Dirgahayu Facebook
28 Oktober, 2009 | | Kategori: Tulisan MusimanOleh Gideon Widyatmoko
Sewaktu bertandang ke sebuah kedai kopi, Mustafa memarkirkan matanya pada tiga dara manis yang baru datang dan duduk tidak jauh dari tempat duduknya. Tiga dara itu kemudian memesan minuman dan langsung mengeluarkan komputer jinjing dari dalam tas-tas mereka. Entah sudah janjian atau belum, ketiganya segera membuka situs jejaring sosial Facebook. Wuo…Ada apa ini? Karena penasaran dan juga dorongan dari nalurinya yang mudah terprovokasi, Mustafa pun ikutan membuka situs facebook.com.
Ya, sekarang kan dimana-mana orang sangat menggandrungi Facebook. Banyak produk telepon genggam yang mengandalkan fitur aplikasi Facebook sebagai iming-iming penjualannya. Banyak juga produk jaringan seluler yang memberikan paket hemat untuk menggunakan aplikasi Facebook. Ada juga yang menjual laptop dengan harga murah dengan embel-embel “facebook-an lancar.” Di toko buku juga banyak dijual buku tentang facebook: dari cara mendapatkan uang, sampai pengetahuan dasar tentang Facebook. Mustafa juga sering lihat di jalan ada orang yang menggunakan tempelan “I love Facebook” terpasang di helmnya. Hampir semua yang dihubungkan dengan Facebook laku keras. Saking tenarnya, Facebook sampai bisa membuat hubungan rumah-tangga retak. Mustafa membaca di sebuah surat kabar kolom psikologi, ada seorang ibu rumah-tangga yang mengeluhkan suaminya kerajingan Facebook sampai mereka bersitegang terus setiap hari. Waduh! Mustafa sangat prihatin mengetahui hal tersebut.
Tetapi, Facebook ternyata memang menarik. Selain bisa berkomunikasi dengan sahabat lama, Mustafa juga jadi bisa membaca setiap kali ada seorang teman yang memperbarui status atau komentar-komentar. Komentarnya juga macam-macam, ada yang menjadi pembawa berita cuaca dengan mengatakan “Jogja hari ini panas”; ada juga yang menjadi pemain sinetron dengan mengatakan “Q hr ini sdih bgt”; pokoknya sangatlah beragam komentar dari teman-teman Mustafa ini. Sebetulnya tidak ada Facebook pun tidak mengapa, tetapi kok ya ternyata memang menyenangkan mengetahui apa yang ada di benak teman-teman - mulai dari yang penting, tidak penting, sampai yang sangat tidak penting. Tidak penting karena komentarnya hanya berlaku untuk sepihak saja, konteksnya hanya dimengerti oleh si penulis komentar saja. Misalnya, “[a]h, masa’ sih Tuti setega itu?”. Tuti itu siapa? Pastinya banyak yang tidak tahu. Lalu, apa yang diperbuatnya hingga dikatakan ‘tega’ juga semakin membingungkan. Tetapi ada juga yang sok tahu sehingga memberikan komentar lagi, semisal, “[i]ya, Tuti memang seperti itu” atau yang lebih tidak penting lagi, “sumpe de guwe.”
Walaupun tidak kontekstual, tetapi acapkali semua komentar yang ada di Facebook menjadi seragam sesuai dengan apa yang sedang ramai dirayakan. Misalnya sewaktu tanggal 17 Agustus 2009 lalu, Indonesia merayakan hari jadi kemerdekaan yang ke-64, dan banyak sekali komentar di Facebook yang turut memeriahkan dan mendoakan Indonesia. Semisal, seperti yang tertulis di komentar teman saya Bayu Ariwibowo: “Selamat Ulang Tahun Indonesia, semoga panjang umur.” Atau teman saya lainnya Srikandi Fuchsia: “Dirgahayu Kemerdekaan Indonesiaku Tercinta.” Facebook adalah salah satu cara mudah untuk memberikan ucapan karena pemerintah kita sepertinya tidak menyediakan ruang sendiri bagi warganya yang ingin mengucapkan “selamat” kepada Indonesia. Dari pengamatan yang dilakukan Mustafa di Facebook, ternyata banyak juga teman yang masih meragukan kemerdekaan itu sendiri, seperti apa yang diungkapkan oleh Ayu Primasandi: “[s]udahkah saya MERDEKA ???”; atau seperti teman yang lain, Ian: “[j]angan bilang merdeka! Jangan rayakan kemerdekaan! Walau kita menghargai Soekarno-Hatta dkk. Fakta bahwa kita masih dijajah jangan kau lupakan!”
