sekilas pragmatik

28 Oktober, 2009 | Edisi: | Kategori: Kultukal

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

Salam! Apa kabar, kawan-kawan semua? Padat-merayap atau ramai-lancar? Ha-ha-ha. Lebaran kali ini, lewat mudik-nya, memang membawa serta istilah-istilah permudikan yang menarik dan, menurut encik dosen, berdaya-cipta yang mantap. Pastinya ada dari kawan-kawan yang turut bermudik-ria. Mungkin, di tengah arus perjalanan pulang kampong itu, pernah tersua jenis percakapan semacam ini: (A) “Bisa sampai rumah tepat waktu, nggak?” - (B) “Aih, Pantura padat-merayap!”

Bila kita perhatikan baik-baik, ada kejanggalan yang muncul dalam percakapan barusan: jawaban yang diberikan oleh B terkesan tidak nyambung. Tapi, bila kedua penutur itu saling paham akan konteks pembicaraan mereka, jawaban B sebenarnya dapat dinilai berhasil menjawab pertanyaan A. Lho, kok bisa? Fenomena bahasa apa ini? Adakah cabang Linguistik yang dapat menyediakan alat kaji untuk gejala seperti ini? Jawabannya: ada! Namanya Pragmatik. Mari kita bahas secara ringkas dalam tujuh kalimat yang menjadi kuliah kita di rubrik Kultukal edisi #7 ini.

[1] Pragmatik adalah cabang Linguistik yang mengkaji makna sebagaimana dituturkan oleh pewicara atau makna sebagaimana ditafsirkan oleh pendengar.

[2] Karenanya, yang kita mengerti sebagai makna pragmatik adalah makna seperti yang dimaksud oleh sipembuat tuturan, bukan makna yang dimaksud oleh kata atau frasa dari tuturan itu sendiri.

[3] Maka, mengacu pada contoh percakapan di atas, B sesungguhnya menyatakan bahwa “[d]ia tidak bisa sampai tepat waktu karena jalur yang dilaluinya untuk pulang ke rumah, Jalur Pantura, sedang macet” (bayangkan betapa banyak makna yang diwakili hanya oleh 3 ekspresi saja: aih, Pantura, dan padat-merayap).

[4] Konteks kemudian memiliki peran yang sangat menonjol dalam Pragmatik karena konteks sangat mempengaruhi kemungkinan makna.

[5] Dalam Pragmatik, jumlah kata yang diucapkan tidak semerta menentukan ‘jumlah’ makna karena banyak sekali makna lain yang tersembunyi di balik jumlah kata yang minim tersebut.

[6] Analisis atas kedekatan, baik secara ragawi, sosial, maupun konseptual antara pewicara dan lawan bicaranya juga memainkan peranan penting dalam kajian Pragmatik.

[7] Asal tahu saja, semakin erat hubungan kedekatan seseorang dengan lawan bicaranya, semakin sedikit pula kata yang dibutuhkannya untuk menyampaikan pesan.

Nah, itu sedikit maklumat tentang cabang Linguistik yang sangat menarik dan menggairahkan ini. Di lain waktu, encik akan bercerita lebih dalam lagi tentang unsur-unsur yang maktub dalam Pragmatik. Sampai berjumpa. Dirgahayu!

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar