Linguistik: sebuah naskah
28 Oktober, 2009 | | Kategori: Tulisan MusimanOleh Armando Soriano
Intisari: Sepotong pembicaraan tentang pengalaman mempelajari Linguistik oleh tokoh-tokoh yang coba dikarakterisasikan sebagai mahasiswa dengan latar belakang tertentu di atas sebuah panggung kayu, di bawah rimbun sebuah pohon tua, di sebuah tempat yang di sebut pinggiran sebuah kampus, dan di suatu tempat di Indonesia.
Kata kunci: Linguistik, sejarah singkatnya, pembelajarannya (kedudukannya dalam perkampusan),problematika dalam pembelajarannya.
Babak I
(Di pinggiran sebuah kampus, di atas sebuah panggung kecil yang biasa dipakai orang-orang untuk latihan atau bermain teater.)
Tiga orang mahasiswa duduk di bibir panggung yang terbuat dari kayu itu. Seperti hal-hal yang digemari mahasiswa pada umumnya, mereka duduk dan bercerita. Mereka adalah tipe-tipe penghuni kampus yang biasanya terlihat mondar-mandir di lorong, merokok di tempat-tempat duduk, tergesa-gesa menuju kelas untuk kuliah yang sudah terlambat lebih dari sepuluh menit, dan duduk lama di kantin karena bimbang ingin terus kuliah atau tetap nongkrong di situ. Berbusana kaos oblong, celana jins, dan sepatu yang biasa, itu saja yang mungkin bisa dikatakan tentang penampilan mereka. Selebihnya, tentang isi kepala mereka, siapapun mungkin bisa menuliskan tentang apapun, tetapi tentu saja tak satu pun yang merupakan rangkuman dari kebenaran yang sesungguhnya. Aih,apa pula kebenaran itu?
Beri saja mereka nama A, B, dan C. A adalah seorang mahasiswa dari angkatan yang lebih tua dari B, dan C. Si C adalah yang termuda di antara mereka, ini tahun pertama kuliahnya. Hal yang sedang mereka bicarakan adalah hal yang sama yang mungkin biasa dibicarakan oleh mahasiswa-mahasiswa lain dari fakultas yang sama seperti mereka. Mahasiswa yang sering menghabiskan waktu demi membaca buku-buku tentang ilmu-ilmu kebahasaan, tentang Sastra atau Linguistik. A tentu saja paling mendominasi isi pembicaraan. B sering terpekur merenungi kata-kata A, lalu mengemukakan pendapatnya dengan wajah setengah bingung dan setengah tercerahkan. C sedikit-sedikit mengikuti obrolan di bawah rindang sebuah pohon tua itu, ia masih sering terbawa pikirannya sendiri tentang hal-hal baru yang ingin dicobanya di kota ini, atau ingatan akan masa-masa SMU yang baru saja ditinggalkannya.
“Menurutku lingusitik itu matematikanya bahasa,” kata B dengan wajah yang serius.
“Maksudnya? Matematika itu kan juga bahasa. Ada lho yang namanya bahasa matematika!” B bingung,seperti ingin mengungkapkan sesuatu tetapi hanya tertahan di bibirnya yang setengah terbuka dan tidak merah juga tidak basah. C ingin bertanya tentang ia yang pernah mendengar lagu tentang bahasa cinta dan tentang apakah itu termasuk bahasa. Tetapi diurungkannya.
“Pokoknya ya, seperti matematika, ada rumus-rumusnya, tabel-tabel, grafik, rumit gitulah,” B bicara lagi.
“Matematika?” C bertanya dalam gumaman, ia teringat akan angka-angka dan jam-jam belajar yang panjang ketika ia harus mengerjakan soal-soal cerita.
“Sebenarnya hal apa saja punya sisi matematisnya, atau bisa dimatematikakan. Ada seorangĀ filsuf yang menulis karya yang berisi persamaan-persamaan matematika. Menurut para pakar, karya itu mengenai filsafat tentang kehidupan dalam bentuk atau sistem-sistem matematika. Tulisan itu terus dibahas sampai sekarang,”A menjelaskan. B dan C sama-sama menjadi tertarik.