Itulah serunya Facebook, kita bisa menuliskan apa saja yang kita mau dan dibaca sesuka kita. Tidak perlu kuatir juga tentang tatanan bahasanya karena bahasa yang digunakan di facebook adalah bahasa yang ‘bebas’. Tidak ada aturan baku untuk berbahasa di Facebook, sama dengan berbahasa di blog pribadi. Ada yang menulisnya disingkat-singkat dan ada yang menggunakan angka agar tampak lucu. Misalnya jika Mustafa hendak menulis “Mustafa orang ganteng dan baik hati”, bisa disingkat menjadi “Mstfa org gntg n baik ht” atau diganti menjadi angka, “Mu5t4f4 0r4n9 94n73n9 d4n 841k h4t1.” Wah, memang mengasah kreatifitas kok. Biarpun lebih sulit dibaca, tetapi toh, dengan usaha yang sedikit lebih keras, pesannya tetap tersampaikan. Teman Mustafa di Facebook, yang bernama Roswita Indra, menggunakan bahasa yang disingkat untuk merayakan Agustusan, “rasa memiliki tkdang bwt Qt jd egois, tp rasa memiliki itu kadang hrs terus dpupuk, yaitu rasa memiliki bangsa/negara INDONESIA! MERDEKA!! :-)”. Malah Roswita menambahkan tanda senyum di bagian akhir.
Teman-teman Facebook Mustafa memang menarik-menarik. Selain gaya menulis yang berbeda, pencampuran bahasa pun terjadi juga: dari Bahasa Indonesia, bahasa inggris, sampai bahasa daerah. Contohnya di komentar milik teman Mustafa, Gembong Nusantara, dia menuliskan seperti ini, “Merdeka?! Merdeka matamu!!! Merdeka buat siapa? Merdeka bukan milik kitorang. dari sabang sampai merauke, dari miangas sampai rote cuma batas dalam peta. pendidikan gratis cuma iklan. berantas korupsi cuma semboyan. tetek mbengek lainnya cuma mbelgede…s.. Merdeka lepas dari penjajah???!!! Yakin kau?! Merdeka cuma sensualitas buat man in the cave yang dilepas liarkan……Merdeka, Mau??let’s fight 2gether.”
Sewaktu Mustafa menyaksikan film MERAH PUTIH yang katanya Hollywood banget itu, seorang tokoh yang berasal dari Sulawesi acapkali menggunakan kata kitorang untuk menyatakan arti “kita”. Selain kitorang, tetek-bengek juga merupakan bahasa daerah. Maknanya sama dengan ‘omong kosong’. Entah berasal dari mana kata tetek bengek ini.
Mungkin memang seperti itu cara yang paling tepat untuk merayakan 17 Agustus lalu. Kita ‘merdeka’ untuk menggunakan gaya bahasa di Facebook sesuai dengan apa yang kita percaya. Nah, kalau sudah menyangkut Facebook begini, siapa yang bisa menyalahkan dan membenarkan? Toh tidak ada aturan yang baku tentang berbahasa di Facebook. Yang penting, bila tidak merusak nama baik perusahaan-perusahaan besar atau memasang foto yang porno. Semua sah!
***
Karena penasaran pada tiga dara manis yang asik mengisi komentar di Facebook, Mustafa pun mendatangi ketiganya. Karena Mustafa adalah orang yang humoris dan supel, mereka pun segera menjadi akrab. Dan tidak lama kemudian, di akun Facebook Mustafa sudah terdapat 3 permintaan teman.

