa open house biasa dilakukan di kota. Sementara itu, di kampung, tidak ada acara open house. Setiap rumah akan dikunujungi, tidak tentu waktunya. Jika pemiliknya tidak ada, akan dicari lain waktu.
Desa dan Kota
Mudik kerap menjadi suatu bahasan yang muncul dalam artikel-artikel sebelum lebaran. Ada yang berbicara mengenai pro dan kontra mudik; ada yang sekadar melakukan refleksi tentang mudik. Mudik setiap Lebaran rupanya menceritakan kisah dari dua unit daerah yang berbeda, desa dan kota.
Dalam masa arus mudik, khususnya di Pulau Jawa, pemlesetan syair lagu Koes Plus mungkin harus dinyanyikan: Dari Jakarta aku ‘kan kembali. Walaupun apa yang ‘kan terjadi. Sementara itu, lirik lagu aslinya patut dinyanyikan saat arus balik tiba: Ke Jakarta aku kan kembali….
Kota besar seperti Jakarta memang masih menawarkan pesona tersendiri bagi kaum rural. Arus balik ke Jakarta pun tak hanya dipenuhi oleh warga yang sebelumnya mudik ke desa, tapi juga oleh para pengadu nasib. Tambahlah kita yakin bahwa arus mudik Lebaran tahun berikutnya tidak akan ramai lancar, namun padat merayap, macet, bahkan mungkin, “parkir di jalan”.
Dalam situasi seperti ini, desa seperti sudah mati, tidak populer, dan tidak lagi menjanjikan. ‘Daerah penghasil panganan pokok’ ini tak lagi menjadi sebuah pilihan tempat tinggal untuk mencari penghidupan. Mata pencaharian sebagai petani tentu dianggap ketinggalan zaman, tidak sesuai semangat zaman ‘facebook’.
Apa yang terjadi di masa lalu mungkin juga terjadi di masa kini. Sarjana antropologi Malaysia, V. Oey, dalam tulisannya menyimpulkan bahwa pertanian bukanlah tradisi orang Melayu. Selain itu, sejarawan A. Reid menuturkan bahwa Kepulauan Indonesia pada abad ke-16/17 merupakan daerah yang paling urban. Artinya memiliki penduduk kota yang paling padat di dunia. Manusia Nusantara pada masa itu tentu bukanlah petani, melainkan pedagang, nelayan, pelaut dan lain-lain. Singkatnya, orang Indonesia zaman itu adalah orang kota, bukan orang desa. (Itu menurut A. Reid, lho. - red)
Adakah usaha untuk “menyelamatkan” desa? Entah siapa yang memulai, istilah-istilah yang khas desa atau kampung dibungkus dalam nama perumahan, rumah makan, tempat wisata, dll., untuk dijadikan suatu komoditas. “Penyelamatan” seperti ini tentu akan menciptakan desa yang bukan desa. Desa yang tak desa itu hanya menawarkan pesona ‘desa yang indah’ lewat dekorasi alias tata-ruang. Unsur-unsur kedesaan yang lainnya dinafikkan. Lucunya, setelah dikemas dengan semangat eksotisme, nilai tunai konsep seperti itu jadi sangat tinggi. Ada sedikit candaan dari seorang kawan ketika hendak mencari makan malam, “Malam ini kita nggak usah ke rumah makan atau kafe yang pake nama dari kampung, pasti mahal soalnya.”
Jika kota menonjol dengan pesona dan harapan akan penghidupan yang layak, dan lebih ke arah materialisme, desa, sebagai tujuan mudik, lebih menonjolkan pengenangan jati diri dan unsur-unsur yang lebih bersifat spiritual. Amin.