“Gini…ah, ntar lihat di catatanku dulu. Ah, ini dia!” A lalu mengeluarkan sebuah buku catatan usang dengan sampul plastik tebal penuh stiker dan di dalamnya bertumpuk kertas-kertas yang agak terlipat-lipat, terlihat cukup semrawut. A membuka-buka buku itu dengan hati-hati, seperti seorang petapa membuka gulungan naskah suci, sekaligus penuh rasa memiliki seperti seorang petualang membuka peta perjalanannya.
“Begini, biar aku cerita sedikit tentang yang aku tahu soal Linguistik dan soal pontang-pantingnya aku waktu mempelajarinya.”
Babak II
A mulai bertutur tentang Linguistik. Ia bercerita dengan cara yang biasa, sedikit menarik mungkin. Kadang melupakan satu-dua patah kata atau istilah, diam sebentar dan memeriksanya dalam kitab kumalnya itu. A bercerita tentang potongan-potongan sepak-terjang dan keberadaan Linguistik, sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan tentunya. Cerita yang dibawakan itu merupakan hasil dari usahanya dalam mengumpulkan bahan-bahan tentang Linguistik. Bagian usahanya mempelajari bidang itu. A bukan tipe mahasiswa yang bisa berangkat dari huruf a sampai ke huruf d tanpa melewati huruf b, dan c. Ia bisa digolongkan dalam jenis pelajar yang harus memakai cara yang bertahap dalam mempelajari sesuatu: b setelah a, dan sesudah itu c, dengan harapan bisa sampai ke d. Tetapi itu pun tidak selalu lancar, kadang ia bisa hanya berputar-putar antara b dan c. Bertanya-tanya dari mana, sudah di mana, dan hendak ke mana. Intinya, cerita itu harus dikonfirmasi lagi. Bisa saja memiliki pertentangan sendiri di dalamnya. Cerita dari kitab kumal si A itu adalah gabungan dari kertas-kertas fotokopi-an buku-buku perpustakaan kampus, artikel-artikel dari internet yang dicetak, dan catatan-catatan tangan yang dibuatnya saat mengikuti kuliah, serta hasil pemikiran-pemikirannya sendiri. Begitu bertambal sulamnya. Seolah-olah dirinya sendiri diwakili di situ.
“Mari mulai dengan apa itu Linguistik,” A bicara dengan gaya seolah membuka sebuah ritual.
Menurut cerita A itu, Linguistik berarti ‘ilmu bahasa’. Ilmu bahasa adalah ilmu yang objeknya bahasa. Begitu, bukan? Bahasa di sini maksudnya adalah bahasa yang digunakan sehari-hari, atau fenomen lingual. Karena bahasa dijadikan objek keilmuan, maka ia mengalami pengkhususan: hanya yang dianggap relevan saja yang diperhatikan atau disarikan. Jadi, yang diteliti dalam Linguistik, atau ilmu bahasa, adalah bahasa sehari-hari yang sudah disarikan. Dengan demikian, anggukan, dehem-an, dan semacamnya bukan termasuk objek yang diteliti dalam ilmu linguistik.
“Jadi suara orang bersiul tidak termasuk objek penelitiannya, ya?” tanya C.
A agak tertegun sebentar, lalu mengangguk dengan pasti. C hanya tersenyum dalam hati, berarti belum cukup pintar para pakar linguistik itu, pikirnya dengan bangga dalam hati juga. A bercerita lagi bahwa, berdasarkan sejarahnya, Linguistik modern berasal dari Ferdinand de Saussure, yang membedakan langue, langage, dan parole. Langue adalah bahasa sebagai suatu sistem, seperti bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, misalnya. Langage berarti bahasa sebagai sifat khas manusia, sedangkan parole adalah bahasa sebagaimana dipakai secara konkret.
“Itu menurut Verhaar,” kata A. Ia lalu bercerita lagi bahwa, menurut ahli lain, Robins, langue merupakan struktur leksikal, gramatikal, dan fonologis sebuah bahasa. Struktur ini sudah tertanam dalam pikiran penutur asli pada masa kanak-kanak sebagai hasil kolektif masyarakat bahasa yang dibayangkan sebagai suatu kesatuan supraindividual. Dalam menggunakan bahasanya, penutur bisa berbicara di dalam lingkup langue ini; apa yang sebenarnya diucapkannya adalah parole, dan satu-satunya kendali yang dapat dia atur adalah kapan dia harus berbicara dan apa yang harus ia bicarakan. Kaidah leksikal, gramatikal, dan fonologis telah dikuasai dan dipakai, dan kaidah tersebut menentukan ruang lingkup pilihan yang dapat dibuat oleh penutur.
