remy sylado
28 Oktober, 2009 | | Kategori: Ragam, Tokoh BahasaOleh Gideon Widyatmoko
Pengantar Redaksi: Pembaca yang berbahagia, setelah
berkali-kali menghadirkan informasi tentang para ahli bahasa bergelar linguis, kali ini rubrik Tokoh Bahasa kembali mengajak pembaca untuk mengenal seorang ahli bahasa bergelar munsyi. Tokoh kita yang satu ini bukan sembarang orang. Beliau adalah penyair, novelis, pelaku serta pengamat musik, film, dan teater, dan munsyi yang juga penulis buku Bahasa Menunjukkan Bangsa. Selamat membaca.
***
Sewaktu duduk di bangku SMA dulu, Mustafa sangat terpikat dengan novel Ca Bau Kan yang habis dibacanya dalam 2 hari. Ceritanya yang sangat enak untuk diikuti seperti menghipnotis Mustafa untuk terus membaca. Setelah membaca Ca Bau Kan, Mustafa mulai mencari buku-buku karya sang penulis Ca Bau Kan, Remy Sylado. Lalu siapakah sebenarnya Remy Sylado?
Remy Sylado terlahir dengan nama Yapi Panda Abdiel Tambayong pada 12 Juli 1945 di Makassar, Sulawesi Selatan. Walaupun terlahir di Makassar, beliau menghabiskan masa kecilnya di Solo dan Semarang, entah karena terpikat oleh keindahan pulau Jawa atau kesempatan yang ditawarkan Jawa. Awal karir beliau diawali di Semarang dengan menjadi wartawan untuk majalah Tempo pada tahun 1965. Hebat sekali, usia 20 tahun beliau sudah menjadi wartawan majalah yang terkenal pada saat itu. Tetapi menjadi wartawan di usia muda memang harus penuh kerja keras. Untung beliau sudah terbiasa menulis sejak usia 18. Awalnya juga hanya menulis puisi, lalu sajak, cerpen, hingga, seiring berjalan waktu, beliau menulis kritik, novel, drama, esai, roman popular, sampai menulis buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Wow, hebat sekali beliau bisa menertibkan dirinya untuk terus menulis dan menulis dan menulis.
Walaupun Mustafa lebih mengenal Remy Sylado melalui novel, ternyata beliau ini berkecimpung di banyak bidang, salah satunya adalah sinematografi. Beliau banyak belajar dan tahu tentang perfilman. Sejak usia 26 tahun, beliau sudah menjadi dosen di Akademi Sinematografi Bandung. Beliau juga pernah (mungkin masih) mengajar di Institut Teater dan Film. Tidak hanya sekedar mengajar saja, beliau juga menulis naskah untuk film “Duo Kribo”. Selain itu beliau juga sering main film dan sinetron. Bahkan, pada tahun 2003 beliau diganjar predikat ‘Aktor Terpuji’ di Festival Film Bandung untuk aktingnya dalam “Bintang Idola”. Nah, yang paling baru nih, di tahun 2009 beliau menjadi penyunting film “Capres: Calo Presiden”, film yang beredar untuk menyambut PEMILU 2009.
Lalu, bidang yang lainnya adalah bidang Musik. Merasa prihatin dengan musik pop yang sepertinya tidak menuju ke arah kecerdasan, beliau membuat dua buah album dengan judul ‘Orexas’ dan ‘Remy Sylado Company’. Dalam album keduanya, Remy Sylado menyanyikan Puisi Mbeling dalam irama rock danĀ country. Sepertinya ini adalah rekaman yang seru sekali. Namun, kalau hendak mencari rekaman itu mungkin sedikit sulit, ya. Maklum, album itu dulu beredar sewaktu Chrisye dan Eros masih bersinar sangat benderang, saat Remy Sylado berusia sekitar 30 tahun. Lama sekali. Sayang sekali pemasarannya tidak begitu baik sehingga penjualannya tidak mampu mengalahkan Chrisye. Jika ada anaknongkrong yang memiliki kaset Remy Sylado harap beritahu Musafa karena Mustafa juga ingin mendengarkan.
Setelah bidang musik dan film, Remy Sylado juga mahir melukis. Tetapi yang lebih Mustafa anggap menarik adalah peran beliau dalam bidang Bahasa. Sejak membaca Ca Bau Kan saja Mustafa sudah yakin bahwa kemampuan berbahasanya sangat dahsyat! Dalam novel-novelnya, beliau banyak menggunakan kata yang sudah lama tidak muncul dan sedikit dipergunakan oleh khalayak kini. Kemampuan itu beliau dapatkan tidak lain dan tidak bukan atas kemauannya menilik ulang arsip nasional yang sudah berusia uzur dan melakukan riset yang tidak mudah dan singkat. Dan pastinya juga karena beliau mau terus belajar.
Selain Remy Sylado, beliau juga memiliki banyak nama samaran lain. Nah, untuk bidang bahasa beliau biasanya lebih dikenal dengan nama Alif Danya Munsyi. Anaknongkrong LIDAHIBU pastinya sudah mengenal lema munsyi, kan? Kiprah Yapi Tambayong alias Remy Sylado alias Alif Danya Munsyi dalam jagad kebahasaan di Indonesia ditandai dengan makalah-makalahnya yang banyak disampaikan pada masyarakat bahasa Indonesia lewat berbagai seminar dan lokakarya. Kumpulan makalah itu kini dapat kita baca dalam buku Bahasa Menunjukkan Bangsa. Selain itu, beliau juga menunjukkan kepiawaian yang cergas dalam bidang etimologi di sebuah buku berjudul 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing. Dan Mustafa harus jujur dengan mengatakan bahwa kedua buku tersebut adalah buku bahasa yang sangat enak untuk dibaca, seperti juga novel-novelnya. Bukan kekakuan yang terbaca, tetapi kesegaran yang didapat.

