Semantik
28 Oktober, 2009 | | Kategori: KultukalDirgahayu! Tak terasa, pembahasan cakupan inti dalam Linguistik umum hampir mendekati titik ‘akhir’. Namun tidak perlu sedih, pembahasan kali ini bukanlah yang terakhir. Setelah berkenalan dengan fonetik, fonologi, morfologi, dan sintaksis, cakupan apa lagi yang harus dibahas? Tentu saja semantik! Apakah hal tersebut akan sangat memerdekakan? Atau hanya akan membuat kita menyesal karena telah mengenal bahasa?
Kita mulai saja kuliah tujuh kalimat kita kali ini.
1. Secara etimologis, semantik berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata benda sema ‘tanda’ dan kata kerja semaino ‘makna’, jadi semantik berarti ‘ilmu tentang makna’
2. Dengan mempelajari semantik, kita akan mengetahui mengapa sebuah kata atau susunan kalimat dapat bergabung dalam satu susunan makna yang tepat, dan mengapa tidak demikian dengan susunan lainnya, misalnya kalimat Adik perempuan saya adalah seorang duda dianggap tidak tepat, sedangkan kalimat Adik perempuan saya adalah seorang janda dianggap tepat (kalimat sebelumnya secara sintaksis dianggap tepat, namun tidak tepat secara semantik).
3. Selain itu, Semantik juga akan mempelajari mengapa seseorang yang menguasai bahasa sanggup mengenali frasa atau kalimat tertentu yang mempunyai persamaan makna, bagaimana cara mereka mengenalinya dan juga bagaimana seseorang sanggup menggunakan sebuah konteks dalam penafsiran kalimat.
4. Hal tentang makna pada akhirnya akan selalu berhubungan dengan makna kata, atau lebih tepatnya, makna dari item leksikal. seperti dalam contoh kalimat sebelumnya (*Adik perempuan saya adalah seorang duda) yang memperlihatkan bahwa kita harus mengetahui makna dari adik perempuan dan duda untuk mengetahui mengapa susunan tersebut tidak tepat.
5. Semantik juga memberikan semacam tingkatan makna, yaitu makna netral, positif, dan negatif, misalnya seseorang yang mengatakan tempat tinggalnya sebagai rumah memperlihatkan bahwa orang tersebut menggunakan makna netral (istana adalah makna positifnya, dan gubuk adalah makna negatifnya).
6. Semantik juga memainkan peran besar dalam penerjemahan karena pada dasarnya makna kata dalam satu bahasa tidak akan selalu berhubungan atau sama dengan kata dari bahasa lain, walaupun tetap saja muncul yang disebut “ketimpangan makna terjemahan”, contohnya sister dalam bahasa Inggris bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi kakak perempuan atau adik perempuan.
7. Semantik juga mencakup sejumlah istilah yang sekiranya sudah galib, misalnya homonim, polisemi, sinonim, antonim, dan hiponim.
Nah, usai sudah tujuh kalimat untuk Anda sekalian. Encik dosen harap, Anda tidak mengartikan secara semantik kata-kata encik tentang kuliah Linguistik kita yang sudah mendekati titik akhir. Kuliah-kuliah ini mungkin tidak akan pernah berakhir karena akan selalu ada gejala kebahasaan yang dapat kita kuliahkan. Salam!