A menambahkan bahwa pembedaan ini persis seperti apa yang dibuat oleh seorang tokoh Linguistik, Chomsky: competence (apa yang secara intuisi diketahui penutur tentang bahasanya) dan performance (apa yang dilakukan penutur ketika dia menggunakan bahasanya).
Ia berhenti sebentar, dan menyebutkan sumber dari bahan ceritanya itu: sebuah blog milik seorang pemerhati Linguistik.
“Yang punya namanya Ninazki.”
“Orang luar semua, ya?” tanya C.
“Iya, kalau Indonesia gimana, ada juga, ya?” B ikut bertanya.
“Indonesia? Maksud kalian tokoh Linguistiknya? Sabar, aku cek dulu. Ah ini ada! Ini artikel tentang perkembangan Linguistik di Indonesia hingga akhir tahun 90an.”
A membuka sebuah kertas yang terlipat di beberapa bagian tepinya. Ia lalu membacakan isinya. Isi artikel itu adalah sejarah kiprah Lingustik di Indonesia. Teori linguistik di Indonesia banyak dipengaruhi oleh Linguistik Barat (Eropa-Amerika) karena dari sanalah banyak linguis Indonesia belajar. Secara umum, perkembangan Linguistik di Indonesia dapat dibagi ke dalam beberapa periode.
Di tahun 1940an sampai akhir abad 20 yang disebut tata bahasa adalah ‘kelas kata’, sehingga buku-buku tata bahasa banyak mengulas tentang hal tersebut. Buku-buku tata bahasa itu banyak mendapat pengaruh dari tata bahasa tradisional model Yunani dan Latin. Beberapa buku tata bahasa tertua tentang bahasa Melayu antara lain, Grondt of te Kort Bericht van de Maleysche Tale, Vervat in Twee Deelen: Her Eerste handelende van de Letters ende haren aenhanh. Het andere van de deelen eener Redene (1653) karya Joannes Roman. Buku ini digunakan sebagai sarana misionaris Kristen guna menerjemakan Injil. Buku-buku yang lain, Bustanulkatibin (1850) dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1858/1929) karangan Raja Ali Haji, seorang sastrawan dan linguis asal Riau, Kitab jang Menyatakan Djalan Bahasa Melajoe (1910) karya Koewatin Sasrasoeganda, Maleische Spraakkunst (1915) karya Ch. A van Ophuysen, yang menggunakan pendekatan filologi, dan Kitab ABC karangan Lim Kim Hok yang berisi tata bahasa Melayu Rendah yang pada saat itu merupakan lingua franca.
Pada periode tahun 40an sampai 60an, karya-karya kebahasaan dapat dibagi atas tata bahasa pedagogis (digunakan untuk pengajaran bahasa Indonesia di sekolah) dan tata bahasa teoretis. Contoh karya-karya pedagogis seperti Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1949-1950) karya Sutan Takdir Alisyahbana, yang banyak berpengaruh pada pengajaran bahasa Indonesia, dan Tata Bahasa Indonesia (1951) karya A. Mees, Djalan Bahasa Indonesia (1942) karya Sutan M. Zain. Di masa ini penelitian linguistik yang bersifat ilmiah dan teoretis belum berkembang pesat, namun beberapa buku berusaha mengungkap sisi lain bahasa Indonesia secara ilmiah, misalnya: Mencari Sendi Baru Tata Bahasa Indonesia (1950) karya Armin Pane, yang menekankan aspek bunyi, Inleiding tot de Studie van de Indonesische Syntaxis (1951) yang diterjemahkan menjadi Pengantar Sintaksis Bahasa Indonesia, sebuah buku karya Fokker yang mendapat pengaruh dari aliran Praha, dan Kaidah Bahasa Indonesia (1956-1957) karya Slametmuljana, yang bersifat generatif.
“Pedagogis? Teoritis? Aliran Praha?” C bertanya dengan beberapa kerut di keningnya.
“Wah, itu ada lagi ceritanya. Jadi…” A mulai membongkar lagi bukunya, namun matanya sempat menangkap kilatan jenuh di mata kedua temannya. Ia sadar. Penjelasan tentang pertanyaan C tidak ia lanjutkan. Lalu dengan cukup yakin ia membuka sebuah halaman dari bukunya itu.
“Begini saja, soal sejarah itu hanya soal kuat-kuatnya kalian mencari dan mengumpulkan data saja. Kalian lebih dari sanggup untuk hal itu. Sekarang, aku akan cerita saja sedikit lagi tentang kenapa Linguistik itu penting. Sip?”
Dan kilatan-kilatan jenuh itu pun agak meredup.
Babak III
Ketiga orang itu merenung setelah pembicaraan yang bagi mereka cukup panjang itu. Perenungan mereka menjadi lebih dalam setelah A memaparkan beberapa hal yang diketahuinya tentang peran Linguistik, khususnya dalam bidang pengajaran bahasa. Paparan pun diambil dari esai seorang tokoh linguistik Indonesia, Harimurti Kridalaksana, pada salah satu esainya yang berjudul Linggusitik Sebagai Landasan Pengajaran Bahasa (di zaman itu ejaan ‘Linguistik’ adalah ‘Lingguistik’). Tulisan itu dibuka dengan pernyataan bahwa kemampuan berbahasa Indonesia kebanyakan orang Indonesia sangat kurang. Penyebab utamanya adalah kegagalan pengajaran bahasa di sekolah-sekolah, khususnya tata bahasa. Kegagalan ini terletak pada kesalahan metodik dan kesalahan dasar linguistis dari bahasa yang diajarkan. Akarnya ada pada buku tata bahasa pertama yang dibuat tentang bahasa Melayu, yang kebanyakan penulisnya adalah orang Belanda. Para ahli itu menerapkan kerangka tata bahasa Latin dan Yunani kuno pada penelitiannya karena yakin bahwa kerangka itu bersifat universal. Pada kenyataannya, struktur Bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa nusantara sangat berlainan dengan kerangka tersebut. Selanjutnya, karena sudah ada model bagi penguraian bahasa itu, para ahli bahasa tidak pernah berusaha meneliti secara mendalam sifat-sifat Bahasa Indonesia itu sendiri. Para pengarang tata bahasa itu menyusun kaidah-kaidah Bahasa Indonesia secara arbitrer; aturan-aturan itu tidak berdasarkan pada apa yang sebenarnya hidup dalam masyarakat Bahasa Indonesia, sehingga tata bahasa yang tersusun bukannya bersifat empiris melainkan spekulatif.
“Begitulah yang tertuang di dalam esainya Kridalaksana. Kukutip langsung dari tulisannya. Nih, ini, nih,” kata A sambil menunjuk isi bukunya.
“Jadi?” tanya B.
“Jadi? Oh, jadi…ya jadi, peran Linguistik cukup besar. Bisa dibilang vital dalam urusan pengajaran dan pelajaran bahasa. Ini aku bacakan lagi: Linguistik bertugas untuk menguraikan, menganalisis dan menyajikan hasil analisis, struktur, dan cara bekerja sesuatu bahasa yang dipakai masyarakat bahasa tertentu. Struktur bahasa adalah pola-pola yang, dalam tiap-tiap tingkat, dipelajari oleh cabang-cabang linguistik, seperti fonologi (fonetik dan fonemik),morfologi, sintaksis, dan leksikon; morfologi dan sintaksis, wah nama-nama yang akrab nih di fakultas kita,” A menutup penjelasannya dengan wajah tersenyum.
B setengah tersenyum membayangkan masa-masa yang telah dilewatinya dengan nama-nama itu. C memiringkan kepalanya sedikit,membayangkan apasaja yang akan terjadi dengan dia dan nama-nama yang baru didengarnya itu.
“Begitulah, teman-teman,” A berbicara dengan warna wajah seorang begawan yang baru saja membagi kebijaksanaan-kebijaksanaannya. “Linguistik itu memiliki hubungan langsung yang cukup menentukan terhadap kehidupan nyata kita, yaitu masalah kebahasaan. Contohnya, soal pengajaran bahasa tadi. Kalau tidak ada ahli Linguistik dari negeri kita sendiri yang piawai, maka nanti urusan kebahasaan kita diurus oleh orang dari bangsa lain. Dan bisa saja mereka memaksa aturan-aturan yang sebenarnya tidak sesuai untuk bahasa kita.” Lanjutnya, “Kita bisa disetir oleh mereka, kalau dari soal bahasa saja sudah begitu maka soal-soal yang lain bisa kena caplok juga.”
B mengangguk-angguk dengan wajah serius. Sedangkan C merasa aneh perihal kenapa kedua kakak angkatannya itu begitu serius soal bangsa-negara dan hal-hal global itu. Menurutnya, semua akan baik-baik saja walau pun sarapan pagi yang disantap olehnya atau semua orang di negeri ini sudah didikte oleh orang-orang asing.
“Masalahnya, menurutku, Linguistik selama ini seolah sibuk sendiri dengan soal-soal teori di atas kertasnya. Yah,menara gading gitulah,” B berpendapat.
“Itu adalah karakter dari yang namanya cabang ilmu. Ambil contoh filsafat, yang sering disebut menara gading, terasing dari kenyataan dan kehidupan manusia yang jadi objeknya. Bila kita lihat lagi ke belakang, filasafat di masa lalu adalah cara hidup yang dianut secara serius. Sekte-sekte tertentu mencipatakan aliran filsafat mereka sendiri dan hidup sesuai jalan filsafat yang mereka yakini itu. Jadi, paham kan maksud perbandinganku?” A menjelaskan.
“Sepertinya, aku perlu belajar banyak lagi. Masalahnya, dosenku sendiri pernah bilang kalau Linguistik di negara kita sudah ketinggalan lebih dari 20 tahun dibandingkan dengan negara lain,” kata B.
“Aku juga pernah dengar tentang itu. Tetapi kita kan tidak harus berpatokan pada kampus saja. Masih ada media-media lain yang membuka kesempatan untuk belajar. Ya, meskipun kuliah di kampus kita sudah membayar dan seyogyanya mendapat sesuai dengan yang seharusnya kita dapatkan, tetapi toh persamaan pandangan tentang pembelajaran linguistik yang paling ideal masih belum tercipta di lingkungan perkuliahan kita,” A berbicara dengan tenang meski sebenarnya merasa terjebak dalam karakter begawan yang entah kenapa dimainkannya.
“Mungkin karena tidak ada yang mau peduli, baik yang belajar maupun yang mengajar?” C bicara setelah lama diam.
“Bisa jadi. Masalahnya, mereka yang pintar kebanyakan akan terus mengikuti tujuan-tujuan akademis pribadinya, sedangkan yang IQ-nya pas-pasan atau yang sedikit butuh usaha ekstra biasanya cenderung hanya akan mempelajarinya untuk bisa lulus ujian. Habis, gimana lagi? Susah sih!” kata B.
“Asal jangan termakan mitos soal susah itu. Kalau sudah begitu nanti malah jadi harga mati, bentuk pasti, buntu, seolah-olah tidak ada jalan lain lagi atau kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa dibentuk,” A berbicara sambil menatap ke arah tanah dengan mata kosong.
Epilog
A dan B merenung lagi dalam diam, mata mereka menerawang seperti serdadu dalam perang yang tengah merencanakan sebuah serangan balasan. C terlihat lebih serius tetapi lebih tenang dari dua orang itu. Entah kenapa ia merasa tidak terlalu rugi mengikuti pembicaraan itu.
Setelah lama diam, lalu mereka bangkit berdiri. A membereskan kitabnya dan memasukannya ke dalam tas. Kemudian ketiga orang itu lalu saling berpamitan dan meninggalkan panggung kayu itu. Mereka pergi dengan kepala masing-masing yang penuh pikiran.
Apapun yang akan mereka lakukan, mari berharap bahwa semoga itu semua dilakukan dengan cinta. Karena seorang penyair pernah berkata, “Hanya cinta yang dapat membuat kita bertahan. Semoga ia benar. Semoga.
disadur dari banyak sumber oleh:
Armando Soriano
(Penggambar Komik LIDAHIBU)

